
Diora dan Gabby telah selesai mengikuti ujian hari terakhir mereka sebelum liburan musim panas. Gabby berencana mengajak sahabatnya untuk pergi ke cafe sejenak untuk menenangkan pikiran yang begitu memanas setelah berfikir keras menjawab setiap soalnya.
“Apa kau akan dijemput suamimu lagi?” tanya Gabby.
“Tidak, aku berangkat dengan mobil sendiri,” jawab Diora.
“Temani aku ke cafe depan kampus yuk, sudah lama sekali kita tak kesana,” ajak Gabby penuh harap.
“Boleh, lagi pula ini masih siang, suamiku pasti belum pulang kantor juga,” ujar Diora menyetujui.
Mereka pun akhirnya berjalan kaki menuju ke tempat tujuan. Letak cafe yang berada persis di depan kampus, sehingga tak memerlukan kendaraan untuk kesana.
“Kita duduk disana saja.” Gabby menunjuk tempat duduk khusus dua orang yang berada di pojok.
“Oke, kau duduk disana dulu agar tak ditempati orang, aku akan memesankan minuman untukmu,” pinta Diora. “Seperti biasa kan?”
Gabby mengganggukan kepalanya.
Tak banyak antrian pelanggan, Diora pun hanya butuh menunggu waktu tiga menit hingga pesanannya siap.
Wanita itu berjalan dengan anggun, kedua tangannya membawa cup berisi iced caramel macchiato dan satunya iced americano.
Segera meletakkan kopi dingin yang terlihat begitu hitam ke hadapan Gabby. “Kau melamun?” tanyanya.
__ADS_1
Gabby langsung mengalihkan pandangannya ke Diora. “Tidak, aku hanya menghitung kendaraan yang lewat agar tak bosan menunggumu,” kilahnya.
Diora terkekeh seraya membenamkan dirinya di kursi. “Untung kau tak tertidur setelah menghitungnya seperti Mr. Bean setelah menghitung lukisan domba,” kelakarnya.
“Bagaimana hubunganmu dengan suamimu?” Gabby ingin memastikan bahwa Diora bahagia dengan pernikahannya.
“Baik, bahkan aku sudah melakukan itu.” Diora memberi kode dengan kedua telunjuknya saling bertemu dan wajahnya bersemu merah.
“Artinya kau sudah mulai menerimanya dan mencintainya?”
Diora menganggukkan kepalanya. “Tidak ada alasan untuk tak menerimanya, dia memperlakukanku dengan begitu baik.” Menerbitkan senyum bahagianya.
“Bagus, semoga lekas hadir bayi-bayi kecil yang menggemaskan.”
“Jangan menunda, jika memang Tuhan menitipkanmu anugrah seorang anak, maka terimalah dengan lapang dada, banyak wanita yang ingin hamil namun tak juga diberikan kepercayaan itu. Belum tentu sekarang kau menundanya, lalu ketika kau menginginkannya akan langsung diberikan. Jadi, biarkan semua berjalan dengan sendirinya sesuai kehendak Tuhan.” Gabby menasehati Diora.
Diora nampak berfikir, ada benarnya juga semua yang dikatakan Gabby. “Kau benar, untung aku belum jadi membeli obat penunda kehamilan.”
“Ck ... kau itu, tidak baik mengkonsumsi obat itu,” decak Gabby.
“Kau sudah seperti adik yang mencemaskan kakaknya saja,” seloroh Diora.
Memang aku adikmu. Ingin Gabby mengatakan itu, namun ia hanya membalas dengan senyuman saja.
__ADS_1
“Kapan kau akan menyusulku menikah juga? Aku juga ingin melihat kau bahagia dengan pasanganmu.” tanya Diora.
“Mungkin tak akan pernah.”
“Kenapa? Apa kau berencana melajang seumur hidupmu?”
“Mungkin saja.”
“Kau akan kesepian nantinya jika hidup sendiri terus, aku pun pasti tak akan bisa banyak waktu seperti dulu lagi denganmu.”
“Aku tau, biarkan hidupku mengalir dengan sendirinya, kau tak perlu mencemaskanku.”
Mereka pun akhirnya mengobrol hal-hal yang tak terlalu penting begitu banyak, hingga waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.
“Aku harus segera pulang, suamiku pasti sebentar lagi akan pulang,” pamit Diora.
“Hmm.” Gabby pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Setelah kepergian Diora, Gabby hanya bisa menghela nafasnya. “Sendiri lagi,” desahnya seraya menyeruput iced americano.
Gabby enggan pergi dari cafe itu, wanita itu hanya menatap kosong ke arah luar cafe yang terlihat jelas dari posisi duduknya saat ini. Ditambah kaca sebagai dinding cafe yang begitu bersih mengkilap membuat lalu lalang kendaraan begitu jelas terlihat.
Lamunannya terhenti tat kala ada seseorang yang memanggilnya.
__ADS_1
“Gabby?”