My Rich Husband

My Rich Husband
Part 65


__ADS_3

“Kau ini tidak romantis sekali,” hina Diora seraya mengerucutkan bibirnya. “Kau yang menikahiku, kenapa kau menyuruh pria yang pantasnya tinggal di Antartika itu untuk membelikanku cincin,” gerutunya.


“Karena dia asistenku,” timpal Davis.


“Meskipun dia asistenmu, tapi yang menikah denganku kan kau.” Diora menunjuk Davis. “Bukan dia,” imbuhnya seraya menunjuk ke arah George. “Seharusnya kita yang mencari cincinnya,” protes Diora. Tepat seperti apa yang dipikirkan oleh George.


“Lebih baik kalian lanjutkan berdebatan kalian itu di rumah, karena sekarang sudah tengah malam,” usul George dengan nada dan wajah datarnya seraya melihat jam bermerk Richard Mille yang melingkar di tangannya.


“Ayo.” Davis mengulurkan tangannya untuk membantu Diora berdiri. “Besok kita cari cincin itu, tak perlu kau mengerucutkan bibirmu seperti mulut bebek,” imbuhnya dengan sedikit menghina.


Diora mendengus sebal, ia langsung bangkit dari duduknya tanpa menerima uluran tangan Davis. Dengan langkah yang sedikit pincang seperti menahan sakit, ia berjalan selangkah demi selangkah.


Cara berjalan Diora yang aneh tak luput dari penglihatan seorang Davis. Tanpa banyak bicara, pria itu langsung menggendong ala bridal style. Kenyataannya memang mereka pengantin baru.

__ADS_1


“Kau itu bisa tidak sekali saja permisi dulu jika ingin melakukan sesuatu,” gerutu Diora. Ia tak memberontak sedikitpun, sebab memang ia merasa sangat sakit dibagian kakinya.


“Tidak,” sahut Davis dengan tatapan terus tertuju ke depan.


...........


Davis membawa Diora pulang ke penthouse miliknya. Tempat tinggal yang cukup mewah untuk keluarga kecilnya.


“Ku kira kau itu seorang tuan muda yang kaya raya dengan rumah yang sangat luas berhektar-hektar, ternyata kau sama saja seperti orang biasa, hanya saja kau tinggal di penthouse yang berukuran luas,” seloroh Diora seraya melepaskan heelsnya.


“Tidak perlu, untuk apa tinggal di rumah besar jika hanya berdua,” timpal Diora.


Mata Diora mengedarkan ke seluruh ruangan, ia begitu mengagumi penthouse milik Davis. Desain hunian bergaya maskulin dengan dominan warna abu-abu sangat cocok untuk kepribadian Davis yang arogan. Sebagai seseorang yang bergelut di bidang arsitektur, ia akan memberi dua jempol untuk desainernya.

__ADS_1


“Siapa yang membuat desain tempat tinggalmu ini?” tanya Diora masih mengagumi hasil karya di depannya.


“Kenapa?” Davis memegang pundak Diora untuk mengajaknya ke sofa. “Duduk,” titahnya seraya mendudukkan wanita itu.


“Aku ingin memuji hasil karyanya, akan ku berikan dua jempolku ... aku sangat suka desain ini,” ujar Diora menatap punggung Davis yang tengah sibuk entah mengambil apa. Kemudian ia kembali menelisik sisi demi sisi setiap ruangan.


“Kau berikan saja padaku,” celetuk Davis.


Davis berjalan ke arah Diora dengan membawa sebuah wadah bulat yang cukup besar. Ia meletakkan wadah berisi air hangat yang sudah diberi larutan garam ke bawah kaki Diora.


“Kenapa aku harus memberikan kepadamu? Aku ingin bertemu dengan desainernya langsung ... sekaligus ingin belajar dengannya.” Diora masih terus mengamati kondisi sekitar hingga ia tak tahu Davis meletakkan sebuah baskom di hadapannya.


“Karena aku yang membuatnya,” terang Davis. Ia membersihkan telapak kaki Diora dengan tangannya, lalu merendam kedua kaki Diora ke dalam air yang ia sediakan.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan?” Diora nampak terkejut dengan perlakuan Davis yang menurutnya sangat perhatian itu. Sungguh tak seperti apa yang sering dia baca tentang tuan muda yang arogan.


__ADS_2