My Rich Husband

My Rich Husband
Part 73


__ADS_3

Diora tak berhasil bernegosiasi dengan suaminya. Davis tetap dengan pendiriannya ingin berbulan madu di Indonesia. Selain pemandangannya yang bagus, ia juga ingin melihat prospek usaha disana. Ia ingin membangun sebuah resort jika prospeknya bagus.


Berbagai rayuan telah Diora lakukan agar destinasi mereka tak ke negara beriklim tropis. Merayu dengan memeluknya seperti di Novel yang sering dia baca, merengek sembari menangis tersedu-sedu, tetap tak merubah pendirian Davis. Sayangnya, Diora tak melakukan rayuan maut yang pasti akan merubah suaminya, padahal di dalam novel yang sering dibacanya, rayuan itu adalah yang paling ampuh. Sebab, ia masih belum ingin melakukan hubungan suami istri, sehingga ia tak melakukan rayuan maut itu. Gengsinya masih cukup besar.


Kini mereka berada di ruko tempat tinggal Diora. Wanita itu hendak mempersiapkan pakaian untuknya berperang.


“Kenapa yang kau bawa semuanya baju musim dingin?” tanya Davis tat kala istrinya tak ada memasukkan pakaian khusus musim panas satupun.


“Terserah aku, ini kan pakaianku dan yang memakainya juga aku,” elak Diora yang masih memberenggut sedari keluar penthouse.


Davis nampak sedang mencoba mencari pakaian Diora lainnya, hingga ia merusak tatanan pakaian yang sudah rapi.


“Kenapa kau tak memiliki baju pendek? Semua yang ada disini panjang.” Davis merasa ada yang aneh dengan istrinya itu.


“Aku tak suka memakai baju pendek.” Diora yang sedang sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper mengalihkan pandangan ke arah suaminya. “Astaga ... kau mengobrak-abrik isi almariku,” kesalnya seraya berjalan ke arah si pengacau yang tak merasa bersalah sedikitpun.

__ADS_1


“Minggir.” Wanita itu mengibaskan tangannya dengan kesal. Lalu merapikan kembali almarinya.


“Kau jangan lupa membawa bikini,” pinta Davis seraya mencari-cari dalaman sexy milik istrinya.


“Kenapa kau jadi tuan muda sangat plin-plan sekali, katamu tak suka melihat wanita murahan. Tapi kau menyuruhku membawa bikini,” kesal Diora.


“Memangnya aku menyuruhmu untuk memakainya di tempat umum?” sanggah Davis. “Kenapa kau tak memiliki bikini satu pun?”


“Untuk apa memiliki benda itu? Aku tinggal memakai dalaman berwarna senada, sama saja dengan bikini. Daripada mengeluarkan uang mahal hanya membeli dalaman yang fungsinya sama saja,” timpal Diora.


Davis hanya bergeleng kepala mendengar alasan istrinya.


Sepasang suami istri yang baru satu hari menikah itu sudah ada di dalam jet pribadi Davis. Mereka sudah siap untuk lepas landas.


Gurat kegelisahan tergambar jelas di wajah cantik Diora. Bahkan sedari tadi, ia duduk tak tenang. Pasti dirinya akan menjadi pusat perhatian oleh wisatawan lain nantinya.

__ADS_1


Davis nampak sibuk, entah apa yang ia kerjakan hingga ia tak memperhatikan istrinya yang seperti orang menahan kencing.


Dua puluh satu jam perjalanan udara yang ditempuh, akhirnya pesawat mereka mendarat sempurna di Ngurah Rai International Airport.


Davis mengganti pakaian dinginnya menjadi musim panas. Gaya casual yang menjadi pilihannya, membuatnya terlihat sangat tampan dan menawan.


“Kau tidak mengganti pakaianmu itu?” tanya Davis selepas ia keluar dari toilet.


“Tidak.”


“Kau akan kegerahan,” bujuk Davis.


“Tidak, aku nyaman dengan pakaianku ini.”


“Kau ini aneh sekali, disini sedang terik-teriknya. Kau seharusnya tak berpenampilan seperti itu.”

__ADS_1


“Ssttt ... kau ini tuan arogan kenapa jadi banyak bicara.”


Style Diora sangat berbanding terbalik dengan suaminya. Ia memakai jaket musim dinginnya, celana panjang, boots, ditambah saat ini ia memakai masker dan kacamata hitam. Membuatnya seperti artis terkenal yang sedang menyamar.


__ADS_2