My Rich Husband

My Rich Husband
Part 49


__ADS_3

“Melayani suami di atas ranjang?” Dengan wajah kaget, Diora masih melanjutkan membaca poin perjanjian untuk dibuat kesepakatan bersama yang saling menguntungkan. “Aku tidak mau melakukan itu sebelum kita saling mencintai, hubungan seperti itu harus dilakukan pada pasangan yang saling mencintai,” timpalnya.


“Bukankah sudah jelas pada poin pertama, bahwa pihak pertama dan kedua harus saling mencintai,” tegas Davis mengingatkan.


“Tapi kita belum saling mencintai dan baru mengenal, mana bisa secepat itu cinta dengan orang yang baru dikenal,” tampik Diora. “Lagi pula aku masih dua puluh tahun, aku belum ingin hamil dan memiliki anak.”


“Aku tidak janji,” balas Davis sembari mengedikkan bahunya. “Sudahlah ... kau tanda tangani saja itu, lagi pula kau tak ada hak untuk mengaturku,” ketusnya. Ia sudah tak sabar ingin segera istirahat, dirinya juga ingin merebahkan tubuh dan bertamasya ke alam mimpi. Sebelum besok pagi harus terbang kembali ke Helsinki.


“Tapi poin berikutnya tetap saja semuanya menguntungkanmu,” sahut Diora. “Harus memberikan ciuman ketika sebelum tidur, bangun tidur, sebelum berangkat kerja, dan sepulang kerja ... harus meminta ijin ketika akan pergi atau melakukan apapun ... menuruti semua perintah suami tanpa bantahan ... hal-hal yang belum diatur akan diatur pada kemudian hari oleh pihak pertama.” Diora mambacakan seluruh isi perjanjian dengan nada kesal.

__ADS_1


“Kau tanda tangani saja, lagi pula tidak ada poin yang menyiksamu,” tukas Davis memberikan sorot mata mengintimadi. “Jika kau tak menandatanganinya sekarang juga ...,” ucapnya menggantung, memberikan senyuman penuh arti dan berjalan mendekat ke arah Diora. “Akan ku lanjutkan kegiatan yang tertunda di butik,” bisiknya tepat di telinga Diora.


Membuat bulu kuduk Diora meremang lagi, buru-buru ia membubuhkan tanda tangannya tepat menyentuh materai di kertas itu. Ia akan menyelamatkan dirinya dari terkaman singa kelaparan saat ini. Selanjutnya, ia akan memikirkan cara untuk menghindari kegiatan ranjang yang sewaktu-waktu akan terjadi.


“Puas?” Diora mengembalikan kertas perjanjian dengan wajah yang ditekuk.


“Good girl.” Davis mengambil dan menyimpan kembali dokumen yang sangat penting untuknya.


Merebahkan dirinya pada kasur empuk berukuran king size yang mewah itu. Senyumnya merekah tat kala mengingat Diora sudah ada pada genggamannya. Ia tak sadar bahwa dirinya bahagia di atas penderitaan sepasang insan yang saling mencintai, namun tak dapat saling memiliki lagi.

__ADS_1


Sedangkan Diora, ia masih berada di balkon. Rasa kantuknya tiba-tiba menguap setelah membaca dan membubuhkan tanda tangannya, menyetujui seluruh isi perjanjian yang akan mengikatnya dengan pria yang tak pernah ia fikirkan sebelumnya akan masuk ke dalam kehidupan percintaannya.


Bahkan ia merasa dirinya akan terjebak selamanya dengan pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


Meskipun Davis adalah pria tampan, lebih tampan dari Danzel, dan terlihat seperti orang kaya. Namun ia merasa akan berat menjalani kehidupan bersama Davis. Mengingat dirinya yang selalu dibuat kesal setiap saat. Dan juga sifat arogannya yang suka berlaku seenaknya.


Malam semakin larut, namun Diora tak juga masuk ke dalam kamar. Ia masih memandang langit tanpa bintang yang bertebaran dengan tatapan kosong.


Ia harus merelakan cintanya, melupakan angan memiliki keluarga yang harmonis, tenang, tentram, dan damai. Merelakan segala kebebasan dirinya melakukan kegiatan positif yang selama ini membuatnya bahagia menjalani hidup sebatang kara. Kini ia harus terikat dengan pria otoriter.

__ADS_1


Dengan langkah gontai dan tak bersemangat sama sekali, Diora memasuki kamarnya. Tak lupa mengunci pintu yang terhubung ke balkon. Ia sudah tak tahan dengan udara malam yang semakin dingin menelusup kulitnya.


Langkahnya terhenti, tubuhnya bahkan melemas tat kala melihat pemandangan yang memenuhi kornea matanya.


__ADS_2