
Davis berlari dengan langkahnya yang lebar. Ia sangat ingin segera memastikan apakah benihnya sudah mulai tumbuh atau belum. Nafasnya begitu ngos-ngosan saat ini. Namun tak menyurutkan semangatnya.
“Dimana istriku?” tanya Davis pada sekretaris Diora yang meja kerjanya berada persis di seberang pintu ruang kerja Diora. Ia tak mendapati istrinya berada di dalam ruangan.
“Ke Helsinki University, tuan, bersama nona Gabby,” jelas sekretaris itu. Sebelum pergi, Diora sudah menitipkan pesan jika ada yang mencarinya.
Davis tak menanggapi lagi sekretaris Diora yang melihatnya dengan tatapan terpesona. Ia langsung bergegas menuju mobil yang masih terparkir di depan perusahaan istrinya itu. Langsung menancap gas dengan kecepatan tinggi. Sungguh tak sabar dirinya ingin segera bertemu istri tercinta.
...........
Di Helsinki University, Diora dan Gabby yang mendapatkan dosen pembimbing sama sedang berada di dalam ruang dosen mereka yang bernama Prof. Hotler.
“Maaf, ada sedikit kendala diperut saya,” cicit Prof. Hotler setelah keluar dari toilet. Segera duduk di kursi yang bisa ia putar tiga ratus enam puluh derajat itu.
Diora dan Gabby tersenyum ramah. “Tidak apa, Prof, kami maklum,” jawab mereka bersamaan.
__ADS_1
“Kalau begitu, langsung saja kita ke intinya, ya.” Prof. Hotler mengeluarkan sebuah map berisi dokumen dari dalam tasnya. “Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, saudari Diora sudah memiliki perusahaan dibidang arsitektur dan saudari Gabby bekerja sebagai asistennya, benar?” Ia membacakan tulisan pada kertas yang ia pegang.
“Benar.” Diora dan Gabby mengangguk.
“Karena itu adalah sebuah capaian yang sangat tinggi, bahkan bisa membuka lapangan pekerjaan, saya sebagai Dosen Pembimbing kalian merubah tugas akhir kalian bukan menyusun skripsi, namun penyelesaian proyek di perusahaan yang kalian kelola. Bukankah saat ini kalian sedang menjalankan sebuah proyek besar?”
“Ya.”
Prof. Hotler tersenyum. “Apakah kalian setuju dengan usul saya tadi?”
“Tidak perlu Prof, kami akan tetap membuat skripsi, menghindari omongan mahasiswa lain yang kurang suka.” Diora menolak dengan halus.
“Skripsi hanya sebuah pemikiran yang dituangkan dalam tulisan lalu dicetak di atas kertas saja, namun pencapaian kalian itu lebih nyata dibandingkan sebuah skripsi, kalian sudah bisa menghasilkan uang dan secara tidak langsung pun kalian mengharumkan nama universitas dengan prestasi kalian itu.” Prof. Hotler terus meyakinkan dua mahasiswinya itu agar menerima tawarannya.
“Baiklah, kami menyetujuinya.”
__ADS_1
Prof. Hotler mengulurkan tangannya sebagai tanda kesepakatan dan dibalas oleh Diora dan Gabby.
“Kalau begitu, mulai besok saya harus memantau perkembangan proyek kalian.”
Diora dan Gabby pun pamit, mereka langsung keluar ruangan.
“Apa kau tak lapar? Kita makan di restoran depan kampus, yuk,” ajak Gabby.
“Boleh, kebetulan cacingku sudah demo,” seloroh Diora memegangi perutnya.
Langkah kaki mereka terhenti ketika ada seorang wanita menghalangi jalan. Eliana. Wanita itu adalah si rubah betina. Dengan raut wajahnya yang sangat marah, ia langsung menjambak rambut Diora.
“Semua gara-gara kau! Karena kau menyumpahi ibuku sakit, sekarang dia sakit keras dan akhirnya meninggal! Puas kau sekarang membuatku tak memiliki orang tua lagi!” Diora meronta karena jambakan begitu keras dan sangat sakit, bahkan kepalanya seperti berdenyut.
“Lepas!”
__ADS_1