
“Apa kau pernah melihat aku merubah keputusanku?” Gabby balik melayangkan pertanyaan pada sahabatnya.
Diora nampak mengingat lagi selama ia berteman dengan Gabby. Tak pernah sekalipun wanita itu merubah pendiriannya, jika tidak maka artinya tidak. Wanita itu cukup keras kepala berkat didikan papanya.
“Tidak.” Diora menggelengkan kepalanya.
“Yasudah, artinya aku tak akan pernah menikah dan berhubungan dengan pria manapun,” tegas Gabby.
“Kau jangan membenci semua pria hanya karena satu orang.” Diora mencoba memberikan nasihat pada Gabby.
“Ah sudahlah, jika kalian masih ingin mendoktrin pikiranku agar aku mau menjalin hubungan dengan pria, maka hentikan! Kalian mengeluarkan tenaga yang percuma.” Gabby berdiri dari duduknya. “Aku pulang dulu.” Ia berpamitan, memilih keluar karena tak suka dihardik dan seolah sedang didesak agar mau menikah.
Diora dan Natalie hanya bisa memandang punggung Gabby yang sudah diambang pintu. Mereka tak bisa berbuat apapun, sebab wajah Gabby sudah merah padam terlihat jelas sedang emosi.
Bertepatan dengan Gabby membuka pintu, ketiga pria yang satu jam lalu keluar itu datang.
“Mau kemana?” tanya Lordeus.
“Pulang!” Gabby enggan menatap papanya, ia terus saja berjalan.
__ADS_1
Lordeus yang sudah biasa dengan sifat anaknya itu tak ambil pusing, ia tahu pasti anaknya sudah dibuat emosi oleh dua wanita yang masih menatap kearah pintu.
“Dia kenapa?” Lord memilih menanyakan alasan Gabby marah kepada Diora dan Natalie.
Yang ditanya malah mengedikkan bahunya. Mereka sendiri juga bingung. Diora lebih memilih menceritakan percakapan mereka.
“Kalian jangan mengusik Gabby, biarkan saja dia memilih, kita hanya butuh membantunya saja, anakku itu memang sangat keras kepala dan sulit untuk dirubah pendiriannya. Aku yang mengajarinya agar tak mudah dipermainkan oleh orang lain,” jelas Lord setelah paham penyebabnya. “Dan kau, George.”
Lordeus membalikkan badannya. “Loh! Dimana bocah itu?” Ternyata yang dicari sudah tak ada di belakang mereka.
“Tadi di belakangku,” jawab Davis, ia acuh karena sudah tahu pasti sahabatnya itu menyusul Gabby dan ia memilih langsung duduk di samping Diora. Ia hendak memegang tangan istrinya namun ditepis. Ia hanya bisa menghela nafasnya.
“Biarkan saja dia, sudah besar juga tahu jalan pulang,” kelakar Davis. “Iya kan, My Wife?” Masih mencoba mencari pembenaran kepada istrinya.
Lagi-lagi Diora tak memperdulikan suaminya, biarkan saja pria itu terus merasa bersalah.
“Ehem ....” Lord berdehem sejenak untuk menetralkan dirinya.
Dadanya mendadak berdegub kencang karena gugup ingin berkata jujur dengan Diora. Keringat dingin bahkan mulai keluar dari telapak tangannya. Ini lebih menegangkan daripada berhadapan dengan musuhnya.
__ADS_1
Perlahan Lord melangkah maju ke depan. Menghela nafasnya dalam-dalam, lalu dihembuskan lagi. Seperti itu terus hingga jantungnya mulai normal kembali.
“Diora?” Lord mencoba memanggil nama anaknya.
Diora yang sedang melengos agar tak melihat suaminya pun mengalihkan pandangannya ke sumber suara.
“Ya?” Wanita itu mengernyit. “Kenapa wajah papa tegang sekali?”
Lord tertegun, ia mencoba mengulas senyuman agar terlihat lebih rileks.
“Wajahku memang seperti ini.” Kata-kata yang sudah disiapkan oleh Lord mendadak menguap.
Davis yang melihatnya langsung memberikan kode dengan sorot matanya agar Lord segera berbicara dan juga seolah meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia sudah tak sabar melihat Lord terkena imbas ibu hamil juga.
Lord yang mengerti maksud menantunya itu mulai memberanikan diri untuk mengatakan.
“Aku ingin mengatakan sesuatu hal yang penting denganmu.”
“Apa?”
__ADS_1
“Bagaimana jika aku adalah orang tua kandungmu?”