
“Kakimu sudah diberi mata masih saja tak melihatku disini,” kesal Geroge setelah bangkit dari tidur tengkurapnya yang terganggu akibat kepalanya ditendang oleh seseorang.
“Sejak kapan mata kaki bisa untuk melihat!” Gabby tersenyum sinis. “Salah kau sendiri tiduran disini bukannya di kamar,” imbuhnya.
Wanita itu hendak melenggang tanpa rasa bersalah meninggalkan George.
“Berhenti!” cegah Geroge dengan suara lantangnya.
Gabby berbalik menatap pria tampan nan rupawan itu. “Apa?”
“Temani aku,” pinta George dengan suara lirihnya, pria itu sedikit malu mengatakannya, bahkan enggan untuk menatap netra indah milik Gabby. Namun ia tak ingin duduk sendirian seperti orang kesepian tak memiliki teman.
“Apa? Kau ini bicara yang lantang, aku mana dengar kau berbisik begitu.” Gabby melipat kedua tangannya di dada, menatap George penuh keangkuhan.
“Temani aku.” George mengulangi ucapannya dengan suara yang lebih lantang dan langsung menarik paksa Gabby untuk duduk di tempatnya merebahkan diri tadi.
Masa bodoh dengan gengsi, lagi pula dia tak mungkin jatuh cinta dengan seorang wanita yang galak, kasar, tak ada kelembutan sedikitpun. Jauh sekali dari wanita idamannya yang penuh perhatian dan kelembutan dengan pasangan.
__ADS_1
...........
Davis setia menemani istrinya, tidur di samping wanita yang sudah memenuhi hampir seluruh relung hatinya. Wanita itu berhasil menggeser kedudukan Gwen sang juara hati selama satu dekade. Setelah kejadian Diora tak sadarkan diri, ia baru menyadari bahwa dalam lubuk hatinya telah mencintai Diora. Sebab, ia tak ingin kehilangan wanita itu. Tak akan pernah rela kehilangan wanita yang ia cintai untuk kedua kalinya.
Lalu Gwen? Wanita itu tetap ada di sudut hati Davis, ia tak mungkin melupakan seseorang yang setia menemaninya ketika susah.
“Bangunlah ... aku kesepian disini,” ujarnya seraya mengelap seluruh tubuh Diora. Membersihkan dengan penuh cinta dan kasih sayang.
“Kita bahkan belum membuat panggilan sayang,” selorohnya. Tangannya dengan telaten mengganti pakaian istrinya.
“Kau ingin ku panggil apa?” tanyanya dengan sangat lembut. Menyisir rambut halus Diora dengan jari-jarinya yang kokoh.
Davis mencium kening, kedua pipi, dan bibir istrinya sebelum merebahkan tubuhnya tepat di samping Diora. Memeluk penuh cinta wanita itu.
“Kenapa kau tak kesal, aku memintamu memanggilku itu?” Tatapan matanya kini tersirat jelas kesedihan.
“Biasanya kau kesal jika aku goda.” Mencubit pelan pipi tirus istrinya.
__ADS_1
“Kau tak bertanya alasanku ingin dipanggil My Love?” Jarinya kini bermain-main di hidung mancung bak perosotan itu.
“Karena aku ingin kau mencintaiku, sebab aku sudah mencintaimu.” Ia mengangkat sedikit kepala Diora, lalu memposisikan tangannya sebagai bantal.
“Bukankah kau senang telah menang taruhan?” Masih mencoba membuat istrinya agar terbangun dengan memberikan sentuhan-sentuhan lainnya.
Pria itu sudah seperti orang tak waras, sudah dua jam lamanya ia berbicara, bertanya, dan menjawab sendiri.
“Bangunlah ... kau ingin memberiku hukuman apa?” tanyanya.
“Apa? Kau meminta hukuman untuk membuatkanmu anak?” selorohnya.
“Ayuk dengan senang hati aku akan membuatnya denganmu.”
Gagal, usahanya membangunkan istrinya dari tidur panjangnya gagal. Niat hati ingin menggoda agar wanita cantik itu akan terbangun. Namun tak ada respon apapun.
Davis menghembuskan nafasnya. Masih setia memeluk dan membelai rambut istrinya.
__ADS_1
“Apa kau tak kasian denganku? Hidupku telah lama sendiri, sebatang kara tak memiliki keluarga ... kini aku menemukan secercah kebahagiaan darimu, tapi kau meninggalkan diriku sendiri ... apa kau tak terlalu jahat padaku?” Ia mencium kening istrinya dalam-dalam, tak terasa lelehan air mata jatuh membasahi kening Diora. Untuk pertama kalinya, pria itu menangis lagi setelah kepergian orang tuanya.