
Setelah bergumulan panas yang terjadi selama lebih dari tiga jam itu, Diora dan Davis tertidur di kantor hingga malam. Kondisi mereka yang masih sama-sama polos dan saling menghangatkan satu sama lain itu membuat mata enggan membuka. Namun apalah daya, perut yang begitu keroncongan membuat wanita itu mengerjapkan mata.
“Engh ....” Diora meregangkan otot-otot badannya yang begitu pegal, seutas senyum terlukis indah di wajah cantiknya. Pertama kali membuka mata langsung pemandangan sang suami yang begitu tampan dan mempesona. Mengelus lembut lengan kekar yang masih melingkar di perutnya. Lalu beralih mengusap penuh cinta dan kasih sayang di rahang kokoh suaminya.
Memandang dengan rakusnya dan menghirup dalam-dalam aroma maskulin yang begitu memabukkan baginya. “Kau, telah melewati banyak kehidupan yang memilukan, aku tak akan membuatmu semakin pilu, aku juga mencintaimu.” Kecupan sekilas ia berikan di bibir yang begitu menggoda. “Tapi sepertinya masih sedikit,” ralatnya seraya menggaruk tengkuknya.
“Tak apa sedikit, lama-lama akan menjadi bukit,” seloroh Davis. Dengan mata yang masih terpejam, ia semakin mengeratkan rengkuhannya.
“Ka-kau sudah bangun?” Diora sangat malu dengan ucapan cintanya yang didengar oleh suaminya. Wajahnya memerah bak kepiting rebus.
“Hmm ... jika tidak bangun, mana mungkin aku bisa berbicara,” seloroh Davis seraya membuka matanya untuk menatap wajah cantik istrinya.
“Siapa tau kau mengigau,” kilah Diora memalingkan pandangannya agar tak bertemu tatap dengan mata yang begitu mendambanya seolah ingin melahapnya.
Terkekeh dengan ucapan istrinya, begitu gemasnya Davis dengan istri kecilnya. Bagaimana tidak kecil jika usianya terpaut lima belas tahun dengannya. Segera menindih tubuh yang begitu menggoda itu ke dalam kungkungannya.
“Ma-mau apa kau?” Jantung wanita itu begitu cepat mempompa darah, berdegub begitu kencang bak orang lari marathon.
__ADS_1
“Ingin melahapmu, aku begitu lapar.” Langsung menyambar bibir di hadapannya dengan begitu rakus, tak menunggu jawaban sang pujaan hati. Hasrat lelakinya terlalu menggebu.
“Jika lapar ya makan makanan, bukan memakanku, kau seperti kanibal jika memakanku,” seloroh Diora setelah berhasil melepaskan pagutannya.
Mendesah frustasi Davis mendengar ucapan istrinya. “Bukan memakan dagingmu, tapi memakan dalam hal lain.”
“Memangnya apa yang bisa dimakan dariku?” tanya Diora begitu polosnya.
“Ini.” Pria itu langsung melahap sesuatu yang kenyal disana. Memainkan lidahnya untuk menyalurkan gelenyar-gelenyar aneh pada istrinya.
Wanita itu pun terbuai dengan permainan suaminya yang begitu halus hingga melupakan perutnya yang keroncongan beberapa saat lalu.
...........
Di Melbourne, keluarga Dawson begitu terguncang dengan kebangkrutan perusahaannya yang begitu cepat.
Asisten Dawson yang bernama Gio pun entah kemana. Seolah hilang ditelan bumi, pria itu pun menghilang dan tak muncul di perusahaan untuk membantu tuannya. Entah masih hidup atau sudah mati akibat disiksa oleh tuannya beberapa waktu lalu.
__ADS_1
“Ma ... aku begitu rindu mendengar rintihan,” rengek Celine menggoyang-goyangkan tubuh Cassandra.
“Kau fikir aku tidak?” sembur Cassandra.
“Bagaimana ini ma? Kita tak bisa membayar orang untuk kita siksa jika kondisi keuangan seperti ini terus.” Celine begitu khawatir akan kepuasan batinnya. “Aku punya ide.”
“Apa?” Cassandra nampak antusias.
“Bagaimana jika kita menyiksa saja si jalang istri pertama Dawson itu.”
“Ide bagus, ayo kita kesana sekarang, aku sungguh sudah tak tahan lagi mendengar rintihan orang.”
Ibu dan anak itu pun pergi menuju ke rumah sakit jiwa dibawah naungan Dawson Group. Dimana Natalie berada selama ini.
Setelah sampai di tempat tujuan, dua wanita beda generasi itu melenggang dengan tak sabaran menuju ruang isolasi di bawah tanah. Ruangan yang begitu sempit, gelap, dingin, minim inhalasi, tak banyak orang yang mengetahui dan tak sembarang orang mudah masuk ke sana. Hanya enam orang yang bisa masuk ke ruangan itu, Cassandra, Celine, Dawson, Gio, Dokter, dan Perawat.
Membuka pintu dengan begitu kerasnya hingga engsel pintu lepas bagian atasnya. Sengaja melakukan itu agar manusia yang ia harapkan akan memuaskan kejiwaannya terkaget begitu saja.
__ADS_1
“Kosong!”