
Davis sedikit tersentuh ketika Diora mengakuinya sebagai calon suami. Meskipun memang benar itu kenyataannya, namun dirinya tak menyangka jika Diora akan mengatakan langsung dari mulutnya sendiri.
Tak tega melihat wajah Diora yang mengiba meminta pakaian ganti hingga memintanya untuk keluar kamar, Davis pun memilih memberikan papperbag yang berisi baju Diora dari butik sama dengan pakaiannya saat ini.
Davis tak berniat sedikitpun mengerjai Diora, sebab waktunya sudah mendekati jadwal yang ia buat sendiri untuk pulang ke Helsinki.
“Ini,” ujar Davis sembari memberikan papperbag.
“Terima kasih,” balas Diora memberikan senyuman manis. Ia mengulurkan tangannya untuk mengambil itu.
“Simpan senyummu untuk nanti malam,” kelakar Davis memberikan senyum penuh arti.
“Nanti malam?” Diora mengerutkan keningnya, dirinya tak tahu bahwa hari ini dia benar-benar akan menikah dengan Davis. Sebab dia merasa tak ada persiapan apapun untuk pernikahan mereka.
__ADS_1
“Sudah, kau cepat pakai pakaianmu itu ... hari ini kita akan sibuk.” Davis memasukkan kepala Diora dengan paksa dan menutup kembali pintu kamar mandi. Meninggalkan wanita itu kebingungan dengan maksud ucapannya.
Lima menit kemudian, Diora keluar kamar mandi dengan dress berwarna maroon, kulitnya yang putih semakin terlihat cerah dengan warna baju yang gelap. Bahkan wajah cantiknya terlihat bersinar di mata Davis.
“Kenapa kau menatapku seperti itu? Apakah aku terlalu cantik hingga kau tak berkedip?” celetuk Diora tat kala dirinya baru saja keluar dan mendapati Davis menatapnya.
“Siapa yang menatapmu?” elak Davis, lalu mencari alasan agar tak ketahuan jika dirinya memang tengah terpukau dengan Diora. “Aku sedang melihat cicak di dinding,” alasannya.
“Ohh ....” Diora berohria, namun ia berbalik untuk melihat cicak yang dimaksud oleh Davis. Sebab dirinya tak pernah tahu jika cicak juga bisa masuk suite room hotel bintang lima. “Tidak ada cicak, kau berbohong lagi ya ...,” tuduhnya, mendengus sebal dan membalikkan badan ke arah Davis.
“Pakaianku!” seru Diora, menunjuk kamar mandi dimana pakaiannya masih ia tinggal disana. Namun dirinya sudah sampai di luar kamar karena Davis menyeretnya, sehingga ia mau tidak mau harus mengikuti Davis.
“Tinggalkan saja, aku akan membelikanmu lagi yang baru,” tutur Davis.
__ADS_1
Davis berjalan cepat sembari melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. Bahkan ia tak menyadari jika Diora saat ini tengah tergopoh-gopoh mengikuti langkah kakinya menuruni tangga darurat, karena lift selalu penuh. Sehingga untuk mengejar waktu, dirinya sengaja menuruni anak tangga.
“Lepaskan tanganku ....” Diora mengibaskan tangannya agar terlepas dari genggaman erat Davis. “Aku lelah mengikuti langkah kakimu,” lanjutnya.
Davis menghentikan langkahnya membuat Diora ikut terhenti pula. Ia melihat wajah Diora yang saat ini sudah dipenuhi keringat dan nafasnya tersengal-sengal seperti orang sehabis olahraga. Tentu saja karena mereka menuruni anak tangga dari lantai dua puluh.
Davis melepaskan genggaman tangannya, lalu berjongkok dengan posisi punggungnya berada di hadapan Diora. “Naiklah, aku akan menggendongmu,” usulnya.
Mata Diora membulat sempurna mendengar itu. “Tidak perlu, aku hanya butuh jalan santai saja ... tak perlu sampai kau menggendongku,” tolaknya.
Davis memutar sedikit kepalanya untuk menatap tajam Diora. “Naik ke punggungku sekarang juga atau aku gendong paksa kau!” ancamnya.
Diora yang mendapatkan ancaman itu langsung berjalan cepat mendahului Davis yang masih berjongkok menatapnya. Daripada dirinya digendong, lebih baik ia cepat-cepat saja.
__ADS_1
Davis menyunggingkan senyumnya, lalu ia berdiri dan menyusul Diora dengan langkah cepat. Ia langsung mencekal tangan Diora hingga wanita itu terhenti dari jalannya. Tanpa permisi seperti biasanya, ia langsung menggendong ala bridal style. Berjalan menuruni ribuan anak tangga seperti pengantin baru.