
“Kapal pesiar ini adalah hadiah pernikahan khusus untuk istriku tercinta.” Davis melanjutkan ucapannya. Lalu mengecup kening Diora dalam-dalam.
Leoni yang juga hadir dipesta itu darahnya mulai mendidih tak terima.
“Seharusnya ini milik anakku! Bukan milik jalang itu! Enak saja dia merebut apa yang seharusnya Gwen miliki.” Leoni menggebrak meja di hadapannya, giginya bergemelatuk kesal. “Mama tak mau tau, kau harus merebutnya kembali,” titahnya pada Gwen.
Tak ada balasan dari putrinya. “Gwen ... kau mendengar mama kan?” Leoni menengok kursi di sampingnya. “Kemana anak itu!” Ia tak mendapati Gwen berada di sampingnya. Makin kesal saja wanita tua itu.
Sedangkan Gwen, wanita itu sedang mencari putrinya yang terpisah dengannya. “Selena ...,” panggilnya. Ini sudah panggilan ke seratus kali, namun tak ada sahutan apapun.
“Selena ...,” panggilnya lagi.
Danzel merasa ada orang yang memanggil bocah di sampingnya. “Hei manis, apa itu suara mamamu?” tanyanya.
“Selena ....”
“Ya, itu mamaku.” Selena menganggukkan kepalanya.
“Oke, kau naik ke punggung uncle, agar mamamu bisa melihatmu.” Danzel berjongkok di hadapan Selena. “Steve, tolong dia,” titahnya pada asistennya.
“Baik tuan.” Steve pun membantu Selena untuk naik ke pundak tuannya.
“Mama ... aku disini.” Selena berteriak seraya tangannya melambai-lambai.
Gwen yang melihat putrinya langsung berlari menghampiri.
“Kau, membuat mama khawatir,” ujar Gwen. “Turun.” Ia membantu putrinya untuk turun dari pundak Danzel.
__ADS_1
“Untung ada uncle baik, Ma,” celoteh Selena dengan mulut dipenuhi ice cream.
Gwen beralih menatap Danzel yang juga menatapnya. “Terima kasih, tuan ... kau sudah menjaga putriku.”
Danzel membalas dengan senyuman. “Lain kali, jaga baik-baik putrimu.” Ia duduk kembali dan tak memperdulikan Gwen dan Selena lagi.
...........
Di panggung, Diora dan Davis masih berada disana. Pria itu masih ada kejutan untuk istrinya. Inilah puncak yang akan membuat wanita dicintainya akan sangat bahagia.
“Aku masih ada hadiah untukmu,” ujar Davis. Dibelakang Diora sudah ada Natalie dan Lord yang menatap mereka dengan senyum bahagia namun berderai air mata.
“Apa? Banyak sekali hadiahmu,” kelakar Diora, ia sungguh penasaran. Sebab hari ini begitu banyak hadiah yang diberikan oleh suaminya, dari perusahaan, ungkapan cinta di depan umum, hingga kapal pesiar yang sangat mahal.
“Berbaliklah, itu hadiah terakhirku,” pinta Davis, tangannya menunjuk ke arah belakang Diora.
Diora berbalik melihat suaminya. “Apa hadiahmu itu papanya Gabby dan istri barunya?” tanyanya polos.
Davis menggelengkan kepalanya, ia lupa jika istrinya itu terakhir kali bertemu mamanya ketika umur dua tahun. Sehingga wajar saja jika tak mengenali Natalie.
Davis mendekat dan merengkuh pundak Diora, ia mengajak wanita itu untuk mendekat ke Natalie dan Lord.
“Ini orang tuamu,” jelas Davis menunjuk Natalie.
Wanita paruh baya itu langsung menghambur memeluk putrinya dengan erat. Tangisnya semakin kencang.
“Putriku ... ini mama, nak.” Natalie membelai rambut yang sangat halus dan wangi milik Diora.
__ADS_1
“Mama?” ulang Diora meyakinkan. Ia masih belum percaya jika orang yang memeluknya ini adalah orang tuanya.
“Ya ... aku mamamu, yang melahirkanmu,” jelas Natalie, ia mengeluarkan kertas DNA yang sudah disiapkan oleh Lord sebagai antisipasi jika Diora tak mempercayai.
Diora membaca sekilas kertas itu, kini ia percaya jika mamanya masih hidup dan berada di dekapannya. “Ma ... mama,” isaknya memeluk erat tubuh ringkih wanita paruh baya itu.
Keluarga Dawson menyaksikan momen yang bagi tamu lain itu sangat mengharukan, pertemuan antara anak dan ibu setelah delapan belas tahun. Namun tidak bagi keluarga itu, mereka begitu geram melihatnya.
“Ternyata si jalang gila berada disini,” raung Cassandra dengan mata mendelik dan tangan terkepalnya.
“Kita dorong saja mereka ke laut agar tenggelam dan hanyut dimakan ikan,” hasut Celine memberikan ide jahatnya.
“Kalian berikan ini pada minuman mereka, pastikan mereka meminumnya hingga habis tak tersisa,” titah Dawson memberikan obat berupa serbuk.
“Apa ini?” tanya Cassandra.
“Obat tidur, kita akan menculik mereka dan menghabisi mereka bersamaan secara perlahan, termasuk suami Diora,” jelas Dawson. Ia begitu membenci melihat Davis, entah mengapa dirinya ingin melenyapkan juga pria itu.
“Silahkan minumannya tuan, nyonya, nona.” Seorang pelayan menghantarkan wine kepada keluarga Dawson.
“Kami tak memesan,” tolak Dawson memberikan tatapan tajam dan mengintimidasi sang pelayan.
“Semua tamu dapat, tuan.” Pelayan itu menunjuk seluruh orang yang ada disana. Memang benar semuanya tengah memegang gelas wine.
“Hmm ... pergilah,” usir Dawson.
Karena merasa kesal dan tak terima dengan kehidupan Natalie dan Diora yang nyaman, tentram, dan damai. Mereka pun menenggak wine itu langsung habis tanpa menaruh curiga apapun.
__ADS_1