
Satu minggu kemudian, tibalah hari yang begitu dinanti oleh Diora. Impiannya memiliki perusahaan arsitektur sendiri yang besar akhirnya tercapai juga. Meskipun hanya sebuah pemberian dari suaminya karena kalah taruhan siapa yang mencintai terlebih dahulu dan dimenangkan oleh dirinya. Tapi tak apa, dia akan bekerja semaksimal mungkin untuk mengelolanya dan tentunya bersama sahabatnya yang akan selalu setia membantunya.
Pagi ini sepasang suami istri itu masih saja tertidur pulas setelah bergelut selama satu minggu penuh kejar target agar segera hamil.
Sedangkan George sudah berada di lokasi untuk memastikan seluruh persiapannya. Ia sudah seperti orang kesetanan karena peresmiannya akan dilaksanakan dua jam lagi. Namun, sang pemeran utamanya tak juga bisa dihubungi. Membuatnya mau tak mau harus datang ke penthouse.
“Apa mereka lupa tentang hari ini!” decak George seraya memukul kemudi kesal. Lagi-lagi dirinya harus bekerja lebih.
Diperjalanan, ia tiba-tiba saja berhenti ketika melihat seseorang yang sangat dikenalnya sedang jogging.
Pria itu langsung turun menghampiri orang itu.
“Ikut aku.” Ia menarik dengan paksa.
“Lepas!” Orang itu menghempas tangan kekar yang mencengkram tangannya. “Kau itu kasar sekali dengan wanita!” kesalnya seraya mengelus pergelangan yang memerah.
“Apa kau wanita? Bahkan penampilanmu tak pernah menunjukkan jika kau seorang wanita,” sindir George. Membuat lawan bicaranya begitu sakit hati dengan ucapan itu. Penampilan wanita itu memang selalu tomboi tak pernah sekalipun feminim. Meskipun terlihat seperti style pria, namun tetap saja ia seorang wanita yang memiliki hati mudah tersakiti.
__ADS_1
“Terserah apa pendapatmu, aku tak perduli!” sembur wanita itu lalu hendak melanjutkan lagi olahraganya.
“Berhenti atau ku cium kau!” ancam George. Namun tak diindahkan, wanita itu tetap saja melaju mengayunkan kakinya. “Gabby Gabriella!”
Gabby hanya memberikan isyarat dengan mengangkat tangan kanannya tanpa berhenti dan menoleh sedikitpun.
George menghembuskan nafasnya. “Sulit sekali mendekatinya,” keluhnya. Ia langsung menyusul Gabby dan tanpa permisi menggendong wanita itu seperti karung beras. Tak memperdulikan tatapan orang lain.
George mendudukkan Gabby di kursi depan dan memasangkan seat belt.
“Coba saja kau adukan padanya,” tantang George seraya terus fokus menyetir.
“Kau yang menantang, maka jangan menyesal jika kau tak bisa melihat matahari lagi,” sinis Gabby. Ia langsung menelfon papanya untuk mengadukan. Seketika ia memberenggut mendapatkan respon papanya tak sesuai ekspektasi.
George tersenyum penuh kemenangan. Lord sudah berada dipihaknya.
Sepanjang perjalanan, Gabby tak mau melihat bahkan melirik pria di sampingnya itu. Hingga mereka sampai di penthouse Davis.
__ADS_1
“Turun.” George membukakan pintu.
Gabby melayangkan tatapan tak suka pada George. Ia berjalan mengekor di belakang pria itu.
Mereka langsung masuk ke penthouse tanpa membunyikan bel terlebih dahulu.
“Tunggu disini.” George menunjuk sofa agar Gabby duduk disana, ia tak ingin wanita itu melihat hal senonoh lagi sebagai kemungkinan terburuknya.
Tujuan George langsung ke kamar utama yang berada di lantai dua. Dengan menaiki dua anak tangga sekaligus seraya melihat jam yang melingkar di tangannya memastikan masih ada waktu yang tersisa.
Klek!
“Keluar kau pengganggu!” Davis melemparkan bantalnya. Lagi-lagi aksi tempurnya diganggu. Untung saja kali ini mereka begelut di bawah selimut, sehingga tak memperlihatkan penyatuan tubuh mereka.
“Tidak,” tolak George tetap berada di ambang pintu. “Sudahi kegiatanmu itu dan segera bersiap! Apa kau lupa hari ini adalah hari yang sangat penting?” Ia menyenderkan tubuhnya dengan bersedekap tangan.
“Ck! Dasar pengacau!” decak Davis.
__ADS_1