
“Ini gaun terakhir ... jika kau tak suka dari salah satu gaun itu, maka aku tak bisa membuatkan gaun ulang dalam waktu semalam,” ujar Valentine sembari menunggu Diora selesai berganti.
Davis tak menjawabnya, ia hanya menunggu gorden berwarna gold itu dibuka dan memperlihatkan wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Gorden pun di buka, terlihat Diora dengan gaun putih yang sangat ketat bagian atasnya dan bagian bawahnya yang sedikit longgar, tak lupa ekor gaunnya yang sangat panjang. Gaun tanpa lengan itu memperlihatkan punggung dan bagian dada atas Diora yang putih mulus.
“Cantik.” Davis terpukau, hingga tak sadar dirinya sudah berjalan mendekati Diora.
Valentine tersenyum puas, akhirnya gaun terakhir bisa membuat terpukau clientnya yang sangat banyak permintaan itu.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Diora ketika Davis sudah berdiri di hadapannya, memandangnya penuh damba.
“Memandangmu,” sahut Davis tersenyum penuh arti, berjalan mengitari Diora yang menatapnya sedikit risih.
“Keluarlah, aku akan berganti pakaian,” usir Diora tak suka dengan tatapan Davis untuknya.
__ADS_1
Davis mengibaskan tangannya pada karyawan Valentine untuk meninggalkan dirinya berdua dengan Diora. Karyawan itu paham betul apa yang diinginkan clientnya. Mereka keluar dan menutup gorden, meninggalkan sepasang calon suami istri itu.
“Aku akan membantumu berganti,” bisik Davis tepat di telinga Diora. Membuat bulu kuduk Diora meremang.
Davis memeluk Diora dari belakang, mencurukkan kepalanya di pundak mulus yang menggugah hasratnya. “Kau cantik,” pujinya dengan nada sensual di telinga Diora dan menjilat telinga yang memerah itu.
Tubuh Diora menegang, badannya seperti tersengat gelenyar aneh yang tak pernah ia rasakan selama ini. Hembusan nafas Davis yang hangat menerjang kulit lehernya, membuat sesuatu di bawah sana berkedut hanya mendengar suara sensual tepat di telinganya.
Perlahan Davis membantu menurunkan ritsleting gaun Diora. Matanya dipenuhi dengan hasrat yang lama tak pernah ia salurkan, ketika punggung mulus Diora terpampang nyata di depannya. Tangannya mengelus pundak itu dengan halus, memberikan kecupan dan meninggalkan jejak merah di punggung mulus Diora.
Namun Diora langsung menghilangkan fikiran nakalnya yang mulai liar. Ia mulai sadar situasi apa yang dirasakannya sekarang. Ia pun membuka matanya dan tersenyum penuh arti.
Diora membalikkan badannya untuk menatap wajah Davis. Melingkarkan tangannya pada leher pria bertubuh kekar itu. Ia tatap wajah Davis dengan tatapan yang menginginkan lebih.
Namun sedetik kemudian, senyum jahil terukir jelas di wajah cantik Diora. Davis sudah terbakar dengan situasi yang diciptakan olehnya sendiri, hingga tak dapat mengartikan senyum dari Diora. Ia hanya melihat bahwa Diora mendambanya menginginkan lebih.
__ADS_1
Dug ...
Diora menendang kejantanan milik Davis yang mengeras dengan lututnya. Membuat Davis mengerang kesakitan.
“Shit!” umpat Davis. Memegang bagian bawahnya yang sakit.
“Rasakan kau,” ejek Diora menjulurkan lidah, tersenyum puas karena berhasil membalas perbuatan Davis yang membuatnya kesal.
Diora langsung berlari menuju sebuah ruangan kecil untuk melepaskan gaunnya sembari memegangi bagian atas gaun yang sudah terbuka bagian belakangnya agar tak melorot ke bawah.
“Ternyata kau pintar megecoh,” puji Davis disela kesakitannya.
...........
“Kau kenapa?” tanya Diora pura-pura tidak terjadi apapun dengan mereka. Melihat wajah Davis yang menahan rasa sakit, ketika Valentine memberikan setelan tuxedo untuk dicoba pria yang sudah ia kerjai itu. Terlihat jelas bahwa Davis sedang menjaga imagenya agar tetap terlihat angkuh.
__ADS_1
Davis tak menjawab pertanyaan Diora, ia hanya menatap Diora dengan arti 'awas! akan aku balas kau'.