My Rich Husband

My Rich Husband
Part 127


__ADS_3

Suasana pesta begitu haru sekaligus bahagia untuk Diora. Wanita itu enggan untuk melepaskan pelukannya dari sang mama. Ia sudah seperti anak koala yang selalu mendekap induknya.


Lord sesungguhnya ingin ikut memeluk putrinya juga, namun diurungkan. Ia belum siap jika Diora tak bisa menerimanya akibat kesalahan dimasa lalu. Namun, ia sungguh bahagia bisa melihat bersatunya ibu dan anak itu.


“Katakan saja padanya, jika kau papa kandungnya,” hasut Davis dengan nada berbisik di samping Lord. Namun pria itu tak mengalihkan pandangan matanya sedikitpun dari istrinya.


“Apa kau gila! Kesalahanku dimasa lalu mungkin bisa saja melukai hatinya,” timpal Lord tak setuju.


“Lalu, mau sampai kapan kau menyembunyikannya dari anakmu sendiri? Dia juga harus tau kenyataan itu. Diora orang yang baik, pasti akan menerimamu. Bahkan dia melalui masa kecil penuh siksaan saja tak pernah membenci orang yang menyiksanya,” imbuh Davis meyakinkan lagi.


“Sekarang ku balik pertanyaannya, kapan kau akan jujur padanya jika kau melakukan cara licik untuk mendapatkan Diora?” Pertanyaan itu penuh dengan sindirian, bahwasannya mereka berdua sama saja, sama-sama takut untuk mengatakan kejujuran pada orang yang dikasih dan takut jika Diora tak bisa menerima kenyataan itu.

__ADS_1


“Aku akan mengatakannya ketika dia sudah bergantung sepenuhnya denganku, maka aku tak akan takut kehilangannya, pasti dia tak bisa jauh dariku pada saat itu,” jelas Davis. Ia sudah memikirkan untuk jujur pada istrinya dan menurutnya saat yang tepat adalah ketika Diora hamil, pasti wanita itu akan bergantung padanya dan tak bisa jauh darinya. “Kau? Kapan kau akan mengatakan yang sejujurnya?” Ia balik bertanya.


“Aku akan mengatakan ketika kau mengatakan kelicikanmu dan Diora memaafkanmu, tapi jika tak dimaafkan, maka aku tak jadi mengatakannya,” terang Lord. Membuat Davis mengalihkan pandangannya untuk menatap Lord yang tengah memandangnya juga, seketika mereka saling tatap dengan mata tajam mereka.


“Kau, menjadikanku sebagai uji coba?” tanya Davis dengan nada sedikit kesalnya.


“Tidak, aku hanya ingin membuktikan ucapanmu jika Diora akan memaafkan apapun kesalahan orang lain padanya,” tutur Lord santai.


Perdebatan mereka terhenti ketika anak buah Cosa Nostra yang berpakaian serba hitam seperti anggota Man in Black datang untuk memberikan informasi pada bosnya dan mantan bosnya itu. “Semua sudah siap, tuan,” ujarnya setelah memberi hormat.


Pria pemberi informasi itu pun pergi untuk kembali ke lokasi eksekusi.

__ADS_1


“Aku sudah tak sabar ingin menjemput ajal mereka, keluarga brengsek!” raung Lord dengan emosi yang sudah menggebu ingin segera menghabisi orang-orang yang berani menyiksa anak dan wanita yang ia cintai.


“Mari kita bersenang-senang, pak tua,” ajak Davis tak kalah bersemangat.


Davis pun menghampiri Natalie dan Diora yang masih menangis haru dan berpelukan erat.


“Kita ke dalam saja, kalian pasti masih rindu dan ingin banyak mengobrol satu sama lain.” Davis segera menggandeng istrinya.


“Ayo.” Lord pun tak ingin kalah dengan menantunya, ia juga segera menggandeng Natalie.


Diora dan Natalie masih sesegukan sehingga tak dapat berkata apa-apa, mereka hanya menurut saja.

__ADS_1


Mereka berempat berjalan menuju ke dalam kapal dan menuju sebuah kamar, bukan kamar yang beberapa saat lalu terjadi gempa lokal di meja. Namun, kamar lain yang tak kalah mewah dari kamar saksi bisu pembuatan sang buah hati Diora dan Davis.


“Habiskanlah waktu kalian bersama, kami tak akan mengganggu.” Davis dan Lord berpamitan, langsung menutup pintu, tak lupa mereka kunci agar tak ada orang yang bisa masuk dan membahayakan keselamatan dua wanita itu.


__ADS_2