My Rich Husband

My Rich Husband
Part 45


__ADS_3

Selain terkenal dengan menara eiffelnya, kota Paris juga dikenal sebagai kota mode dan seni. Kota yang melahirkan desainer ternama di seluruh Paris dan terkenal di dunia. Kota ini dinobatkan sebagai tempat paling modis di dunia.


Di sinilah mereka saat ini, sebuah bangunan bercat putih dengan desain yang sangat elegan dan mewah. Di luarnya terdapat tulisan bertuliskan Valentine Gauthier.


Banyak pajangan manekin dengan berbagai desain gaun yang indah. Baik gaun pendek maupun yang menjuntai hingga ke lantai, semuanya terpampang nyata di depan matanya. Gaun sangat berkelas dengan price tag fantastis, hanya bisa Diora lihat di internet saja. Kini ia dapat melihat langsung aslinya.


Diora diam terpaku memandangi semua yang membuatnya terpukau. Ia tahu sedang berada dimana saat ini. Sebuah butik ternama di Paris yang sangat terkenal. Desainernya merupakan salah satu idolanya dibidang perdesainan, meskipun ia dibidang arsitektur namun ia menyukai segala seni desain. Termasuk desain fashion.


“Selamat datang tuan Davis,” sapa seorang wanita cantik, anggun, modis, dan elegan. ia mengulurkan tangannya sebagai ucapan salam.


“Terima kasih nona Valen,” balas Davis membalas uluran tangan sebentar, lalu menarik kembali tangannya.


Mata Diora membulat sempurna, ia merasa sedang bermimpi bisa bertemu langsung dengan idolanya. Ia merasa dirinya kini berada di surga.


“Ini calon istrimu?” tanya Valentine menunjuk Diora.

__ADS_1


“Ya, perkenalkan namanya Diora.” Davis melingkarkan tangannya pada pundak Diora.


“Sangat cantik, ternyata kau pandai juga mencari calon istri,” seloroh Valentine. Ia mendekati Diora, memeluk dan memberikan sapa cipika cipiki pada wanita yang masih mematung tak percaya itu.


“Apakah aku bermimpi? Tolong cubit aku,” kelakar Diora masih tak mengedipkan matanya.


Cup


Sebuah kecupan mendarat pada bibir Diora. Tentu saja dari pria yang tak pernah permisi jika akan melakukan sesuatu, melakukan semua seenak jidatnya.


“Aku hanya menyadarkanmu dari mimpimu,” kilah Davis. Memasukkan kedua tangannya pada saku celananya.


“Aku kan bilang untuk mencubitku, bukan menciumku.” Diora mengerucutkan bibirnya, melipat kedua tangannya di dada dan memalingkan wajahnya agar tak dipandang terus oleh Davis.


“Jika aku mencubitmu akan sakit. Lebih baik aku menciummu, mungkin kau akan ketagihan,” goda Davis ingin membuat Diora kesal.

__ADS_1


Valentine yang melihat perdebatan mereka hanya tersenyum dan bergeleng kepala. Sungguh pasangan yang lucu baginya.


“Ayo ikut aku,” ajak Valentine. Ia menggandeng tangan Diora untuk membimbingnya menuju sebuah ruangan khusus.


Lagi-lagi Diora dibuat takjub dengan gaun yang berada di hadapannya saat ini. Ada tiga gaun dengan gaya yang berbeda-beda. Semuanya di desain khusus atas permintaan Davis.


Karena tak tahu desain apa yang cocok untuk Diora, Davis meminta Valentine membuat seluruh gaun dari model yg sudah didesainnya. Memudahkannya menilai mana yang cocok dengan dicoba secara langsung oleh Diora jika sudah ada bentuk aslinya.


“Gaun mana yang akan dicoba dulu?” tanya Valentine pada Davis.


“Nomor tiga,” jawab Davis memilih gaun indah berwarna putih dengan bagian bawah yang mekar serta menjuntai hingga ke lantai dan lengan sebahu tak menutupi sempurna bagian dadanya.


Valentine pun mengambilkan gaun yang dipilih dan memberikannya pada Diora untuk dipakai.


“Bagaimana?” Valentine bertanya pendapat, setelah membuka gorden panjang dan memperlihatkan Diora dengan gaun nomor tiga.

__ADS_1


“Tidak buruk,” cicit Davis tanpa ekspresi, memandang lekat Diora yang terlihat sangat cantik baginya.


__ADS_2