My Rich Husband

My Rich Husband
Part 140


__ADS_3

“Tiga sampai enam bulan lagi, tapi semoga perkiraan itu salah,” terang Lord.


“Aku ingin memberikan kenangan bahagia Diora dan mamanya, sebelum Tuhan memanggil dan berkata ‘saatnya pulang’, setiap hari minggu kita berlibur,” pinta Davis.


“Aku tak setuju jika berlibur, kondisi Natalie mudah lelah, bisa memperburuk kesehatannya,” tolak Lord.


“Terserah kau saja bagaimana baiknya, yang jelas satu minggu sekali biarkan mereka bertemu melepas rindu.”


“Bagaimana jika aku membeli penthouse di samping unitmu? Agar Natalie tak terlalu lelah diperjalanan jika akan bertemu Diora? Dan mereka bisa bertemu setiap saat.” Lord menanyakan pendapat pada Davis.


“Asal Diora tak akan tahu kondisi mamanya yang sesungguhnya tak masalah bagiku, yang utama adalah mereka bahagia,” jelas Davis. “Jika kau ingin tinggal disamping unitku, aku akan membelikannya untuk kalian sebagai hadiah pernikahan,” imbuhnya. “Jadi, kapan pernikahan akan dilangsungkan?”


“Tiga hari lagi, aku sudah mendaftarkannya di kantor catatan sipil.”


Davis mengangguk mengerti. Sudah puas mereka berbicara, dua pria itu pun berniat kembali masuk ke dalam penthouse.


Langkah mereka terhenti bersamaan ketika mata elangnya melihat pemandangan ibu dan anak yang terlihat begitu bahagia saling bermanja.


Ada rasa nyeri di dada Davis dan Lord.


Mengapa sekenario Tuhan begitu memilukan untuk kedua wanita itu. Setelah sekian lama tak bertemu, mengapa mereka harus siap untuk terpisah lagi suatu saat nanti jika waktunya tiba. Tak bisakah Tuhan berbaik hati sedikit saja setelah cobaan yang begitu berat telah mereka lalui.


Cukup lama Davis dan Lord memandangi Diora dan Natalie. Mereka tak ingin mengganggu kebersamaan itu.

__ADS_1


Uhuk ... uhuk ...


Natalie nampak terbatuk-batuk, Lord dan Davis segera bergegas dengan langkah panjang mereka untuk ke sofa.


“Mama sakit?” Diora nampak panik, sebab wajah Natalie begitu pucat dan matanya sayu.


“Mungkin karena ac nya terlalu dingin.” Lord buru-buru menjawab dan merengkuh Natalie. “Kami pulang dulu, harus mempersiapkan untuk pernikahan,” kilahnya. Jika terlalu lama berada disana dan Natalie tak segera istirahat dan minum obat, pasti kondisinya akan semakin memburuk ditambah Diora akan tahu yang sesungguhnya.


“Ya, berhati-hatilah.” Davis mempersilahkan, tak menunggu jawaban dari Diora. Ia tahu situasi apa yang sedang dihadapi saat ini.


Natalie dan Lord pun pergi meninggalkan penthouse Davis.


“Sepertinya mamaku sakit, ayo kita susul mereka,” ajak Diora dengan menarik paksa lengan suaminya.


“Katamu mall tutup sedang ada unjuk rasa,” protes Diora. Wanita itu masih ingat saja apa yang diucapkan suaminya, membuat Davis lagi-lagi harus mencari alasan.


“Itukan tadi, sekarang bisa jadi sudah buka,” kilah Davis. “Bersiaplah!” titahnya penuh penekanan dan tak ingin dibantah. Ia segera bangkit dan menggendong istrinya untuk berganti pakaian.


...........


Sepanjang perjalanan, Davis menggandeng tangan Diora. Bahkan di dalam mall pun ia tak melepaskan tautan itu. Terlihat begitu posesif sekali pria itu.


“Berikan aku ponsel keluaran terbaru dan termahal,” titah Davis setelah mereka memasuki store salah satu brand ternama yang terkenal dengan logo salah satu buah-buahan.

__ADS_1


Karyawan toko itu langsung mengambil benda yang dimaksud. “Ini, tuan.” Menyodorkan sebuah kotak kecil ponsel keluaran terbaru.


“Kecil sekali kotaknya,” celetuk Diora membolak-balikkan kotak itu. Karyawan perempuan yang melayaninya hanya tersenyum kecil menanggapinya.


Davis segera memberikan black card untuk membayar.


“Tolong settingkan sekalian,” titah Davis pada karyawan.


Karyawan itu pun membuka plastik segel dan segera mengeluarkan ponselnya.


Diora hanya mengamati proses unboxing itu. “Apa ini? Masa beli ponsel baru tak ada kepala cargernya dan tak dapat earphone?” Ia memprotes setelah melihat hanya ada satu buah ponsel yang terlihat sangat canggih dan kabel usb saja. “Coba ku lihat struknya.” Ia segera mengambil kertas pembayaran yang berada di tangan Davis. “Astaga ... lima ribu euro? Dan yang didapatkan hanya itu saja? Ini namanya penipuan!” Ia tak terima, dirinya merasa uang yang dikeluarkan tak sebanding dengan apa yang diterima.


“Kita membeli kecanggihan ponselnya bukan carger dan earphonenya, itu bisa kita beli terpisah.” Davis mencoba menjelaskan pada istrinya yang tak tahu perkembangan pergadgetan, ponsel yang dibanting olehnya saja keluaran lima tahun yang lalu. “Berikan aku carger yang menggunakan wireless dan earpod,” pintanya pada karyawan.


Davis mengajak Diora keluar dari store itu setelah mendapatkan apa yang mereka mau.


“Aku ke toilet sebentar,” ijin Davis lalu meninggalkan Diora sendirian.


“Diora?”


Merasa dipanggil, Diora pun mengalihkan pandangannya pada sumber suara.


“Danzel?”

__ADS_1


__ADS_2