
“Bayi di dalam kandungannya harus segera dikeluarkan, tuan. Jika tidak, maka tak akan ada yang selamat.” Dokter itu menjelaskan kondisi Diora.
“Lakukan! Tak perduli berapapun biayanya akan aku bayar, asal semuanya selamat,” pinta Davis.
“Ada satu masalah lagi, tuan. Istri anda mengalami pendarahan dan butuh donor darah. Kebetulan golongan darahnya sangat langka. Mungkin ada anggota keluarganya yang memiliki golongan darah sama?”
Davis melirik ke arah Lord seolah bertanya, ‘kau papanya, pasti darahmu sama’. Namun Lord wajahnya nampak pias.
Lord yang mengetahui arti tatapan menantunya itu menghembuskan nafasnya kasar dan menggeleng pelan. “Darahku sama, tapi sudah ku campur dengan darah Natalie. Aku tak tega membiarkannya menderita atas kesalahanku sendirian, aku memilih merasakannya juga. Agar adil,” lirihnya menjelaskan.
“Shit!” umpat Davis mengusap kasar wajahnya.
Artinya Lord juga mengidap HIV. Semakin dibuat bingung Davis. Harus kemana ia mencari pendonor darah dengan golongan yang langka.
“Dok, tolong bantu carikan, berapapun kau minta, aku akan berikan,” pinta Davis.
“Saya akan melakukan semaksimal mungkin, saya akan mengecek stok di rumah sakit terlebih dahulu, tuan. Permisi.” Dokter itu segera pergi.
“Argh ....” Davis nampak frustasi. Tembok rumah sakit menjadi sasarannya.
“Gabby, dia juga memiliki darah yang sama.”
“Dia pergi entah kemana!” Davis nampak murka mengatakannya. Mungkin Gabby adalah harapan satu-satunya mereka.
“Aku akan mencoba mencarinya lagi.” George langsung pergi begitu saja. Ia yakin jika Gabby pasti masih berada di Finlandia. Sebab tak ada perjalanan atas nama Gabby selama sembilan bulan terakhir ini.
Dua puluh menit kemudian. Dokter kembali membawa kabar gembira. “Ada yang bersedia mendonorkan darahnya tuan, kebetulan sama.” Tiga kantung berisi cairan merah sudah dibawa olehnya.
Davis, Lord, dan Natalie bisa bernafas lega sekarang.
“Kami akan melakukan operasi sekarang juga. Apakah suaminya ingin menemani untuk memberikan semangat?” tanya Dokter.
Davis mengangguk. Ia pun mengikuti brankar Diora yang dibawa masuk ke dalam ruang operasi.
__ADS_1
“Bertahanlah, kau pasti bisa melewatinya.” Davis membisikkannya ditelinga istrinya. Tangannya terus menggenggam erat Diora. Ciuman bertubi-tubi ia berikan istrinya yang masih terpejam.
Suara tangis bayi pun mulai menggema di ruang operasi itu. Davis menangis haru mendengar suara itu. Ada rasa bahagia bercampur kesedihan dalam dirinya.
“Selamat, bayi pertama laki-laki.”
“Bayi kedua laki-laki.”
“Bayi ketiga laki-laki.”
“Bayi keempat perempuan.”
Semua anak dalam perut Diora yang sudah dikandung selama sembilan bulan akhirnya terlahir semua ke dunia.
“Semuanya sehat, tuan. Kami akan membawanya ke ruang inkubator.” Empat perawat segera membawa bayi-bayi itu setelah Davis mengecup anak-anaknya.
Diora langsung dipindahkan ke ruang rawat setelah selesai operasi caesar. Wanita itu masih belum sadarkan diri. Diperkirakan esok baru akan membuka matanya.
Lord dan Natalie berpamitan setelah melihat keempat cucu mereka dan kondisi Diora. Mereka akan kembali lagi esok hari.
...........
Keesokan harinya, Diora mulai membuka matanya. Ia meraba perutnya yang sudah tak membesar lagi.
“Anakku, dimana anakku?” Diora panik, ingatannya melayang ketika dirinya tergelincir akibat lantai toilet yang basah. Ia sudah berfikiran yang tidak-tidak.
Davis yang tertidur di samping Diora langsung bangun setelah mendengar teriakan istrinya. “Tenanglah, anak-anak kita baik-baik saja.” Membelai rambut halus dan wangi itu dengan lembut.
“Dimana anakku?”
“Ada, sebentar lagi akan kemari.”
Tak lama, empat perawat masing-masing mendorong inkubator bayi. Dibelakangnya ada Lord dan Natalie.
__ADS_1
“Selamat, atas kelahirannya.” Lord dan Natalie mengucapkannya bersamaan.
Wajah panik Diora langsung berubah bahagia setelah melihat keempat malaikat mungilnya. “Terima kasih, aku ingin menggendong mereka.”
“Boleh.” Perawat yang ingin menggendong bayi itu sudah disela oleh Davis.
“Biar aku saja yang menggendongnya.” Davis langsung menggendong satu persatu anaknya dan di dekatkan ke Mommynya.
Pintu pun dibuka kembali, kini Gabby dan Georgelah yang masuk. Semua mata tertuju pada sosok wanita yang lama menghilang ditelan bumi.
“Kau kemana saja?” Diora langsung menghardik sahabatnya.
“Hanya menenangkan diri,” jawab Gabby santai. Matanya menatap keempat bayi mungil. “Anak-anakmu lucu, selamat.”
“Terima kasih, kau jangan menghilang lagi.”
Gabby hanya menjawab dengan senyuman. “Siapa nama mereka?”
Diora bingung, sebab ia belum menyiapkan nama untuk anak-anaknya. Ditatap wajah tampan suaminya. “Kita beri nama siapa anak-anak kita?”
“Anak pertama Danesh artinya pengetahuan dan kebijaksanaan, kedua Dariush salah satu raja Persia, ketiga Delavar artinya berani, keempat Deavenny artinya hebat. Semuanya akan menggunakan nama belakang Doris Dominique.” Davis mengucapkannya seraya tangannya mengendong menunjukkan urutan anaknya lalu menidurkan kembali ke inkubator.
“Nama yang bagus.” Semua berucap secara bersamaan.
Kebahagiaan Davis pun sudah lengkap sekarang. Istri yang sangat ia cintai, ditambah keempat anaknya yang lucu.
Kebahagiaan itu juga dirasakan Lord dan Natalie yang masih diberikan waktu oleh Tuhan untuk melihat cucu-cucu mereka lahir di dunia.
Geroge dan Gabby? Entah seperti apa hubungan mereka.
“Terima kasih sudah menjadi istri dan Mommy untuk anak-anakku.” Davis mencium kening istrinya dalam-dalam. “Aku mencintaimu, sangat.”
Diora membalas ciuman suaminya, namun di bibir. “Aku juga mencintaimu, sangat.”
__ADS_1
Kehadiran Diora mampu merubah Davis yang arogan menjadi sangat penyayang dan wanita itulah yang mampu mengendalikan sifat buruk suaminya.
Kehidupan cinta keduanya begitu banyak masalah yang dialami, namun akhirnya kebahagiaan pun datang bersamaan dengan keempat buah hati.