
Kini Diora dan Davis sudah siap di depan gedung. Jepretan kamera dari awak media saling bersahutan membidik orang nomor satu di Eropa dalam bidang bisnis itu.
Peresmian perusahaan untuk Diora sengaja dibuka untuk umum dan disiarkan langsung pada televisi nasional.
Tamu undangan dari berbagai pebisnis dan juga petinggi pemerintahan pun turut hadir di sana.
Master of Ceremony acara itu pun dari kalangan artis terkenal kelas internasional yang jam terbangnya sudah tinggi untuk menjadi host.
Berbagai sambutan dan ucapan selamat diberikan untuk sepasang suami istri yang terlihat begitu bahagia dan serasi.
“Tiba saatnya diacara puncak kita, peresmian anak cabang perusahaan Triple D Corp yang bergerak dibidang arsitektur. Waktu dan tempat dipersilahkan untuk tuan Drake Davis Dominique dan nyonya Diora Doris Dominique.” MC mempersilahkan kedua orang itu untuk melakukan pemotongan pita.
Wajah Diora begitu bahagia dan cantik dipadukan dengan Davis yang gagah penuh karisma. Mereka bergandengan tangan berjalan menuju pita yang sangat panjang. Begitu mesra orang melihatnya. Membuat siapa saja yang melihatnya sangat iri.
Mereka menerima gunting untuk memotong pita dari sang MC.
“Pemotongan pita sebagai lambang peresmian Couple D Architecture dipersilahkan.”
Pita pun dipotong secara bersamaan oleh Davis dan Diora. Seluruh orang yang hadir saling bertepuk tangan.
“Adakah yang ingin disampaikan oleh tuan dan nyonya Dominique?” tawar MC.
Davis pun meminta microphone untuknya berbicara.
“Terima kasih atas kehadiran semuanya, perusahaan ini adalah milik istri saya yang sangat saya cintai.” Menatap sejenak wajah istrinya penuh cinta. “Filosofi namanya pun dari inisial kami berdua Couple D, sebagai bentuk cinta pada wanita di samping saya yang begitu menyukai bidang arsitektur dan sangat berbakat dibidang itu. Saya harap, semua stakeholder dapat bekerjasama dengan baik.” Ia pun mengembalikan microphone pada MC.
“Wah ... ternyata tuan Davis selain kaya, pandai, juga sangat romantis ya, bagaimana jika mempersembahkan sebuah ciuman mesra kepada para fans?”
Tanpa pikir panjang, Davis langsung menyatukan bibirnya dengan istrinya. Begitu lama mereka saling menyatukan itu. Bahkan pria itu semakin merapatkan tubuh mereka dengan menahan pinggul Diora.
Gabby yang melihatnya bergeleng kepala. “Pasangan tak tau malu.” Tentu saja ia mengatakan itu, sebab penyatuan bibir mereka dilihat banyak orang bahkan disiarkan langsung di televisi.
__ADS_1
Setelah selesai melepaskan perang lidah, mereka pun kembali duduk di kursi khusus untuk mereka. Namun sebelumnya, Davis membisikkan sesuatu pada MC.
“Persembahan yang sangat luar biasa. Pasti banyak orang iri ingin menjadi nyonya Diora. Ternyata ada sisi lain dari tuan Davis, beliau begitu baik hati dan dermawan. Semua orang diundang pada pesta peresmian Couple D yang akan dilaksanakan nanti malam di kapal pesiar milik Triple D Corp.”
Riuh gembira dari semua orang yang menonton langsung maupun penonton dari rumah. Mereka semua begitu antusias ingin hadir pada acara orang nomor satu di Eropa itu.
Acara pun selesai, semua orang sibuk mempersiapkan diri untuk menghadiri acara nanti malam.
Sedangkan Diora, Davis, Gabby, dan George masih berada di dalam gedung.
“Apa urat malumu sekarang sudah putus?” ejek Gabby pada sahabatnya. “Bisa-bisanya kalian melakukan hal seintim itu di depan umum,” omelnya.
“Bilang saja kau iri kan,” balas Diora menaik turunkan alisnya.
...........
Diwaktu yang sama, Leoni dan Gwen tengah menonton siaran itu.
“Kau lihat! Seharusnya yang bersama dengan Davis itu kau, dan perusahaan itu seharusnya milik kau!” Leoni begitu tak suka jika mantan kekasih anaknya mencintai wanita lain.
“Kau menyalahkan aku? Aku melakukan itu juga demi kau! Agar kau bisa hidup enak tak susah!” sergah Leoni tak ingin disalahkan.
“Aku tak masalah hidup susah, mungkin lebih tepatnya mama melakukan itu bukan demi aku, tapi demi mama yang tak ingin hidup susah dan dipandang rendah oleh teman-teman sosialita mama itu kan,” timpal Gwen.
“Berani kau melawan mamamu sekarang!” Leoni berdiri hendak meninggalkan anaknya. “Mama tak mau tau, kau tetap harus merebut kembali posisimu di hati Davis!” tak ingin dibantah, ia langsung masuk ke dalam kamar dan membanting pintu.
Gwen menggelengkan kepalanya dan mengelus dadanya. “Kenapa aku harus dilahirkan dari seorang ibu yang begitu serakah.” Jika bisa memilih orang tua, ia pasti tak akan memilih Leoni sebagai mamanya.
...........
Sedangkan di kantor Danzel, pria itu juga sedang menonton siaran yang sama.
__ADS_1
“Apa secepat itu kau melupakan aku?” gumamnya.
Ia menghela nafasnya, hatinya terasa begitu sesak mendapati kenyataan jika Diora benar-benar sudah menerima suaminya. Terbukti dari raut wajah yang begitu bahagia dan ciuman itu. Ciuman yang tak pernah didapatkan Danzel selama dua tahun menjalin asmara dengan wanita cantik itu.
...........
Di kartel milik Lord. Natalie sudah berangsur membaik, kesehatan mentalnya pun sudah mulai normal kembali. Wanita itu sekarang bisa bertemu dengan Lord dan mengenali pria yang ia ingat sebagai teman semasa kuliah.
“Kau lihat Natalie, itu putri kita dan suaminya.” Lord mencoba mengenalkan Diora dan Davis.
“Putri kita?” Natalie mengerutkan keningnya.
“Ya.” Lord mengangguk.
“Apa kita suami istri?” tanya Natalie.
“Jika kau ingin seperti itu, bisa saja,” seloroh Lord tersenyum senang seraya membelai rambut wanita yang ia cintai itu. Kini Natalie sudah mau mandi, sehingga kini tubuhnya sangat wangi.
Lord begitu bahagia dengan kesembuhan Natalie. Tentu saja karena kini ia sudah bisa berkomunikasi langsung dengan ibu dari anaknya.
Natalie tersenyum, ia begitu senang mendapatkan perlakuan hangat Lord. “Putriku cantik.”
“Seperti dirimu,” imbuh Lord. “Apa kau ingin bertemu dengannya?” tawarnya.
Natalie menjawab dengan anggukan kepala.
...........
Di sebuah penginapan kecil, keluarga Dawson yang tak normal itu juga tengah menonton siaran langsung Diora, orang yang ia cari-cari selama ini.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Cassandra.
__ADS_1
“Iya pa, anak sialan itu hidup enak sekali, enak saja! Kita harus menyiksanya seperti dulu,” hasut Celine.
Dawson memijit pelipisnya untuk berfikir. “Kalian bersiap dan dandan yang sangat cantik, jangan permalukan diri kalian! Kita harus hadir pada pesta mereka!”