
Kini giliran Lord yang melemparkan iPad ke hadapan dua wanita gila itu. Terlihat video dimana Natalie sedang dijajakan pada banyak pria hidung belang.
“Apa kalian yang melakukan itu?” tanya Lord dengan rahangnya yang sudah mengeras.
“Ya! Kenapa? Bukankah wanita itu memang jalang? Dia cocok dijadikan wanita bergilir seperti itu ... hahaha.” Tawa Cassandra pecah mendengar lagi rintihan dan raungan minta tolong dari suara speaker benda pipih yang besar itu.
Plak ...
Anak buah Cosa Nostra menampar keras wajah Cassandra hingga tubuhnya tergeletak lagi.
“Papa ... enaknya kita apakan mereka?” Davis bertanya pada Lord.
“Siapa yang kau panggil papa?” Lord balas bertanya.
“Kau, siapa lagi!” decak Davis dengan sedikit kesal. Niat hati ingin seperti pasangan menantu dan mertua yang kompak melakukan balas dendam, ternyata Lord tak peka.
“Oh ... bagaimana jika kita bakar mereka hidup-hidup?” tawar Lord membuat tubuh ketiga tawanannya bergetar ketakutan.
“Ide bagus.” Davis menyetujui.
“Membosankan,” decak George. Ia berdiri hendak keluar karena merasa bosan dengan pembalasan yang begitu-begitu saja.
__ADS_1
“Mau kemana kau?” tanya Davis.
“Kau akan tau nanti.”
George keluar sebentar, entah apa yang ia lakukan. Pasalnya, dirinya kembali lagi masuk ke dalam.
“Hei pak tua gila.” George menunjuk Dawson. “Apa kau ingin menonton adegan dewasa secara langsung? Ku fikir kau bosan dengan permainan kedua pria ini! Aku yang baik hati ini akan memberikanmu hiburan spektakuler,” imbuhnya masih dengan wajah Dingin.
“Apa maksudmu?” Davis dan Lord bertanya bersamaan.
George tak ingin menanggapi, ia memberikan isyarat pada orang yang menjaga pintu untuk membuka besi kotak yang menutup ruangan itu.
Anak buah Cosa Nostra berjumlah dua puluh orang masuk dan memenuhi ruangan sempit itu.
“Kau, membuat kita semakin sesak, bodoh,” umpat Davis pada sahabatnya.
“Keluarlah, jika kau ingin ikut menontonnya silahkan saja.” George melenggang keluar ruangan. Tanpa memberikan perintah lagi pada anak buah Cosa Nostra, sebab ia sudah memberikan arahan ketika mengumpulkan mereka tadi.
Davis dan Lord pun ikut keluar. Mereka menunggu di luar ruangan.
“Apa yang kau perintahkan pada mereka?” Davis masih penasaran. Sebab, sahabatnya itu selalu memberikan ide dan mengeksekusi secara dadakan.
__ADS_1
“Aku hanya memberikan keluarga gila itu tontonan gratis. Bukankah mama Diora digilir pada pria hidung belang? Aku hanya membantu kalian membalas perbuatan yang sama, biarkan anak buah kalian itu bersenang-senang gratis dengan tubuh mereka.” George menjelaskan dengan santai, tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
“Ternyata temanmu ini lebih mengerikan dibanding kau.” Lagi-lagi Lord menghina Davis dan memuji George. “Kenapa menantuku harus kau, bukan dia,” hinanya lagi.
“Tapi aku lebih kaya dibanding dirinya,” timpal Davis tak mau kalah.
“Hei! jangan lupakan aku dari keluarga Giorgio, pengusaha terkaya kedua di Eropa.” George tak mau kalah juga.
“Ck! Meskipun kau dari keluarga kaya, tapi kau lebih memilih menjadi asistenku daripada meneruskan perusahaan orang tuamu,” ejek Davis yang tahu betul kehidupan keluarga George.
“Malas aku mendapatkan kekayaan dari warisan, tak ada menantangnya,” kilah George.
Lord semakin kagum saja dengan George, sudah tampan, pekerja keras, pintar. “Seandainya menantuku itu kau.” Ia menepuk pundak George.
“Sayangnya, anakmu yang satu itu sangat sulit didekati,” gerutu George mengingat berkali-kali ia mencoba mendekati Gabby namun tetap saja wanita itu tak pernah membuka hati.
“Kau, harus berjuang keras mendapatkannya, jika perlu, gunakan cara licik seperti menantuku satu itu,” kelakar Lord memberikan candaan. Namun dianggap memberikan ide bagi George.
“Itu adalah pilihan terakhir,” sahut George santai.
Mereka bertiga pun naik dari area bawah yang sangat pengap itu. Menunggu ajang pergiliran selesai. Ketiga pria itu saling bercengkrama mengakrabkan satu sama lain. Menikmati angin di lautan lepas, menenggak wine, dan menyesap nikotin bersama.
__ADS_1