My Rich Husband

My Rich Husband
Part 123


__ADS_3

Setelah acara peresmian perusahaan milik Diora, Davis langsung mengajak istrinya itu untuk ke Port of Helsinki, salah satu pelabuhan yang ada di Kota Helsinki.


Tempat dimana acara inti yang begitu megah dan mewah sepanjang sejarah pebisnis di Eropa akan diadakan.


“Wahh ... indah sekali, My Love, ini milikmu?” Diora bergeleng kepala, kagum sekali dirinya melihat kapal pesiar yang sangat besar di hadapannya. Ini adalah kali pertamanya bisa melihat langsung dan naik ke kapal pesiar, biasanya hanya bisa melihat dari gambar dan video saja.


“Bukan, aku hanya menyewa,” kelakar Davis seraya merengkuh pundak Diora dan mengajak istrinya untuk berjalan naik ke cruise liner itu.


“Ku kira kau itu tuan muda yang kaya raya dan memiliki segalanya, ternyata kau hanya menyewa saja,” seloroh Diora yang sudah terlalu berekspektasi tinggi tentang suaminya. “Apa kau tuan muda pelit dan perhitungan?” tanyanya.


Davis terkekeh dengan ucapan istrinya. “Jika aku pelit dan perhitungan, pasti tak akan kuberi perusahaan yang begitu kau inginkan itu,” elak Davis.

__ADS_1


“Benar juga, tapi, kenapa kau menyewa bukan membeli? Kau tidak bangkrut kan karena membuatkan aku perusahaan?” Diora nampak sedikit resah, ia tak ingin menempatkan suaminya dalam masalah lagi karena dirinya.


“Jika aku bangkrut kenapa? Apa kau akan meninggalkanku?” tanya Davis mencoba menguji kesetiaan istrinya. Ia mengajak istrinya untuk melihat bagian atas kapal.


“Tentu saja—” Diora menggantungkan ucapannya dan melayangkan senyuman manisnya kepada suaminya.


“Apa? Jangan setengah-setengah jika berbicara,” paksa Davis tak sabar menunggu kelanjutannya.


Lagi-lagi jiwa pecinta arsitektur itu ingin mencari tahu tangan handal yang menciptakan keindahan di hadapannya. Bagaimana bisa terfikirkan ada sebuah istana yang terbangun di atas kapal, lengkap dengan landasan helikopter, taman, dan kolam renang. Kapal itu seperti sebuah istana yang mengapung di lautan.


“Lanjutkan dulu bicaramu tadi, aku akan memberitahu siapa desainernya,” tawar Davis seraya mengikuti langkah kaki istrinya yang terus berjalan menelusuri sudut demi sudut bangunan itu.

__ADS_1


Diora menghentikan langkah kakinya dan berbalik menghadap suaminya. “Kau, ingin jawaban dariku seperti apa?”


“Kenapa kau malah balik bertanya denganku?” decak Davis.


“Karena, aku akan menjadi seperti apa yang kau inginkan ... jika kau ingin aku tetap berada di sampingmu sekalipun kau jatuh miskin, maka aku akan seperti itu ... tapi jika kau ingin aku pergi meninggalkanmu karena kau takut tak dapat memberikanku kehidupan yang layak, maka aku akan tetap di sampingmu mendampingimu untuk bangkit lagi.” Diora merentangkan tangannya agar suaminya berlari dan segera memeluknya.


Namun Davis tak paham dengan kode itu, ia tetap saja tak bergerak. Pria itu berfikir bahwa Diora sedang menghirup udara lautan dan menikmati hembusan angin yang sangat kencang. Ia hanya tersenyum bahagia dengan jawaban istrinya.


“Kenapa kau diam saja? Kau itu harusnya berlari ke sini dan memelukku,” terang Diora yang sudah pegal merentangkan tangannya. “Kau itu tak romantis sekali,” hinanya. Ia menurunkan kembali tangannya dan segera berbalik dengan wajah masam. Mengayunkan kakinya dan merutuki suaminya.


Davis baru paham dengan keinginan Diora, ia langsung berlari menyusul istrinya yang sudah menjauh darinya. Ia langsung merengkuh tubuh yang candu baginya itu dari belakang. “Jangan pernah meninggalkan aku apapun keadaannya,” pintanya.

__ADS_1


__ADS_2