My Rich Husband

My Rich Husband
Part 74


__ADS_3

Davis membawa istrinya ke villa yang sudah ia pesan melalui aplikasi Airbnb. Villa yang terletak di pinggir pantai daerah Canggu adalah pilihannya.


“Bersiaplah, kita akan bermain di pantai,” titah Davis seraya menunjuk lautan biru yang sangat indah.


“Kau duluan saja, aku masih ingin rebahan,” kilah Diora mencari alasan.


Davis nampak menuruti istrinya, ia sudah sangat ingin menikmati keindahan alam di Indonesia. Keindahan yang tak ia dapatkan di Eropa.


Namun, sebelum ia benar-benar keluar. Sebuah ancaman untuk istrinya ia lontarkan. “Jika lima menit kau tak menyusulku, aku akan menggendongmu dan menceburkanmu ke laut.”


“Iya,” sahut Diora dengan nada dongkolnya, seraya mengibaskan tangannya memberi kode agar suaminya segera keluar.


Diora nampak berselancar dengan ponselnya mencari style yang cocok untuknya agar tak terpapar teriknya sinar matahari.


Ia menemukan style yang cocok agar tak terlihat aneh jika menutupi tubuhnya dengan pakaian musim dingin yang ia kenakan saat ini. Wanita itu masih memiliki urat malu, tak ingin menjadi pusat perhatian banyak orang dengan keanehannya.


Wanita itu membuka kopernya, lalu mengeluarkan baju dan celana panjangnya yang tak begitu tebal. Ia memilih pakaian itu sesuai dengan style yang ia temukan di google.

__ADS_1


“Dimana aku menemukan benda ini?” gumamnya seraya berfikir untuk mencari kain kotak yang dipakai untuk menutupi kepala.


Diora ingin bertanya dan meminta tolong dengan pegawai villa untuk membantunya menemukan apa yang ia cari. Ia memanggil petugas kebersihan yang saat ini tengah membersihkan daun-daun berguguran.


“Where i can buy this thing? (dimana aku dapat membeli benda ini?)” Diora bertanya seraya menunjukkan gambar di ponselnya, sebab ia tak tahu nama benda itu.


“Oh ... this is jilbab, you can buy in muslim clothing stores. (Oh ... ini namanya jilbab, anda bisa membelinya di toko pakaian muslim),” jelas petugas kebersihan itu dengan bahasa inggris yang sedikit medok khas bli Bali.


“Is there any muslim store nearby? (Apakah ada toko muslim di dekat sini?)” tanya Diora lagi dengan wajah seriusnya.


“How long? (Berapa lama?)” Diora menanyakan waktu yang harus ditempuh jika hendak ke toko itu.


“Thirty minutes (Tiga puluh menit).” Petugas itu memberikan kode dengan jarinya menunjukkan tiga jari dan huruf o.


“Oke, thanks for your information (Oke, terima kasih atas informasimu).” Diora memberikan tip senilai seratus euro untuk petugas kebersihan.


Selepas kepergian petugas itu, Diora nampak berfikir. Tak mungkin ia keluar membeli jilbab yang harus ditempuh dengan waktu satu jam untuk pulang pergi, sedangkan waktu yang diberikan suaminya hanya lima menit.

__ADS_1


Diora nampak mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan dan di luar ruangan. Ia berfikir adakah sesuatu atau seseorang yang dapat ia pinjam jilbabnya.


Mata wanita itu terhenti pada sebuah meja kotak dimana ada taplak yang menutupinya. Otak cerdasnya memiliki ide yang brilian.


“Bukankah itu bentuknya sama saja dengan yang aku lihat di google,” gumamnya dengan wajah yang berbinar karena menemukan benda yang mirip dengan jilbab.


Diora langsung mengambil taplak meja berbentuk persegi dengan motif kotak-kotak hitam putih khas kain untuk menutupi pohon besar di daerah Bali.


Dengan wajah yang berbinar, Diora berjalan ke pantai untuk menyusul suaminya. Ia berfikiran tak akan malu dengan style muslim yang ia kenakan saat ini.


Sweater berwarna putih dan jeans panjang, serta taplak meja yang ia jadikan sebagai kerudung. Tak lupa sapu tangan yang ada di meja ia gunakan sebagai cadar, serta kacamata hitam bertengger menutupi matanya.


Diora langsung duduk di samping suaminya yang saat ini hanya mengenakan boxer, memperlihatkan perut dengan enam cetakan otot. Bahkan wisatawan domestik tak berkedip menatap suaminya.


“Apa yang kau pakai itu?” Davis bertanya dengan nada ketusnya, sebab istrinya sangat aneh. Seharusnya bule menggunakan bikini dan mentaning kulitnya agar hitam.


“Oh ... ini namanya jilbab.” Diora menunjuk taplak di kepalanya. “Dan ini cadar.” Ia kini menunjuk sapu tangan yang menutupi wajah cantiknya.

__ADS_1


__ADS_2