
Davis segera mengajak Diora keluar dari store tempat mereka membeli ponsel. Davis tak ingin istrinya itu banyak mengomentari lagi ponsel yang ia beli.
Davis merasa ingin membuang air kecil yang sudah ia tahan sejak masuk ke dalam mall. “Aku ke toilet dulu,” ijinnya.
“Hmm ... aku tunggu di restoran sana, aku lapar.” Diora menunjuk salah satu tempat makan yang terlihat sangat ramai, sepertinya masakannya enak.
“Ya, pesanlah makanan dan minuman dulu, aku akan segera menyusulmu,” sahut Davis segera masuk ke dalam toilet pria.
Diora segera berjalan menuju restoran yang tak pernah ia coba. Padahal ia sudah sering ke mall itu, tapi selalu saja makan di Ravintola bersama Danzel.
Wanita itu segera duduk di kursi yang dekat dengan kaca, sehingga keberadaannya sangat terlihat dari luar restoran.
“Silahkan menunya.” Seorang waiters perempuan memberikan buku yang berisi list makanan dan minuman pada Diora. Ia tak beranjak, menunggu pelanggan memesan.
“Aku mau dua menu yang paling enak disini.” Diora tak tahu makanan yang enak apa, ia mencari aman saja dengan memesan rekomendasi dari restoran. Sebab nama-namanya begitu asing baginya dan jarang ia jumpai di restoran biasa yang ada di Eropa.
“Rendang dan ayam pop?” Waiters restoran itu menunjuk dua menu dari daging sapi dan daging ayam itu. Ternyata Diora memasuki restoran khas masakan Indonesia yang pemiliknya adalah warna negara Indonesia, namun sudah menikah dengan warga Finlandia dan membuka usaha kuliner tersebut.
“Boleh, sepertinya enak, bawakan semua makanan dan minuman yang menurutmu enak saja.” Selera makan Diora tiba-tiba saja melonjak setelah ia mengamati pengunjung sekitar begitu lahap menyantap hidangan pesanan mereka.
__ADS_1
“Baik, permisi.” Waiters itu pergi meninggalkan Diora dan segera menyiapkan pesanan.
Sambil menunggu pesanannya datang, Diora bermain-main dengan ponsel barunya. Ia mencoba seberapa bagus kamera dari ponsel yang begitu mahal itu.
“Wah ... ternyata sangat tajam hasilnya,” puji Diora setelah melihat hasil selfienya.
Diora melambaikan tangan pada waiters dan segera datang menghampirinya.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Apa pasword wifinya?” Diora ingin mendownload aplikasi, selagi menunggu suaminya yang lama sekali membuang air kecil.
“Sudah bisa, terima kasih.” Diora tersenyum ramah setelah wifi tersambung.
...........
Danzel dan Steve sedang berada di mall yang sama dengan Diora. Mereka baru saja makan di restoran Ravintola yang ada di lantai paling atas.
“Mengapa berhenti, tuan?” Steve bertanya ketika tuannya tiba-tiba saja tak melangkahkan kakinya.
__ADS_1
“Kau pulanglah dulu, aku ada urusan,” titah Danzel tanpa menoleh ke belakang dimana Steve berdiri.
“Saya akan temani.”
“Tidak perlu, hari ini habiskanlah waktumu bersama keluargamu, ini hari minggu, dan dari pagi hingga menjelang sore kau masih bersamaku.” Danzel mencoba memberikan pengertian pada asistennya itu.
“Baik, saya permisi.” Steve pun akhirnya pulang.
Danzel yang melihat Diora tengah duduk sendiri pun berniat menghampiri wanita itu yang sudah ia coba ikhlaskan, namun masih tetap ia cintai hingga detik ini.
“Diora?” sapa Danzel.
Diora yang asik bermain ponsel pun menatap sumber suara. “Danzel?” Ekspresinya begitu terkejut melihat mantan kekasihnya tiba-tiba saja duduk di hadapannya.
“Sendirian?” Sorot mata Danzel masih terlihat jelas penuh cinta.
“Ti-tidak.” Gugup sekali Diora, ia takut jika suaminya tiba-tiba saja datang dan melihat dirinya bersama pria lain. Tidak bisa ia bayangkan bagaimana reaksi suaminya itu.
“Dimana suamimu?” tanya Danzel.
__ADS_1
“Disini!”