
Diora, Davis, Gabby, dan George sudah berada di lobby gedung pencakar langit setinggi tiga puluh lantai itu. Gedung dengan dinding penuh kaca semua di luarnya, terlihat begitu megah. Lokasinya persis di depan perusahaan Davis yang tingginya mencapai lima puluh lantai. Sengaja Davis membeli gedung itu agar ia tetap dekat dengan istrinya. Tentu saja untuk memudahkannya menggagahi istrinya setiap saat ketika ingin melakukannya.
Di luar sudah banyak awak media yang siap meliput peresmian perusahaan baru dibawah naungan Triple D Corp itu.
Pita sebagai lambang peresmian perusahaan pun sudah melambai-lambai untuk segera dipotong.
“Kau siap?” tanya Davis seraya memegang tangan istrinya untuk berjalan ke luar gedung.
Diora menggelengkan kepalanya sebagai pertanda bahwa dirinya belum siap.
“Kenapa?”
“Aku tak tau harus melakukan dan berkata apa,” seloroh Diora membuat Davis terkekeh.
“Kau, hanya perlu memotong pita saja, biarkan aku yang berbicara,” jelas Davis. Ia membalikkan tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya, menahan tengkuk Diora dan mengangkat sedikit dagunya. Tanpa berlama-lama, ia langsung melahap bibir yang begitu candu baginya itu agar lebih bersemangat melancarkan aksinya hari ini.
__ADS_1
“Dasar pasangan tak tau malu!” cibir Gabby. “Apa kalian tak kasian dengan kaum jomblo seperti aku?” Ia mengalihkan pandangannya agar tak melihat adegan yang merusak mata dan hasratnya.
“Jika kau ingin, lakukan saja denganku,” seloroh George dengan wajah datarnya.
“Cih! Tak sudi aku melakukannya dengan pria dingin sepertimu, bisa-bisa aku terkena flu,” sinis Gabby mencebikkan bibirnya. Ia langsung berdiri dan merusak momen romantis sepasang manusia yang sedang saling bertukar saliva dan mengadu lidah itu. “Sudah cukup! Kalian bisa melanjutkannya di rumah.”
“Kau, benar-benar cocok dengan George, sama-sama pengacau!” rutuk Davis kesal.
“Sekali lagi kau mengatakan itu, ku buka rahasia kelicikanmu,” bisik Gabby tepat di telinga Davis. Membuat pria itu tak berkutik.
Pak tua itu pasti yang mengatakan padanya. Davis mengumpat dalam hati. Sedangkan Lord yang tak ada disana mungkin telinganya saat ini sedang gatal dan panas karena dibicarakan oleh menantunya.
“Aku tak menciumnya, aku hanya membisikkan sesuatu padanya,” timpal Gabby tak ingin ada kesalah pahaman.
“Benarkah?” Diora mendongakkan kepalanya menatap suaminya.
__ADS_1
Otak licik Davis bekerja ingin mengerjai Gabby sekaligus ingin mengetahui apa yang akan dilakukan istrinya jika ada perempuan lain berani menciumnya. “Tidak.”
Sial! Apa dia ingin mengadu domba aku dengan Diora? Gumam Gabby dalam hati. Matanya sudah mendelik menatap sang pelaku.
“Kau sahabatku, kenapa kau lakukan itu padaku! Jika ingin mencium pria, lebih baik kau cium saja dia.” Istri posesif itu mulai kesal tak terima. Ia menunjuk ke arah George.
Gabby mengepalkan tangannya tak terima dirinya difitnah, ia ingin membalas perbuatan Davis. Senyum smirk ia layangkan kepada pria di dekapan sahabatnya. “Diora, kau harus tau bahwa suamimu ini yang telah me—“ Ucapannya terhenti ketika George membekap mulutnya.
Gabby terus memukul tangan George agar menyingkir. Ia harus membalas Davis, enak saja ingin mengadu domba dirinya.
“Hei! Lepaskan dia! Biarkan dia menyelesaikan ucapannya,” pinta Diora ikut menarik tangan George.
“Ayo, kita harus segera melakukan peresmian.” Davis segera merangkul pundak Diora sebelum berhasil melepaskan tangan George. Ia tahu betul apa yang akan dibicarakan oleh Gabby. Beruntungnya ia memiliki sahabat sekaligus asisten yang begitu cepat tanggap. Mereka pun berjalan bersama meninggalkan dua manusia yang masih terus berseteru.
“Apa Gabby sunggu menciummu?” Diora masih penasaran disela perjalanannya menuju luar gedung.
__ADS_1
“Tidak, aku hanya mengetes seberapa posesifnya dirimu,” kilah Davis.
“Keterlaluan! Kau hampir membuatku bertengkar dengannya.” Cubitan yang sangat menyakitkan Diora layangkan pada perut suaminya.