My Rich Husband

My Rich Husband
Part 113


__ADS_3

Hati wanita mana yang tak hancur jika ditinggalkan oleh suaminya ketika sedang sayang-sayangnya?


Itulah yang dirasakan Diora saat ini. Ia begitu hancur hingga tak dapat berfikir dengan jernih. Seharusnya ia bisa langsung menelfon ambulan untuk segera datang dan membawa suaminya ke rumah sakit. Namun ia begitu larut dalam kesedihannya.


Dalam benaknya hanya terlintas nama Gabby sahabatnya.


Dengan berlari kencang, Diora segera naik ke kamar untuk mengambil ponselnya. Air matanya bahkan menetes hingga ke lantai.


Diora menggigit jari-jarinya karena terlalu ketakukan, langkahnya membawa kembali ke ruang dimana suaminya berada seraya menunggu sahabatnya mengangkat telefon darinya.


Dua kali panggilan itu tak juga dijawab, membuat Diora semakin gelisah dibuatnya.


Dimanakah Gabby?


Mengapa dia tak juga menjawab?


Apakah tak tahu jika sahabatnya sekaligus kakaknya itu sedang ketakutan?


Wanita yang tak ada lembut-lembutnya sedikitpun itu sedang terlelap di dalam apartemennya. Sudah tengah malam, jadi wajar saja jika ia masih terlena dengan mimpi indahnya.


“Ya Tuhan ... apakah ujian hidupku selama ini nilainya jelek? Hingga engkau memberiku ujian lagi yang begitu berat?” gumamnya masih terus mencoba menghubungi Gabby.

__ADS_1


Setelah dua puluh kali panggilan, akhirnya diangkat juga.


“Ha ....” Belum sempat suara serak khas bangun tidur itu menyelesaikan kalimatnya, Diora sudah menangis dengan sangat kencang.


“To-tolong aku ...,” ujar Diora membuat Gabby yang mendengarnya langsung tersadar sepenuhnya.


“Kenapa? Kau kenapa? Cepat katakan!” Panik, Gabby begitu panik takut terjadi hal yang tidak-tidak mengancam keselamatan sahabatnya.


“Su-suamiku ....” Isaknya membuat suaranya terbata-bata dan tercekat untuk mengatakannya.


Geram! kenapa wanita itu tak langsung saja mengatakan inti dari masalahnya. Kenapa harus setengah-setengah seperti orang gagap. Membuat orang di seberang telefon sana begitu penasaran.


“Katakan yang jelas!” seru Gabby yang tak sabaran.


“Apa?” Gabby begitu kaget. “Kirimkan alamat rumahmu, aku akan segera kesana.”


...........


Gabby di apartemennya langsung menghubungi papanya untuk mencari bantuan. Namun sang papa merekomendasikannya untuk menghubungi George sahabat menantunya, karena menurut Lord pria itu yang cocok untuk membantu. Sebab, seluk beluk Davis semuanya George yang mengetahui.


Masa bodo dengan gengsi dan harga diri, ia langsung datang menghampiri ke alamat pria yang begitu dibencinya itu setelah Lord mengirimkan alamat apartemen milik George.

__ADS_1


Dua puluh menit, akhirnya Gabby dan George sampai di penthouse. Dengan berlari, mereka langsung menuju unit milik Davis.


George segera membuka pintu dengan sidik jarinya. Langsung masuk menuju sumber suara tangisan.


“Apa yang kau lakukan!” bentak George pada Diora.


Belum sempat wanita itu menjawab, George langsung menyingkirkan Diora dan membopong Davis menuju mobilnya.


Tak mungkin ia menghubungi dokter pribadi Davis tengah malam seperti saat ini, pasti tak akan diangkat.


Diora dan Gabby mengikuti di belakang dengan langkah yang tergopoh-gopoh.


Diora masuk terlebih dahulu di bangku belakang. “Biarkan dia disini bersamaku,” pintanya seraya menepuk pahanya untuk dijadikan bantalan suaminya.


George tak banyak bicara, ia langsung merebahkan tubuh Davis dipangkuan Diora.


“Masuk!” titah George pada Gabby yang masih diam mematung mengamatinya.


Gabby langsung masuk ke kursi depan.


“Bisa lebih cepat lagi?” pinta Diora begitu panik.

__ADS_1


George hanya fokus menatap jalanan di depannya dan melajukan kendaraan roda empat itu begitu kencang.


Gabby menatap sekilas wajah George yang begitu tenang, tak panik sedikitpun. Entah apa yang dipikirkan wanita itu hingga sudut bibirnya sedikit terangkat.


__ADS_2