
Pemilik villa itu sedang beruntung hari ini, sebab ada pengunjung berprofesi dokter yang mau membantunya menangani pria arogan pengancam keberlangsungan usahanya.
Dalam satu menit, dokter laki-laki sudah berada di kamar villa dimana Diora dan Davis menginap.
“Kenapa pria?” protes Davis kepada pemilik villa. “Ganti sekarang juga! Aku mau dokter wanita!” titahnya tak ingin dibantah.
“Maaf tuan, jarak villa dengan rumah sakit sangat jauh ... sehingga kami mencari dokter yang sedang berlibur di daerah sini,” jelas pemilik villa dengan menunduk ketakutan karena tatapan pria bule di hadapannya itu sangatlah mengerikan.
“Aku tidak mau istriku disentuh oleh pria lain!” seru Davis menatap tajam sang dokter, pertanda dirinya tak suka dengan kehadiran pria yang akan memeriksa istrinya itu.
“Jadi ... apakah aku tidak dibutuhkan?” seloroh sang dokter yang tak merasa takut mendapatkan tatapan tajam. Seolah ia sudah biasa menghadapi pria posesif. “Karena aku tak dibutuhkan, aku akan pergi melanjutkan liburanku yang terganggu ini.” Ia sudah bersiap melenggangkan kakinya untuk keluar, namun sebelumnya ia memberikan sebuah kalimat yang selalu ia lontarkan pada suami posesif pasiennya. “Jika istrimu tak tertolong karena keegoisanmu yang mengharuskannya ditangani oleh seorang wanita ... maka jangan pernah salahkan aku sebagai dokter, namun salahkan dirimu sendiri yang tak dapat menilai situasi.”
Kalimat itu membuat Davis berfikir dengan cepat, jika istrinya sungguh tak tertolong, maka ia akan kehilangan wanita yang baru dua hari menjabat sebagai istrinya. Ditambah jarak rumah sakit yang jauh membuatnya tak ada pilihan lain.
“Tunggu ....” Davis menghentikan langkah kaki sang dokter.
Dokter itu berbalik kembali menatap Davis. “Apa kau berubah pikiran?”
“Periksa istriku sekarang juga!”
__ADS_1
Secercah senyuman terbit di bibir sang dokter. Kalimat saktinya selalu berhasil membuat clientnya bungkam. Jujur saja, sebagai seorang dokter ia tak dapat mengabaikan jika ada orang sakit.
Dokter itu mulai mengeluarkan stetoskop yang selalu ia bawa kemanapun. Mulai memeriksa detak jantung sang pasien.
“Singkirkan tanganmu itu! Aku saja suaminya belum memegang bagian itu, kau seenaknya menyentuhkan jarimu di dadanya!” Davis menyingkirkan dengan paksa tangan dokter.
Mendesah pelan sang dokter menghadapinya. “Kalau begitu, tuan saja yang memegangnya.” Ia memberikan ujung stetoskop agar Davis yang menempelkan pada dada Diora.
Akhirnya Davis pun menuruti ide itu. Pemeriksaan pun selesai dengan sedikit drama yang dibuat oleh suami arogan dan posesif.
“Apa yang terjadi dengan istriku?” tanya Davis dengan tak sabaran.
Davis pun mulai menceritakan kejadian di pantai tadi, mulai penampilan istrinya yang aneh menutupi seluruh tubuhnya padahal cuaca sedang terik, hingga kejadian dimana ia mengambil paksa taplak dan sapu tangan yang menutupi kepala, dan akhirnya terjadilah Diora tak sadarkan diri.
Ingin rasanya sang dokter tertawa mendengar cerita suami pasiennya, kelakuan bule ternyata sangat aneh.
“Mendengar penjelasan itu, sepertinya istri tuan memiliki heliophobia.”
“Apa itu?”
__ADS_1
“Heliophobia adalah kondisi dimana seseorang memiliki ketakutan berlebih terhadap sinar matahari atau cahaya yang terang ... ia akan panik dan cemas ketika terkena cahaya ... gejala lainnya akan menimbulkan kesulitan bernafas, jantung berdetak kencang, keringat dingin, gemetar, tekanan darah meningkat, serta bisa tak sadarkan diri ... kondisi itu terjadi akibat keturunan, memiliki kenangan buruk terhadap cahaya, atau bisa juga karena tidak pernah terpapar sinar sejak kecil hingga kulitnya tak dapat terkena cahaya.” Panjang lebar sang dokter menjelaskan.
“Kapan istriku akan bangun?”
“Itu tidak dapat dipastikan, tuan tunggu saja dan pastikan untuk menghindarkannya dari cahaya. Sebab, akan fatal jadinya jika kambuh dan tak segera ditangani.” Dokter memberikan peringatan. “Ini resep obat, silahkan beli di apotik terdekat.”
“Bagaimana cara mengobatinya?”
“Silahkan membawanya ke terapis, sebab fobia ini disebabkan karena kecemasan yang ditimbulkan dari pikirannya,” jelas sang dokter.
“Adakah yang ingin ditanyakan lagi?”
“Tidak.”
“Baik, permisi jika tak ada yang ditanyakan lagi.” Dokter itu pamit undur diri.
“Hmm ... ini untuk tipmu.” Davis memberikan uang seribu euro.
Kini tersisalah sepasang suami istri itu. Davis berfikir seraya menatap wajah Diora yang masih pucat dan enggan membuka matanya.
__ADS_1
Sesungguhnya apa yang membuat istrinya itu memiliki ketakutan terhadap cahaya. Mengapa ia harus melewatkan informasi penting itu. Ia merutuki dirinya sendiri akibat belum mendapatkan lima belas persen sisa informasi tentang Diora.