My Rich Husband

My Rich Husband
Part 149


__ADS_3

Davis selesai mendonorkan darahnya. Tiga kantung penuh ia sumbangkan untuk Gwen yang sudah rela berkorban demi istrinya.


Sebelum kembali ke ruang rawat Diora, Davis menjenguk Gwen terlebih dahulu.


“Pindahkan ke ruang VVIP, setelah aku selesai menjenguknya,” titah Davis pada perawat yang baru saja keluar ruangan Gwen dan berpapasan dengan dirinya.


Ruangan yang saat ini ia masuki hanyalah kelas satu. Meskipun diisi satu orang, tapi kurang nyaman baginya. Terlebih Gwen rela mati untuk istrinya.


Davis langsung duduk di kursi samping brankar. Perasaannya saat ini biasa saja, sudah tak ada cinta untuk wanita yang terbaring tak sadarkan diri dengan balutan perban di kepala.


“Terima kasih atas semua yang kau korbankan, aku tak tahu lagi harus membalasmu dengan apa, aku akan menanggung semua biaya kehidupanmu dan anakmu sebagai gantinya, karena aku juga yang menjebloskan Sanchez ke jeruji besi,” ucap Davis tanpa memegang tangan Gwen seperti saat dirinya bersama Diora.


Gwen mengerjapkan matanya setelah mendengar suara Davis. Untuk beberapa saat ia terdiam mengumpulkan nyawanya kembali.


“Kau sudah sadar?” Kalimat pertama yang didengar oleh Gwen.


Seandainya pemilik suara itu adalah suaminya, ia pasti akan sangat bahagia sekali. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Pria itu hanyalah mantan kekasih terindah seumur hidup Gwen dan tak akan pernah dilupakan sepanjang sejarah percintaannya.

__ADS_1


“Akan ku panggilkan dokter.” Davis memencet tombol yang berada di atas brankar.


Tak lama, dokter pun masuk. “Saya periksa sebentar.” Ia langsung melakukan tugasnya mengecek seluruh kondisi Gwen.


“Bagaimana keadaannya, dok?” tanya Davis setelah dokter selesai memeriksa.


“Kondisinya baik, tak ada kerusakan pada organnya, beruntung langsung diberikan pendonoran darah.”


Davis mengangguk mengerti.


Dokter tersenyum, ia tak mungkin mengatakan yang sesungguhnya pada pasiennya langsung. Bisa saja kenyataan yang ia berikan akan membuat kondisi mental Gwen terguncang jika tak menerima dengan lapang dada.


“Bisa bicara sebentar di ruangan saya?” pinta dokter itu pada Davis. Ia ingin bicara berdua saja.


“Bisa.” Davis langsung bangkit. “Aku permisi dulu,” pamitnya pada Gwen. Wanita itu hanya mengangguk.


Setibanya di ruangan dokter, Davis langsung dipersilahkan duduk.

__ADS_1


“Sesungguhnya, apa yang terjadi dengannya?” Davis langsung bertanya tanpa basa-basi.


“Pasien mengalami kelumpuhan pada kakinya, bisa kelumpuhan sementara jika langsung dilakukan terapi, namun jika dibiarkan terlalu lama akan menjadi permanen,” terang dokter memberitahu kondisi Gwen.


“Lakukan saja langsung, dia harus merawat anaknya, akan sulit jika lumpuh permanen pada kakinya, berikan penanganan terbaik, jika perlu rekomendasikan rumah sakit yang terbaik, berapapun biayanya tak masalah asalkan bisa mengembalikan fungsi kakinya seperti semula,” tegas Davis.


“Kami akan merekomendasikan rumah sakit yang berada di Inggris, disana sangat bagus.” Dokter itu meminta persetujuan.


“Lakukan saja.” Lebih baik Gwen berada jauh dari mamanya, karena Davis akan memberikan hukuman yang sangat berat untuk mama Gwen.


Selesai berbincang, Davis kembali lagi ke kamar Gwen.


Wajah cantik itu menyunggingkan senyumnya, sedikit meringis menahan sakit. Ketika tubuh tampan menyembul dari balik pintu.


“Kau akan dipindahkan ke Inggris untuk mempercepat kesembuhanmu, aku akan menanggung semua biayanya dan biaya hidupmu beserta anakmu disana, semua sebagai ucapan terima kasihku untukmu.” Davis berucap setelah mendaratkan tubuhnya di kursi. “Aku tak tahu harus membayarmu dengan apa, hutang budiku terlalu besar,” imbuhnya.


“Tak perlu merasa berhutang budi denganku, aku melakukannya karena tak ingin mamaku mencelakai orang lain, terlebih demi ambisinya yang menginginkanku kembali denganmu,” tutur Gwen lembut.

__ADS_1


__ADS_2