My Rich Husband

My Rich Husband
Part 87


__ADS_3

Davis tak ingin honeymoonnya sia-sia hanya di dalam kamar saja. Ia berencana mengajak istrinya untuk jalan-jalan. Sebelum itu, ia sudah memerintahkan George untuk membeli kain yang dapat menutupi kepala istrinya dan masker. Semua itu harus yang modis, sebab ia tak ingin istrinya terlihat norak dan kampungan dengan kain yang biasa saja.


“Kita naik itu?” tanya Diora menunjuk sebuah motor vespa kekinian berwarna putih yang terparkir di depan pintu keluar.


“Tentu saja, apa kau tak bisa membonceng motor juga?” Davis menerima kunci motor dari sang pemilik.


Davis hanya menyewa, meskipun bisa saja langsung membeli. Tapi tak mungkin, sebab mereka tak menetap disana dan akan terbuang sia-sia uangnya. Pria itu sungguh perhitungan, tak seperti CEO lain yang sangat mudah menghamburkan uang mereka.


“Tidak, bukan seperti itu ... tapi, apa muat motor itu untuk kita berdua? Badanmu saja lebih besar daripada motornya,” kilah Diora membandingkan tubuh suaminya di samping motor.


“Tentu saja muat.” Davis tersenyum penuh arti. Dirinya memang sengaja menyewa motor yang kecil agar sesak dan tubuh mereka akan berdekatan. “Kau tak masalah, kan?”


“Hmm.” Tangan Diora hendak menggapai helm, namun benda itu sudah diambil terlebih dahulu oleh Davis.


“Aku saja yang memakaikannya.” Dengan hati-hati Davis meletakkan benda yang bulat tak sempurna itu ke kepala Diora.


Sepasang suami istri itu naik ke motor dan siap untuk berkeliling kota Bali.


Namun ...

__ADS_1


“Tunggu ... kalian mau meninggalkanku?” gerutu Gabby dengan nafas yang enggos-enggosan akibat berlari menyusul sahabatnya. Diikuti dengan George yang berjalan biasa saja di belakangnya.


Diora nampak kaget dengan kedatangan Gabby karena sejak siuman, ia tak tahu jika sahabatnya itu menyusul. “Kau, kenapa bisa disini?”


“Aku diculik olehnya.” Menunjuk George yang diam saja dengan sorot matanya.


“Kau, satu-satunya pria yang berani dengannya.” Diora terkekeh membayangkan aksi penculikan itu.


George yang dipuji nampak acuh tak perduli. Ia langsung naik ke motor vespa satunya. Tentu saja dia yang menyewa vespa Davis dan juga miliknya.


“Apa kalian tak menyewakanku motor juga?” Gabby nampak mencari-cari satu motor lagi untuk dia pakai.


Davis tak memperdulikan Gabby yang menggerutu. Ia langsung melajukan motornya.


“Kenapa kau meninggalkan sahabatku,” protes Diora memukul pelan punggung suaminya.


“Biarkan saja, George yang akan mengurusnya.” Davis menarik tangan istrinya agar melingkarkan di perutnya. “Berpeganglah yang erat agar kau tak terjatuh.”


Diora mengeratkan pelukannya, sebab posisi duduknya sangatlah mepet ke belakang. Mungkin jika Davis melajukan gas dengan ugal-ugalan, dia akan terjatuh kalau tak berpegangan.

__ADS_1


“Sangat sempit sekali,” gerutu Diora. Bagian tubuh depannya menempel sempurna pada punggung Davis. Bahkan tak ada celah sedikitpun.


“Nikmati saja,” seloroh Davis. Padahal dirinya yang saat ini tengah menikmati empuknya dua bola kembar menempel sempurna di punggungnya yang terbalut kaos putih tipis.


Motor vespa itu berhenti ketika lampu merah. George dan Gabby berhasil menyusul mereka dan berhenti tepat di samping pasangan suami istri itu.


“Gab, kau harus pegangan ... jika tidak, kau bisa terjungkal ke belakang.” Diora memberikan peringatan kepada sahabatnya.


“Tidak, aku tak sudi berpegangan dengannya,” tolak Gabby melipatkan tangannya di dada.


Benar saja, tubuh wanita yang tak ada lembut-lembutnya itu terjungkal ke belakang tat kala George menarik gas sedikit menyendat.


Membuat bule Finlandia itu menjadi bahan tontonan pengendara lain.


Diora langsung meminta suaminya untuk berhenti. Ia langsung membantu sahabatnya untuk berdiri.


“Aku kan sudah bilang, kau tidak percaya.” Diora mengulurkan tangannya.


“Lagi pula kenapa harus satu motor berdua, sudah tau badan kita ini lebih besar daripada penduduk disini, masih saja memaksakan,” gerutu Gabby memegang erat tangan Diora untuk berdiri. Untung saja wanita itu tak terluka parah, hanya lecet sedikit dibagian telapak tangan karena ia gunakan sebagai tumpuan.

__ADS_1


__ADS_2