My Rich Husband

My Rich Husband
Part 34


__ADS_3

Mendengar Davis meminta air, membuat Diora ingin sekali membalas perbuatan pria arogan yang selalu membuatnya kesal itu. Otak jahilnya yang sudah lama tak pernah ia pergunakan, kini mendadak beroperasi memberikan ide untuk mengerjai Davis.


“Tunggu sebentar,” ujar Diora dengan tersenyum licik. Ia pergi menuju dapur yang berada di lantai satu itu.


Lumayan lama Diora mengambil air, entah apa yang dia lakukan di dapur kecilnya. Meskipun kecil, tapi terlihat rapih, elegant, dan luas. Tentu saja hasil karyanya sendiri yang seorang mahasiswa arsitektur.


Setelah lima menit, akhirnya Diora selesai juga mengambil air. Ia melangkah perlahan mendekati Davis dari arah yang dipunggungi oleh pria arogan itu. Lalu ia berdiri di samping Davis.


“Ini airnya tuan.” Diora menyiramkan air satu ember yang ia tampung langsung dari keran, sehingga lumayan lama menunggu hingga air penuh. Wajahnya terlihat puas mengerjai Davis.


“Apa yang kau lakukan!” bentak Davis dengan wajah kesalnya. Ia langsung menggigil kedinginan, sebab cuaca masih dingin dan air yang digunakan adalah air yang dicampur dengan es.


“Aku hanya memberikanmu air, kau sendiri tadi yang meminta air kepadaku,” balas Diora polos seperti orang tak bersalah. Lalu memberikan handuk yang memang sudah ia persiapkan sebelumnya.

__ADS_1


George yang melihatnya ingin tertawa terbahak-bahak, namun ia urungkan karena menjaga imagenya. Sehingga dirinya hanya menarik sedikit kedua sudut bibirnya.


“Kau itu bodoh atau terlalu pintar,” tuding Davis mengambil dengan kasar handuk dari tangan Diora.


“Bukan aku yang bodoh, tapi kau yang aneh ... sudah tahu cuaca masih musim dingin, tapi kau berkata kepanasan,” elak Diora sembari membantu mengelap tubuh Davis yang basah kuyup.


“Lihat!” seru Davis menunjuk tubuhnya. “Akibat ulahmu aku jadi basah kuyup dan kedinginan.”


“Kau pakai saja pakaian ini.” Diora memberikan pakaian ganti pria khusus musim dingin.


“Milik siapa?” tanya Davis heran, setahu dirinya Diora tinggal sendiri bahkan mantan kekasih Diora pun tak pernah menginap.


“Danzel,” jawab Diora tertahan sejenak. “Kekasihku,” imbuhnya dengan nada lirih. Tiba-tiba hatinya terasa berdenyut nyeri mengatakan itu. Pakaian Danzel yang pernah dipinjamkan kepada Diora ketika ia berkunjung ke Penthouse Danzel saat salju pertama turun secara tiba-tiba dan ia tak mempersiapkan pakaian musim dingin.

__ADS_1


“Tidak mau,” tolak Davis. “Aku tak sudi memakai pakaian mantan kekasihmu.” Ia melempar pakaian itu asal.


“Bagaimana kau tahu?” tanya Diora merasa aneh, sebab dia mengucapkan kata kekasih tanpa mantan di depannya.


“Orang tuli saja tahu jika kau mengatakannya dengan ragu, bagaimana bisa aku tak mengetahui itu,” elak Davis. Ia merasa bangga dengan otaknya yang sangat cepat mencari alasan.


“Ohh ....” Diora berohria dengan membetuk huruf o pada bibirnya dan kepalanya memanggut pertanda setuju dengan ucapan Davis. “Tapi aku tak memiliki baju untuk pria lagi.” Diora mencoba membongkar isi lemarinya yang tertata rapi, mencari pakaian hangatnya yang sekiranya cukup dipakai oleh Davis yang bertubuh dua seperempat kali lipatnya.


“Ini.” Diora memberikan pakaian hangatnya yang sudah lama tak pernah ia pakai dan terlihat besar sehingga menurutnya akan cukup jika dipakai oleh Davis.


“Apa tidak ada lainnya?” Davis nampak ragu untuk memakainya.


“Apa kau tak lihat tubuhku ini hanya secuil dari tubuhmu, masih syukur ada satu yang terlihat besar,” seloroh Diora. Mau tak mau, Davis pun memakainya.

__ADS_1


__ADS_2