
Diora memutar otaknya untuk berfikir. Tidak ingin terjadi pertumpahan darah akibat kesalahannya. Lebih tepatnya kesalahan yang sengaja dibuat untuk dirinya.
Masih sengit perdebatan Davis dengan para pengendara yang semakin banyak dan mengerumuni mereka.
“Apakah aku harus melakukan adegan seperti pada novel yang sering aku baca tentang pria arogan persis dirinya,” gumam Diora, mendapatkan ide dari salah satu adegan yang selalu ada pada novel karakter tokoh utama pria arogan. “Tidak ....” Ia menggelengkan kepala. “Tapi hanya adegan si wanita memeluk pria arogan untuk membuatnya tidak marah lagi ... ah astaga ... aku tidak tahu harus berbuat apa, aku tak pernah berurusan dengan pria arogan seperti dirinya,” dialognya dengan diri sendiri.
“Coba saja kau lakukan,” celetuk George yang mendengar perkataan Diora.
“Apa kau gila? Mana mungkin aku memeluknya,” tolak Diora. Ia mengerucutkan bibirnya kesal.
Kau saja pernah memeluknya dengan kulit saling bersentuhan. Ingin rasanya George mengatakan itu, tapi melihat sikap Diora yang sepertinya lupa jika pernah memberikan pertolongan berupa pelukan hangat kepada sahabatnya, ia tak jadi mengatakan langsung dan hanya berucap dalam hatinya.
__ADS_1
“Terserah kau, akan ku pastikan setelah ini dia sungguh menembak orang itu,” ujar George menakuti. Menunjuk pria bertubuh gendut dengan dagunya yang sedang dibantu pengendara lain untuk menepis pistol.
“Hishh ....” Diora mengatupkan gigi atas bawahnya.
“Demi dewa neptunus aku terpaksa melakukan adegan dalam novel,” kelakar Diora, menengadahkan kepalanya menatap langit meminta persetujuan semesta. “Semoga berhasil,” harapnya. Namun tak juga melangkahkan kaki, masih ada rasa ragu pada dirinya.
“Kau terlalu lama berfikir!” cela George. “Langsung saja kau peluk dia, berhasil tidaknya kau fikir belakang,” sarannya tanpa menatap Diora, ia asyik melihat perdebatan Davis. “Jika kau tak melakukannya sekarang, dan membuatnya menembak seseorang ... kau yang akan menanggungnya.” Ia menunjuk Diora dengan tatapan dingin.
“Masa bodohlah dengan urat malu, daripada aku harus menanggungnya,” lirih Diora.
Dengan langkah cepat, Diora mendekati Davis. Lalu memeluk dari arah depan. Membenamkan tubuhnya yang setinggi dada Davis pada tubuh kekar itu.
__ADS_1
“Sayang ... ku mohon hentikan, aku takut,” ujar Diora lembut, tanpa sadar mengucapkan kata sayang akibat menirukan dialog salah satu karakter tokoh novel yang dia baca dan terngiang di otaknya.
Reflek tangan sebelah kiri Davis memegang punggung Diora untuk membalas pelukannya, sedangkan tangan kanannya masih memegang pistol.
“Jangan takut, ada aku,” cicit Davis. Mengelus punggung tertutup jaket itu. “Lihat! Kalian membuatnya takut,” berangnya menunjuk kerumunan orang yang riuh menyalahkan dirinya dengan tangan kanannya.
*Kau yang membuatku takut dasar pria arogan *... Sial! Apakah ini tidak berhasil. Gerutu Diora dalam hati.
“Kita pergi saja dari sini,” pinta Diora mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan Davis yang terlihat garang.
“Aku belum memberi mereka pelajaran karena sudah menantangku,” tolak Davis, menundukkan kepalanya menatap wajah cantik Diora yang menatapnya dengan tatapan memohon. Membuat jantungnya berlari marathon lagi ketika mata tajamnya bertemu pandang dengan mata beriris biru keabuan yang indah. “Baiklah,” ucapnya dingin dan langsung memalingkan wajahnya agar tak menatap Diora lagi.
__ADS_1
Diora dapat bernafas lega, akhirnya berhasil. “Terima kasih novel, sudah memberiku ide gila,” gumamnya sangat pelan dan tak akan terdengar oleh Davis. Lalu melepaskan pelukannya.