
Setelah perjalanan udara selama empat jam tiga puluh menit, kini mereka sudah berada di Helsinki Airport. Kedatangan mereka sudah ditunggu oleh George sejak lima belas menit yang lalu.
“Apa kau sudah mengurus semuanya?” tanya Davis sembari mengenakan kacamata hitamnya.
“Semua sudah beres,” jawab George tanpa ekspresi. Namun dalam hatinya menggerutu, dirinya ditinggal sendiri mempersiapkan pernikahan Davis dan Diora.
“Bagus,” balas Davis tanpa ucapan terima kasih seperti biasa yang ia lakukan, sungguh pria itu kurang memiliki sopan santun. “Ayo,” ajaknya pada Diora agar cepat menuju ke mobil.
“Iya sabar,” gerutu Diora.
...........
Kini mereka berada di Helsinki Cathedral, tempat yang akan dijadikan sebagai saksi bisu ucapan janji suci kedua insan yang belum saling mencintai itu.
Davis kini berada di ruangan khusus yang hanya ada dirinya dan juga George. Ruangan private yang sengaja untuk calon mempelai pria.
“Kau sudah siap?” tanya George memastikan.
“Tentu saja,” balas Davis.
__ADS_1
“Kau sudah memutuskan untuk menikahi Diora ... kau harus mulai merubah rasa obsesimu itu menjadi cinta ... jika tidak, maka kau bisa sewaktu-waktu menyakiti hatinya,” nasihat George sebagai seorang sahabat.
“Aku tahu itu,” sahut Davis. “Apa dia datang?”
“Aku tidak mengundangnya,” jawab George enteng.
“Kenapa?” Mata tajam Davis beralih menatap George.
“Karena aku ingin kau melupakannya dan hidup bahagia dengan pilihanmu ini,” kilah George.
“Aku mau kau mengundangnya karena aku ingin memperlihatkan kepadanya, bahwa aku juga akan menikah dan hidup bahagia,” sergah George dengan rasa kesal.
...........
Diora menatap kosong pantulan dirinya pada cermin besar di hadapannya. Menarik nafas dan menghela nafasnya dalam-dalam. Sebentar lagi ia akan menikah dengan pria yang baru ia kenal, namun tak ada orang tua yang menyaksikan dan mengantarkannya ke altar untuk diserahkan pada mempelai pria.
“Kau terlihat sangat cantik,” seloroh seseorang dari pintu masuk ruangan khusus mempelai wanita.
Membuat Diora membalikkan tubuhnya untuk melihat orang yang baru saja masuk.
__ADS_1
“Kenapa kau bisa ada disini?” tanya Diora terkejut. Ada sedikit rasa tidak enak yang menghimpit dirinya saat ini.
“Tentu saja karena aku di undang,” balas Gabby. Ia bertanya keberadaan Diora dengan George ketika baru saja sampai, sehingga ia tahu ruangan tempat sahabatnya berada.
Gabby langsung duduk manis di kursi kosong samping Diora. Lalu memutar kursi Diora agar menghadapnya. “Apa maksud pertanyaanmu malam itu adalah ini?” cecarnya.
Diora hanya menjawab dengan anggukan kepala sembari tersenyum getir.
“Kenapa kau tak bilang kepadaku jika kau memiliki hutang? Apa kau sudah tak menganggapku sahabat lagi? Sehingga kau tak bercerita tentang masalahmu itu kepadaku? Bukankah aku sudah mengatakan padamu malam itu, jika kau memiliki masalah atau hutang katakan saja padaku! Aku akan membantumu,” omel Gabby panjang lebar dengan sedikit nada meninggi akibat rasa kesal yang dirasakannya.
“Maaf, aku hanya tidak ingin membebanimu dengan masalahku,” sesal Diora. Ia menundukkan kepalanya dan meneteskan air matanya diam-diam.
Gabby mengangkat kepala Diora dan menangkup pipi sahabatnya itu, lalu menghapus air mata Diora dengan tisu. “Make up mu luntur jika kau menangis, kau akan seperti hantu jika mascaramu luntur,” selorohnya, membuat Diora sedikit terkekeh membayangkan dirinya jika seperti hantu wanita.
“Hutang apa yang kau miliki hingga kau harus membayarnya dengan menikah?” Rasa penasaran Gabby menyeruak. “Kau harus menceritakannya secara jujur.” Manik mata sepasang sahabat itu saling beradu memancarkan rasa saling menguatkan.
Diora menghela nafasnya sebelum mengatakan yang sejujurnya. “Aku tak sengaja menabrak mobil Bugatti La Voiture Noire dan dia memintaku untuk mengganti mobil yang baru ... tiga hari, dia hanya memberiku waktu tiga hari untuk mengganti ... jika tidak, maka aku harus menikah dengannya,” jelas Diora tanpa menutupi sedikitpun termasuk kapan kronologi itu terjadi.
“Apa kau mau membatalkan pernikahan ini? Aku akan membantumu membayarnya,” tawar Gabby.
__ADS_1