My Rich Husband

My Rich Husband
Part 128


__ADS_3

Davis dan Lord berjalan bersamaan dengan aura mendominasi. Begitu angkuh namun terlihat berkarisma. Angin laut yang berhembus pun menambah pancaran ketampanan mereka.


“Dimana George?” tanya Davis pada anggotanya yang berjaga di kapal itu.


“Disana, tuan.” Menunjuk seorang pria dan wanita di tepi kolam renang.


Mereka segera berjalan menghampiri arah yang ditunjuk.


“George,” panggil Davis.


Suara Davis membuat George memutar kepalanya menatap sumber suara. Sedangkan Gabby tak perduli sama sekali, sebab dirinya tak merasa dipanggil.


“Apa?” tanya George ketus.


“Sudah waktunya,” kode Davis yang hanya dimengerti oleh George saja.

__ADS_1


“Mengganggu saja,” gerutu George sangat lirih. Segera berdiri meninggalkan Gabby sendiri. “Aku pergi dulu,” pamitnya.


“Hmm,” jawab Gabby singkat dan acuh.


George begitu kesal, sebab acaranya untuk mendekati Gabby diganggu oleh sahabat dan calon mertuanya. Padahal, tanpa dirinya pun mereka bisa melakukan sendiri. Ditambah, ia tak memiliki urusan dengan keluarga gila yang akan dieksekusi. Awas saja jika dirinya tak dibutuhkan disana. Dengan menggerutu di dalam hatinya, ia tetap berjalan mengikuti Davis dan Lord.


Ketiga pria tampan itu berjalan beriringan keluar kapal, segera menaiki boat yang sudah disiapkan untuk menuju kapal pesiar milik Davis.


Deburan ombak yang begitu kencang mengiringi perjalanan mereka selama sepuluh menit.


Kedatangannya langsung disambut oleh anak buah Cosa Nostra yang banyak berjaga di kapal itu.


“Di bawah, tuan.”


Anggota Cosa Nostra segera mengantarkan bosnya untuk menuju ruangan di bagian bawah kapal yang begitu sempit, pengap, tak ada inhalasi, dan sangat panas. Sebagai balasan pada mereka yang menyekap Diora dan Natalie tanpa belas kasihan selama bertahun-tahun. Itu pun belum impas, sebab mereka baru disekap disana selama satu jam. Itu pun dalam kondisi tak sadarkan diri.

__ADS_1


“Silahkan, tuan.” Segera membukakan pintu besi di hadapannya.


Terlihat tiga orang masih terpejam matanya, tubuhnya diikat kuat dengan tali kapal yang begitu tebal dan kuat.


Keluarga Dawson yang gila itu telah masuk ke dalam perangkap Davis, George, dan Lord. Niat hati ingin menjebak, malah mereka yang terjebak. Pelayan yang memberikan wine adalah anggota Cosa Nostra. Di dalam wine itu sudah bercampur obat tidur dengan dosis yang tinggi, sehingga dalam sekejap langsung tertidur. Ketika target mulai tertidur, anak buah Davis membawa mereka ke kapal pesiar Davis yang memang disiapkan untuk tempat eksekusi.


Bisa saja mereka langsung dibunuh dengan memenggal kepalanya langsung, atau diberi sianida. Namun itu tak akan seru dan tak akan impas. Siksaan harus dibalas dengan siksaan pula. Jika langsung tiada, maka mereka tak akan merasakan sakit.


“Kau, urus wanita-wanita jalang itu,” titah Davis pada Lord menunjuk Cassandra dan Celine, sebab ia tahu betul jika mertuanya sangat ingin memberikan pelajaran pada dua wanita yang telah membuat Natalie menjadi gila. “Aku akan mengurus si brengsek ini,” imbuhnya menunjuk Dawson.


“Terus, untuk apa aku disini?” celetuk George merasa dirinya tak ada tugas disana.


“Kau, urus saja jalang gila yang itu jika mau.” Davis menunjuk Celine.


“Cih! Tak sudi aku mengotori tanganku, lebih baik aku kembali ke pesta dan melanjutkan mendekati anak Lord,” tolak George dengan wajah dinginnya menatap risi pada tiga orang yang tergolek tak berdaya di hadapannya. “Jika tak dibutuhkan, aku akan pergi, kalian sungguh menyebalkan mengganggu pendekatanku.” Ia hendak melenggang keluar.

__ADS_1


“Berhenti, siapa yang menyuruhmu pergi! Kau, tetap disini.” Davis menghentikan langkah George. Ia pasti akan membutuhkan sahabatnya itu, sebab George selalu memiliki ide yang datang tiba-tiba dan selalu sangat membantunya.


“Ck! Menyusahkan.” Meskipun berdecak malas, namun George tetap disana. Dirinya yang setia kawan memang tak pernah bisa meninggalkan sahabatnya itu meskipun kesal sekalipun.


__ADS_2