My Rich Husband

My Rich Husband
Part 86


__ADS_3

Kini Diora telah siap untuk berjemur. Ia tetap menggunakan pakaian panjangnya, namun tak menggunakan tutupan kepala dan wajah lagi.


“Sudah siap?” Davis mengulurkan tangannya untuk dijadikan pegangan oleh sang istri.


Diora menggeleng pelan, dirinya sungguh tak yakin bisa melakukan itu. Jantungnya bahkan kini sedang berdegub kencang saking takutnya.


“Percaya padaku, kau bisa melewatinya.” Mereka pun mulai berjalan keluar. “Tarik nafas dalam-dalam, keluarkan ... ulangi terus ketika kau mulai ketakutan,” tuntunnya.


Diora sungguh melakukan apa yang diucapkan oleh suaminya.


Dari kejauhan, sudah ada Sophie yang menunggu mereka di bawah pohon kelapa.


Sepasang suami istri itu langsung menghampirinya.


“Semua akan baik-baik saja,” ujar Sohpie menenangkan tat kala dirinya melihat raut wajah Diora yang cemas.


“Kau yakin aku bisa melawannya?” Diora nampak sedikit resah.


“Keyakinan ada dalam dirimu, jika kau yakin, pasti akan bisa melewatinya,” balas Sohpie. “Coba tanamkan dalam dirimu, bahwa panas itu tak menakutkan, sembari menarik dan menghembuskan nafas perlahan.”


Diora sungguh melakukannya.


“Kita pemanasan dulu.” Sophie memposisikan tubuh Diora agar membelakangi matahari, sehingga punggunya yang akan terkena panas.


Satu menit ...


Dua menit ...


Tiga menit ...

__ADS_1


Hingga sepuluh menit ...


Tubuh Diora tak bereaksi apapun.


“Wah ... hebat, kau bisa melewati pemanasan ini.” Acungan jempol Sophie berikan sebagai apresiasi.


Sudut bibir Davis pun terangkat sempurna melihatnya. Ia juga bahagia istrinya dapat melewatinya.


Begitupun Diora, dia sungguh tak menyangka bisa bertahan selama itu.


“Lanjut ya ... sekarang kita coba untuk menghadap sang surya.” Sophie mulai membalikkan badan Diora.


Satu menit ...


Dua menit ...


Davis langsung melepaskan jaketnya dan menutupkannya pada kepala Diora. “Tenanglah ... atur nafasmu seperti yang aku katakan tadi.”


“Maafkan aku ... aku belum bisa melewatinya.” Diora memeluk tubuh kekar suaminya, isakan kecil keluar dari bibirnya.


Mengelus lembut punggung itu, Davis menuntun Diora untuk kembali ke kamar. “Hari ini sudahi sampai disini saja,” titahnya pada Sophie.


...........


Di dalam kamar, Diora sudah mulai normal kembali.


“Ketika aku tertidur, ada seseorang yang mengatakan bahwa dia mencintaiku dan mengaku kalah taruhan padaku,” Diora mulai membuka perbincangan. “Apa itu kau?”


“Tidak,” bohong Davis.

__ADS_1


“Ku kira itu kau, suaranya sangat mirip denganmu ... padahal aku terbangun karena itu.” Diora mengerucutkan bibirnya merajuk.


“Mungkin kau sangat ingin aku mencintaimu sehingga terbawa hingga ke mimpimu,” elak Davis mengelus lembut rambut istrinya.


“Yasudah, aku akan kembali tertidur lagi saja, lagipula tak ada yang mencintaiku dan menungguku,” ancam Diora. Wanita itu sudah siap hendak keluar kamar untuk berjemur di bawah teriknya matahari.


Davis mencekal tangan Diora, ia langsung memeluk tubuh pelukabel itu dari belakang. “Jangan ... ku mohon jangan ... aku mencintaimu,” akunya.


Senyum merekah muncul dari bibir Diora. Ia membalikkan tubuhnya untuk menatap suaminya. “Kau kalah taruhan ... berarti kau harus mendapatkan hukuman dariku atau kau harus menuruti permintaanku.”


“Katakan saja.” Mengeratkan rengkuhannya ketika istrinya membalas hal serupa.


“Ijinkan aku membaca novel lagi,” pinta Diora.


“Tidak, selain itu, aku tak mengijinkanmu,” tolak Davis, menuntun ke ranjang untuk duduk.


Mendengus sebal Diora, hobinya yang selama bertahun-tahun harus ia relakan.


“Bagaimana jika aku membuatkanmu perusahaan dibidang arsitektur?” tawar Davis.


“Kau yakin?”


“Hmm.”


“Oke deal.” Mengulurkan tangannya untuk membuat kesepakatan.


Davis membalas uluran tangan itu, bukan untuk berjabat tangan. Namun untuk ia kecup punggung tangannya.


Tak masalah dilarang membaca novel, toh dia bisa diam-diam menginstal lagi. Namun, perusahaan arsitektur yang sangat ia inginkan? Tentu saja tak dapat ditolak tawaran menggiurkan itu.

__ADS_1


__ADS_2