
“Selamat tinggal kekasihku,” lirih Diora tersenyum kecut sebelum keluar.
Diora pergi meninggalkan kamar hotel yang sudah berhasil menorehkan luka di hatinya itu. Kepergiannya tak disadari oleh orang tua Danzel dan Gabby yang tengah menghakimi rubah betina dan mantan kekasihnya.
Davis melihat kepergian Diora, langsung beranjak dari ruangan yang sedari tadi digunakan untuk mengintai.
“Saatnya menjalankan misi kedua,” ujar Davis dengan seringai liciknya. Ia tak sadar jika obsesinya sudah menyakiti banyak orang.
“Kau yakin akan melakukan itu?” tanya George mensejajarkan langkah kakinya.
“Tentu saja,” jawab Davis.
“Itu akan membahayakan Diora jika dia sedang sangat tak fokus,” celetuk George membuat Davis menatapnya.
“Bukankah kau sudah mengaturnya dengan sangat detail,” tukas Davis tak mau tahu, rangkaian misinya untuk mendapatkan Diora harus berhasil.
“Aku hanya memastikan saja dengan kesungguhanmu,” kelakar George tak ingin diremehkan. “Apa kau tidak sayang dengan Bugatti La Voiture Noire yang baru kau beli tiga hari lalu?” tanyanya.
__ADS_1
“Aku memang membelinya untuk ini,” jawab Davis enteng. Seakan membeli mobil seperti membeli kacang saja.
Mereka berjalan menuju basement, namun sengaja melewati kamar dimana Danzel berada. Kamar dengan pintu yang sedikit terbuka itu memperlihatkan sebuah adegan penganiayaan penuh emosi.
“Salah siapa dia menjadi kekasih Diora,” sinis Davis ketika berhenti sejenak di depan kamar itu.
“Malang sekali nasib mereka harus berurusan dengan pria yang sudah terobsesi cinta,” gumam George sambil bergeleng kepala.
...........
“Mungkin dia bukanlah jodohku,” lirih Diora. Ia menginjak pedal gas lalu keluar meninggalkan hotel melajukan mobilnya di jalanan Kota Helsinki dengan kecepatan yang tak biasa.
“Arghhhh ...,” teriak Diora. “Sakit sekali rasanya,” rintihnya memukul dadanya yang terasa sesak.
“Apakah patah hati sesakit ini,” gumam Diora yang tak pernah merasakan sakit hati akibat cinta.
“Kenapa aku tidak menikah dengan El sedari dulu,” desahnya. “Pasti tidak akan terjadi seperti ini,” dialognya dengan diri sendiri.
__ADS_1
“Arghhh ... bodoh kau bodoh Diora,” rutuknya untuk diri sendiri. Memukul kepalanya sendiri setelah menyadari keputusannya untuk tak menikah sebelum tamat pendidikan di perguruan tingginya.
Padahal ia dapat dengan mudah langsung menikah dengan Danzel, tak ada yang menghalangi hubungannya. Bahkan tak perlu diragukan lagi kebaikan keluarga Pattinson dengannya. Dengan latar belakang keluarga yang jauh dari kata harmonis, orang tua Danzel menerimanya dengan sangat baik.
Jalanan yang sepi membuat Diora lebih mengencangkan kecepatan mobilnya, tak memperdulikan jalan yang tertutup salju tipis. Tak mempertimbangkan keselamatan dirinya jika mobil akan tergelincir nantinya.
Terus berteriak merutuki kebodohannya, menghakimi dirinya sendiri. Mungkin akan membuatnya sedikit lega, sebab matanya sudah sangat sembab dan sepertinya tak dapat mengeluarkan air mata lagi.
“Aku harus kemana? Aku tak ingin pulang, pasti Gabby, Danzel, dan orang tuanya akan mendatangiku,” bingungnya tak ada tujuan.
Disaat ia bingung akan kemana, dering ponsel berbunyi nyaring di dalam mobil yang melaju kencang itu.
“Dimana ponselku?” Diora melihat sekitar mobil mencari ponselnya. “Ah iya di dalam tasku.” Ia baru teringat, ternyata banyak menangis membuatnya lupa akan barang yang selalu wajib dibawa itu. Ia tak mengambil ponselnya karena sudah tidak berbunyi lagi.
Namun beberapa menit kemudian ponselnya berbunyi lagi, sudah panggilan ketiga.
“Siapa yang menelfon,” gumamnya. Hendak mengambil ponsel di dalam tasnya. Namun naas, sebelum berhasil mengambil ponselnya ia mengalami kecelakaan.
__ADS_1