
“Hello uncle,” sapa Diora sembari tersenyum ramah.
Ini adalah kali pertama Diora bertemu dengan orang tua Gabby. Meskipun sudah lima tahun mereka berteman, namun ia tak pernah sekalipun mengenal lebih dalam keluarga Gabby. Ia hanya tahu Gabby adalah orang biasa yang tinggal di apartemen seorang diri. Ia tahu jika sahabatnya masih memiliki orang tua, namun dia tak pernah menanyakan alasan Gabby tidak tinggal di rumah keluarganya.
“Hi Diora, panggil saja papa ... Gabby sudah menceritakan semua padaku,” pinta Lordeus dengan tatapan seperti seseorang yang merindukan orang berharga dalam hidupnya.
“Baik uncle ... eh papa.” Diora tersenyum canggung.
“Tidak perlu sungkan ... kau sahabat baik anakku, berarti kau juga anakku,” celetuk Lordeus menepuk pundak Diora.
Diora hanya membalas dengan senyuman. Sungguh ia tak menyangka ada orang lain yang mengakuinya sebagai anak, sedangkan papanya sendiri malah tak pernah sekalipun mengakui Diora anak. Bahkan bersekongkol dengan ibu tirinya untuk memperlakukan Diora dengan kejam.
“Papa ... ini calon suami Diora,” ujar Gabby dengan nada seperti orang yang sedang menyindir. Ia menunjuk pria yang saat ini menatap ke arahnya.
Tatapan mata Lordeus yang awalnya sangat teduh kini berubah menjadi tatapan tajam.
“Kita bertemu lagi Lord,” sapa Davis dengan wajah datarnya. Meskipun saat ini ia sangat terkejut, tapi dirinya tak ingin memperlihatkan dengan jelas demi menjaga imagenya.
“Hmm ... apa kau tak membutuhkanku hingga kau tak mengundangku?” sindir Lordeus dengan wajah yang sedikit menahan amarah.
__ADS_1
“Aku memang tak mengundang siapapun kecuali orang-orang terdekat,” kilah Davis.
Memang benar, Davis hanya mengundang sahabat dan mantan kekasih Diora saja. Seharusnya ditambah mantan kekasihnya, namun George sengaja tak memberikan undangan kepada Gwen.
“Apa kalian saling mengenal?” tanya Diora penasaran sambil menatap bergantian ke arah Davis dan Lordeus.
“Tentu saja, siapa yang tidak mengenal Lord seorang ket ....” Penjelasan Davis terputus ketika suara deheman keluar dari mulut Lordeus. Ia tak melanjutkan lagi ucapannya karena kini Lord sudah menatapnya dengan sangat tajam.
“Ket?” ulang Diora dengan wajah bingung. “Ket apa?”
Gabby mendelik dan sedikit menggelengkan kepala ke arah Davis agar pria itu tak memberitahukan siapa Lordeus sebenarnya. Gabby sesungguhnya juga terkejut ketika Davis mengenal papanya.
“Kita hanya rekan kerja,” alasan Lordeus, tak ingin identitasnya diketahui Diora.
“Aku tidak mau berfoto denganmu,” tolak Davis.
“Siapa yang mengajakmu berfoto! Aku mengajak Diora dan papaku ... untuk apa aku mengajakmu berfoto,” timpal Gabby dengan nada penuh mengejek.
“Pfftt ....” Diora menahan tawanya. Membuat Davis menghunuskan tatapan tajam kepada dirinya.
__ADS_1
Diora pun membalas tatapan itu dengan memberikan senyuman manisnya. Lalu menggandeng Gabby dan mengajak Lordeus untuk memposisikan diri.
“Tolong kau fotokan aku.” Diora memberikan ponselnya kepada Davis.
“Hei kau ... manusia yang sedari tadi diam saja.” Gabby menunjuk George, namun George tak bergeming.
Pletak ...
Sebuah ponsel mendarat pada dada George yang tengah duduk manis di sofa seorang diri, karena yang lain masih berdiri.
“Tidak sopan!” ketus George, ia menatap tak suka Gabby.
“Kau tuli, ku panggil hanya diam saja,” balas Gabby tak kalah ketus. “Tolong kau fotokan aku dengan ponselku itu,” pintanya.
“Memangnya aku budakmu, bisa kau suruh seenaknya,” berang George dengan wajah tanpa ekspresi.
“Ehem ....” Lordeus berdehem dan menatap tajam George.
Tanpa banyak kata, George pun ikut memposisikan diri di samping Davis untuk memotret tiga orang yang saat ini sudah siap berpose layaknya sebuah keluarga.
__ADS_1
“Mereka ternyata takut dengan papamu,” bisik Diora tepat di telinga Gabby.
Gabby hanya membalas dengan senyuman dan anggukan saja. Ia tahu betul mengapa kedua pria itu takut dan tak berani membantah seorang Lordeus.