My Rich Husband

My Rich Husband
Part 89


__ADS_3

Sesampainya di apartement, George langsung mengerahkan segala kemampuan hackernya yang terpendam lama.


Pria itu berkutat di depan laptop canggihnya. Ia mencari seluruh informasi tentang keluarga Dawson. Semua web ia cari, bahkan hingga ke dark web sekalipun.


Sepuluh jam lamanya, pria itu seperti tak ada lelahnya. Mungkin, daripada dirinya lelah memikirkan wanita, lebih baik menghabiskan waktu untuk hal yang lebih bermanfaat.


“Sekali dayung dua pulau terlampaui,” ujarnya menyeringai tat kala dirinya mendapatkan informasi yang sangat mengejutkan. Ia mendapatkannya dari dark web, ternyata keluarga Dawson menjual sebuah informasi kriminal di situs itu.


...........


“Morning kiss.” Davis memberikan kode kepada Diora agar menciumnya dengan menempelkan telunjuknya di bibir.


Diora pun menempelkan bibirnya sekilas lalu menarik kembali kepalanya. “Sudah.” Semburat merah keluar dari kedua pipinya. Ia sangat malu, merasa dirinya seperti wanita murahan saja main mencium seorang pria.


“Itu namanya kecupan bukan ciuman,” protes Davis tak terima. “Ulangi,” pintanya.


“Sama saja, sama-sama mempertemukan kedua bibir,” elak Diora yang tak ingin mengulanginya. Dirinya masih malu-malu kucing saat ini.


“Jangan bilang kau tak bisa melakukan itu? atau kau tak tau bagaimana caranya? atau kau tak pernah melakukannya?” cecar Davis.


Diora tersenyum kikuk, tangannya menggaruk kepala yang tiba-tiba gatal, mungkin dia sedang ketombean. Tapi tak mungkin istri seorang sultan memiliki ketombe di kepalanya. Debu saja minder untuk menempel di kulitnya.

__ADS_1


“Biar aku mengajarimu bagaimana berciuman.”


Tak perlu banyak kata, Davis langsung memegang tengkuk istrinya. Menyatukan bibirnya dengan Diora. Menyesapnya penuh gairah.


Diora tak membalas, wanita itu bingung harus melakukan apa. Ia hanya menerima saja apa yang dilakukan suaminya.


“Aku seperti mencium patung,” seloroh Davis.


“Kau mengataiku seperti patung!” Cubitan kecil yang menyakitkan mendarat di perut berotot Davis.


“Lalu apa jika bukan patung? kau tak membalas sedikitpun,” protes Davis. “Kita ulangi lagi sampai kau mahir.”


Davis pun mengulanginya lagi. Percobaan kedua, akhirnya Diora mulai sedikit membalasnya. Hingga percobaan kelima, wanita itu langsung mahir.


“Untuk apa? Kau saja pandai sekali, bahkan kau tetap bernafas selama kita beradu lidah,” sahut Davis.


“Di novel yang aku baca, jika berciuman pasti laki-lakinya berkata seperti itu.”


Toyoran pelan Davis berikan kepada sang istri. “Novel lagi ... novel lagi ... aku benar-benar akan menghukummu jika kau membaca novel lagi, aku tak ingin otakmu itu tercemar.”


“Iya,” balas Diora malas.

__ADS_1


Wanita itu langsung turun dari ranjang menuju kamar mandi. Ia hendak membersihkan tubuhnya, lalu bersiap untuk pergi ke kampus melaksanakan ujian.


“Kenapa kau mengikutiku?” protes Diora tat kala suaminya ikut masuk ke dalam kamar mandi.


“Aku juga ingin bersiap untuk ke kantor,” jelas Davis, ia langsung menanggalkan seluruh pakaiannya, tanpa rasa malu di depan Diora.


“Aaa ... kau gila ya!” Diora mengalah, dirinya memilih keluar dan mandi di bawah. Dadanya sungguh berdebar, ia sudah membayangkan adegan-adegan dalam novel yang berbuat sesuatu di dalam kamar mandi.


...........


Sepasang suami istri itu kini tengah sarapan bersama. Diora dengan telaten menyuapi suaminya, ia sudah terbiasa makan sepiring berdua dan satu sendok berdua.


“Ponselmu berbunyi.” Diora menunjuk benda pipih berlogo buah apel.


Davis melihat ponselnya, lalu mengangkatnya tanpa beranjak dari meja makan.


“Siapa?” tanya Diora setelah Davis menutup telefonnya.


“George, aku harus ke kantor sekarang, ada urusan yang sangat penting,” pamitnya. “Kau tak apa berangkat sendiri?”


“Hmm ... pergilah, aku masih tiga puluh menit lagi berangkat ke kampus,” jelas Diora seraya melihat jam Richard Mille yang melingkar di tangannya.

__ADS_1


“Ciuman sebelum berangkat.” Davis mendekatkan wajahnya tepat di hadapan Diora.


Terjadilah lagi adu lidah untuk keenam kalinya dalam pagi ini. Sebab yang pertama, hanya Davis yang mengadu.


__ADS_2