My Rich Husband

My Rich Husband
Part 142


__ADS_3

Davis segera duduk di samping Diora, menarik kursi istrinya agar mendekat dengannya. Tangannya ia rangkulkan pada pundak wanita yang ia cintai itu. Namun matanya menatap tajam ke arah pria yang tak diharapkan kedatangannya.


Diora terus menelisik raut wajah suaminya yang begitu tenang namun terlihat jelas jika urat-urat wajah tampan itu tengah menegang. Lalu ia beralih melihat ekspresi Danzel yang terlihat tenang juga namun sorot matanya seolah ada sesuatu yang disembunyikan.


“Lihat terus ke arahku! Aku tak mengijinkanmu menatap pria lain!” titah Davis segera memalingkan wajah Diora agar menatapnya.


Davis tak suka jika istrinya duduk bersama pria lain, terlebih itu adalah mantan kekasih yang sengaja ia pisahkan. Apa lagi Diora menatap ke arah pria itu.


“Ada apa kau kemari!” Davis mengajukan pertanyaan, namun terdengar seperti gertakan.


“Aku hanya menyapa Diora dan ingin memberikan selamat padanya atas pernikahan kalian, karena saat itu aku tak dapat mengikutinya hingga selesai.” Danzel mengutarakan maksudnya dengan jujur, meskipun ia sangat ingin mengatakan kebenaran bahwa dalang dibalik peristiwanya saat itu adalah Davis, tapi ia urungkan mengingat tatapan Davis pada Diora juga penuh cinta, dan tatapan Diora ke Davis pun sama.


“Kau sudah dengar? Pria ini memberikan selamat pada kita,” Nada bicara yang tadinya penuh emosi ketika berbicara dengan Danzel, mendadak melembut ketika bertanya pada Diora.


“Sudah, terima kasih.” Diora hendak menatap Danzel ketika mengatakannya sebagaimana etika ketika berbicara yaitu menatap lawan bicaranya. Namun tangan kekar suaminya langsung menahan wajahnya.


“Kau sudah mendengarnya? Pergilah! Urusanmu dengan kita sudah selesai,” usir Davis tak ingin Danzel terlalu lama disana. Namun sedetik kemudian ia mengendus sesuatu yang tak sedap. “Jika kau tak suka dengan kami, jangan membuang kentutmu sembarangan, baunya sangat mengganggu, kau merusak selera makanku!” hardiknya.


“Aku pria terhormat yang tahu tata krama dan sopan santun, mana mungkin aku mengeluarkan gas perutku di tempat umum seperti ini. Meskipun aku memang belum sepenuhnya rela dengan hubungan kalian, tapi aku tak seperti yang kau tuduhkan! Mungkin kaulah yang melakukannya untuk mengusirku.” Danzel balik menuduh, sebab dirinya tak melakukan itu.


“Emm, My Love.” Diora hendak bicara namun tak diijinkan oleh suaminya.

__ADS_1


“Diam, aku tak mengijinkanmu bicara.”


Pret ...


Suara bom lokal yang bisa saja membuat dua pria berseteru itu pingsan akibat bau dahsyat keluar dari bagian belakang Diora.


Diora nampak malu bukan kepayang, ia menggigit bibir bawahnya karena kentut yang ia tahan malah lolos begitu saja akibat perutnya sangat melilit dan tak tertahankan. Tadi ia hendak bilang kepada suaminya jika dirinya ingin ke toilet, namun suaminya tak mengijinkannya berbicara dan semakin mempererat rangkulannya. Bahkan tangan satunya digunakan untuk menggenggam erat tangannya.


“Maaf, aku harus ke toilet,” pamit Diora dengan terburu-buru karena hajatnya sudah diujung tanduk. Beruntung ia masih bisa menahan hingga ke toilet sehingga tak berceceran ketika ia berlari.


Davis dan Danzel menatap kepergian Diora.


“Jangan menatap istriku!” seru Davis.


“Sudah mantan saja bangga!” Davis tak mau kalah.


“Istri hasil merebut dengan cara licik saja bangga!” Danzel pun tak mau kalah juga.


Davis terdiam sebentar, bagaimana pria itu tahu kelicikannya. Tak mungkin dari tiga orang yang mengetahui tentang itu memberitahu. “Oh ... jadi kau sudah tahu.” Davis mencoba biasa saja menanggapinya.


“Kau tak takut jika aku memberitahu Diora tentang ini?” Danzel mencoba memancing Davis.

__ADS_1


“Untuk apa takut? Diora sudah menjadi milikku seutuhnya dan dia sedang hamil.” Meskipun Davis tak yakin jika istrinya tengah mengandung, namun dengan jawaban itu akan membuktikan bahwa dia dan Diora tak akan terpisahkan.


“Selamat.” Danzel tersenyum getir ketika mengucapkannya, seharusnya dirinyalah yang menjadi pendamping hidup Diora jika saja Davis tak datang diantara hubungannya. “Jaga mereka baik-baik, jangan menyakitinya, jika kau sudah bosan dan tak mencintainya lagi, aku dengan senang hati menerima jandanya.”


“Itu tak akan pernah terjadi, aku akan selalu mencintainya dan menjaganya sampai kapanpun!” Davis mengatakannya penuh keyakinan.


Danzel tersenyum, sudah cukup membuktikan kesungguhan Davis. “Aku tak akan mengganggu kebahagiaan kalian, asalkan kau bisa berjanji akan selalu membuat Diora bahagia,” pintanya.


“Tak perlu kau minta, aku akan melakukannya.”


“Aku pergi, semoga kalian selalu bahagia, dan cobalah kau mengatakan dengan jujur perbuatanmu dimasa lalu, aku yakin Diora akan memaafkanmu karena ia sedang mengandung, daripada ada orang lain yang mengatakannya akan membuatnya sangat kecewa.” Danzel memperingati. Ia menarik gugatan Eliana pada pihak berwajib, sebab mama Eliana sungguh jatuh sakit ketika Eliana dijemput paksa oleh polisi di Poulanka. Hal itu sudah ia pastikan, sehingga ia tak tega memasukkan Eliana ke jeruji besi. Lagipula ia sudah terbukti tak bersalah dan tak harus mempertanggungjawabkan perbuatan yang tak ia perbuat.


“Ya, pergilah.”


Danzel pun pergi meninggalkan restoran itu, bersamaan dengan waiters mengantarkan pesanan makanan dan minuman.


“Loh sudah pergi?” cicit Diora ketika ia sudah kembali duduk.


“Kenapa? Apa kau merindukannya?” Tatapan tajam dilayangkan Davis untuk istrinya.


“Mana mungkin aku merindukannya, sedangkan suamiku ada disini.” Bibir Diora menuntun ke arah pipi Davis memberikan kecupan sekilas agar suaminya itu tak marah-marah. “Ayo makan, aku sudah sangat lapar.”

__ADS_1


Mereka pun makan, Davis hanya melihat istrinya itu melahap dengan sangat rakus, bahkan porsinya pun sangat banyak tak seperti biasanya. Ia hanya mengalah ketika seluruh hidangan dihabiskan semua oleh Diora. Bahkan istrinya lupa untuk menyuapinya. Davis pun memilih memesan lagi makanan untuk dia makan.


__ADS_2