
Dengan tangan telaten, Diora menyiapkan pakaian suaminya yang akan dibawa untuk bulan madu. Meskipun belum saling mencintai, atau lebih tepatnya Diora belum mencintai suaminya. Sebab Davis sudahlah sangat terobsesi dengan wanita berstatus istrinya itu, hanya saja ia belum merubah rasa obsesi itu menjadi cinta. Davis masih tetaplah egois, ingin memiliki Diora tanpa memperdulikan perasaan orang lain.
Davis sengaja mengajak istrinya bulan madu, karena ia ingin membuat Diora lebih dekat hingga akhirnya jatuh cinta dengannya dan mengakui langsung perasaan itu kepada Davis. Sehingga ia akan menang taruhan dan istrinya harus menuruti hukuman yang akan ia berikan.
“Berapa lama kita pergi?” tanya Diora sembari melipat pakaian Davis.
“Satu minggu,” jawab Davis yang tengah duduk menyesap kopi buatan istrinya seraya membaca laporan pekerjaan di iPadnya.
“What?” pekik Diora dengan mata mendelik kaget menatap suaminya. “Lama sekali, minggu depan aku ada ujian,” imbuhnya memberi informasi.
“Justru itu, karna minggu depan kau ada ujian, aku gunakan hari tenangmu selama satu minggu ini untuk kita honeymoon.” Sifat egois Davis sepertinya memang sudah mendarah daging, tak memikirkan bahwa ujian membutuhkan belajar sebagai persiapannya.
“Jika aku pergi liburan, lalu kapan aku belajarnya?” Dengan kesal, Diora memasukkan pakaian yang ada di hadapannya.
__ADS_1
“Untuk apa kau belajar? Bukankah kau sudah pintar,” elak Davis, mengingat istrinya itu sangat pandai mengecohnya ketika di butik.
“Orang pintar juga pasti belajar, kecuali orang genius.” Diora tak mau kalah dengan perdebatan mereka.
“Kau jadikan saja dirimu itu orang genius, agar tak membuang waktumu untuk belajar,” ujar Davis dengan entengnya, seolah menjadi genius itu seperti membalikkan telapak tangannya.
“Kau fikir jadi orang genius itu gampang,” kesal Diora menghentikan aktifitas tangannya mempacking baju.
“Mudah saja, kau hanya butuh memiliki IQ diatas rata-rata manusia normal.” Davis menunjuk kepalanya dengan telunjuk, seolah sedang menggambarkan yang dibutuhkan adalah kecerdasan otaknya.
Davis menyunggingkan sedikit senyumnya seraya berucap, “kau, hanya belum mengenalku saja.” Ia bangkit dari singgah sananya, berjalan ke arah istrinya dan mengelus rambut coklat nan curly itu.
Diora menepis tangan suaminya, ia tak ingin diperlakukan semanis itu oleh Davis. Sebab, ia juga seorang wanita yang akan luluh jika mendapat perlakuan manis.
__ADS_1
“Kau berucap seolah sudah mengenalku saja.” Diora tak tahu jika suaminya sudah memiliki delapan puluh lima persen informasi yang falid tentang dirinya, sebab lima belas persennya lagi masih terus dicari oleh Davis.
Davis hanya menyunggingkan senyumnya, senyum yang tak dimengerti apa artinya oleh Diora.
“Jangan kau tersenyum seperti itu kepadaku.” Diora tak suka melihat senyuman Davis, sebab wajah suaminya terlihat lebih tampan.
“Terserah aku, kenapa kau cerewet sekali.” Davis mencubit bibir istrinya agar tak banyak mengoceh.
“Karna kau selalu membuatku kesal ... jika kau tak membuatku kesal terus, aku tak akan cerewet denganmu,” jelas Diora seraya mengelus bekas cubitan di bibirnya.
“Karna aku senang melihat wajah kesalmu.” Davis berucap tepat di hadapan Istrinya.
Diora menghentakkan kakinya kesal, dia harus terjebak pernikahan dengan orang seperti Davis. “Kemana kita akan honeymoon?” tanya Diora seraya menutup koper.
__ADS_1
“Bali dan Nusa Tenggara.” Davis memperlihatkan dari iPadnya, pemandangan pulau dewata dan semua destinasi yang akan mereka kunjungi.
Diora nampak terkejut tat kala mendengar destinasi yang akan mereka tuju untuk honeymoon. Entah mengapa ekspresinya seperti itu mendengar sebuah pulau di Indonesia.