
Davis mendengus kesal, kenapa tak sedari awal pintunya dibuka otomatis jika memang bisa. Mengapa harus membuang waktu lama dan nyaris gagal rencananya. Ingin rasanya mengumpankan sahabatnya itu ke lautan yang berisi hiu agar menjadi santapan lezat ikan laut ganas.
Pintu akhirnya dibuka secara otomatis dengan wireless yang tersambung di iPad George. Membuat keempat makhluk hidup yang berencana untuk meninggalkan lokasi target pun melihat ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka.
Glek ...
Susah payah Megan menelan salivanya. Hanya bisa berharap semoga yang ia lihat dari pesan misterius tidaklah benar.
Namun harapan hanyalah harapan, nyatanya pesan itu benar adanya. Dapat dilihat dengan jelas dari jarak mereka berdiri, ada wanita yang tengah berurai air mata menangis tanpa suara. Hanya tertutupi bed covers putih, di sampingnya ada seorang pria yang masih asik terlelap.
“Danzel!” pekik orang tua Danzel.
“Rubah betina!” berang Gabby penuh emosi.
Sedangkan Diora diam mematung memandangi seseorang yang selalu berada di hatinya selama dua tahun, tengah asik tidur di samping wanita yang mengaku dirinya Diora palsu.
__ADS_1
Tak bisa dijabarkan apa yang kini Diora rasakan, yang pasti hatinya tersayat pilu. Ingin tak mempercayai orang sebaik Danzel melakukan hal yang diluar batas bahkan bisa dikatakan berselingkuh. Tapi bukti kuat terpampang nyata di depan matanya.
“Bangun kau anak tidak tahu diri!” Berang Megan setelah masuk bersama suaminya meninggalkan Diora dan Gabby yang masih di luar. Ia pukul kepala manusia yang masih terlelap itu dengan heels sangat keras.
“Awww,” pekik Danzel. Nampak bingung dengan situasi yang berada di sekitarnya setelah ia membuka mata. Mengapa ada orang tuanya di ruangan yang ia fikir apartemennya, begitulah fikirnya belum penuh kesadaran.
“Apa yang kau perbuat Danzel Pattinson!” raung Megan penuh penekanan. Nafasnya sangat memburu bersama dengan emosi yang sepanas lava.
“Aku hanya tidur mom,” jawab Danzel belum tahu situasi panas yang ia hadapi.
“Mom aku tidur sendiri.” Mengucek matanya yang masih sedikit buram akibat langsung duduk setelah mendapatkan ciuman heels berwarna merah.
Plakk ...
“Salahku apa?” tanya Danzel tidak sengaja membentak daddynya yang memberikan tamparan keras.
__ADS_1
“Lihat!” Marlin Menunjuk Eliana yang menunduk dengan linangan air mata tanpa suara rintihan isak tangis. “Jelaskan!” Aura membunuh berkobar dari tubuh pria paruh baya itu, siap menghajar putranya sendiri karena sudah menyakiti wanita dengan predikat calon menantu idamannya.
“Kau siapa?” tanya Danzel bingung setelah pandangan matanya mengikuti arah jari daddynya.
Danzel memang selalu melupakan orang yang tidak penting dan tidak berguna dalam hidupnya, sehingga dia tidak ingat dengan Eliana yang pernah memohon untuk membantu menjadi pasangan di acara salah satu saudara Eliana.
Bukannya menjawab, Eliana malah menangis mengeluarkan suara isakan.
“Katakan kau siapa!” bentak Danzel.
“A ... aku Eliana,” jawabnya masih memegangi kain putih itu agar tak melorot.
“Apa yang kalian lakukan di kamar hotel ini?” Pertanyaan yang terdengar tegas dari bibir Marlin. Masih mencoba menahan amarahnya, jika wanita itu bukan seseorang yang baru direnggut mahkotanya maka itu tak akan menjadi masalah besar. Tapi jika kebalikannya, maka masalah besar akan terjadi.
“Aku tidak melakukan apapun mom, dad ... aku tidak ingat apapun semalam,” terang Danzel setelah sadar dengan situasinya dan memang ia tak mengingat apapun semalam setelah bertemu client.
__ADS_1
Sedangkan Gabby masih memeluk Diora menenangkan wanita yang sedang retak hatinya.