My Rich Husband

My Rich Husband
Part 88


__ADS_3

Honeymoon yang dijadwalkan selama satu minggu telah usai.


Dua hari mereka lalui untuk perjalanan pulang pergi. Sebab mereka tak kenal Barbie Kumalasari, mungkin jika mereka mengenalnya tak butuh waktu lama untuk perjalanan udara Finlandia-Indonesia dan Indonesia-Finlandia.


Dua hari untuk menunggu sang Cinderella terbangun dari tidur panjangnya.


Tiga hari digunakan untuk terapi dan berjalan-jalan di Bali dan Nusa Tenggara. Tak lupa juga Davis menemukan lokasi yang cocok untuk dijadikan resort cabang usahanya di Indonesia. Pria itu sangat memanfaatkan liburannya dengan sekali dayung dua pulai terlampaui.


Terapi Diora pun membuahkan hasil. Wanita itu sudah sembuh dari fobianya, berkat dukungan dari suami dan sahabatnya.


Hubungan Davis dan Diora semakin mesra semenjak pengakuan cinta dari Davis. Namun tetap saja ada yang terlupakan dari pernikahan mereka. Cincin!


Tak ada belah duren maupun malam pertama. Diora belum siap dan Davis tak memaksanya, sebab ia sudah berjanji dengan dirinya sendiri untuk tak memaksa istrinya lagi.


...........


Mereka kini sudah di Helsinki Airport.


“George, kau antar Gabby dan Sophie pulang,” titah Davis seraya merangkul istrinya. Pasangan itu sudah seperti perangko menempel terus, lebih tepatnya Davis yang selalu menempel.

__ADS_1


“Hmm,” jawab George.


“Tak perlu, aku akan pulang sendiri naik taksi,” cela Gabby, mencari-cari kopernya. “Dimana koperku?” tanyanya pada George yang ia curigai.


George mengedikkan bahunya. “Mungkin hilang,” balasnya dingin. Padahal koper Gabby sudah lebih dulu dimasukkan olehnya ke bagasi mobil ketika wanita itu mengantarkan Sophie ke toilet.


“Awas saja jika kau menyembunyikan koperku,” ancam Gabby.


“Kopermu sudah dimasukkan ke bagasi olehnya,” terang Diora yang kasian dengan kebingungan sahabatnya.


“Kau ....” Gabby menuding Geroge dengan telunjuknya. “Keluarkan koperku sekarang juga!” perintahnya.


“Kalian ini seperti kucing dan tikus, tak pernah akur,” seloroh Diora. Wanita itu sepertinya lupa atau tidak berkaca dengan dirinya sendiri. Ia dan suaminya pun tak jauh berbeda dengan sahabatnya itu, selalu saja tak akur dan saling berbalas membuat kesal satu sama lain. Sebelum akhirnya menjadi pasangan yang mesra. “Lebih baik kau bersamanya, lebih aman daripada sendiri.”


“Masuk! atau ku gendong lagi kau,” Geroge membukakan pintu untuk Gabby.


“Cih ... tak sudi.” Gabby membuka pintu lainnya, lalu masuk ke dalam mobil.


...........

__ADS_1


Diora dan Davis kini berada di penthouse.


“Kau lapar?” tanya Diora seraya meletakkan cappuccino panas di meja.


“Hmm ... tapi aku sangat ingin memakanmu,” seloroh Davis. Jujur saja, ia pria normal yang lama tak menyalurkan hasrat kejantanannya. Bagimana bisa dirinya menahan lebih lama lagi.


Davis menarik Diora hingga wanita itu terduduk di pangkuannya. Ia sudah siap untuk melahap bibir istrinya.


“No ... no ... no ....” Diora menggerakkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri tepat di hadapan wajah Davis.


Membuat Davis mendesah frustasi dan mengacak-acak rambutnya. “Sampai kapan?”


“Sampai aku siap,” jawab Diora seraya turun dari pangkuan Davis.


“Satu minggu, aku beri waktu satu minggu untuk kau mempersiapkan dirimu,” ujar Davis tak ada bantahan.


Diora menyetujuinya, wanita itu kemudian ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


Davis hanya bisa melihat istrinya dari belakang. Juniornya sungguh tersiksa saat ini. Tubuh istrinya yang begitu menggoda dibalut kaos tipis dan celana pendek. Ditambah rambut yang dicepol membuat semakin besar saja hasrat dalam dirinya meronta minta disalurkan.

__ADS_1


__ADS_2