My Rich Husband

My Rich Husband
Part 120


__ADS_3

Davis begitu santai adegannya dilihat oleh George, namun berbeda dengan Diora. Wanita itu wajahnya sudah bersemu merah dan langsung mendorong tubuh suaminya agar menyingkir dari atasnya. Ia langsung menutupi seluruh tubuhnya bahkan hingga kepalanya.


“Maaf, kami lupa,” sesal Diora. “Bisa tolong keluar dulu? Kami akan bersiap,” pintanya.


“Tiga puluh menit waktu kalian, jika tak keluar dengan pakaian rapi, akan ku seret paksa kalian!” ancam George dengan wajah dinginnya. Ia hendak keluar dan menutup pintu, namun diurungkan. “Bisa aku pinjam pakaian formalmu?” tanyanya.


“Kau ambil saja,” jawab Davis.


“Bukan kau, tapi istrimu,” ralat George.


“Untuk apa?” Diora sudah berfikiran yang aneh-aneh, jika asisten suaminya sedikit berbelok haluan.


“Untuk sahabatmu.” George menunjuk lantai bawah dimana Gabby berada.


“Apa kau bersama Gabby kesini?” Diora mengerutkan keningnya merasa ada yang aneh dengan George yang sudah beberapa kali bersama Gabby.


“Tak perlu banyak tanya, jawab saja boleh atau tidak ku pinjam,” sergah George dingin. “Kalian membuang-buang waktu saja,” decaknya.


“Boleh,” sewot Diora. “Ada di kamar bawah pakaian baru, ambil saja,” imbuhnya dengan nada kesal.


“Hmm ....” George langsung keluar.


“Asistenmu itu lebih menyebalkan daripada kau,” keluh Diora mendengus sebal.

__ADS_1


“Lagi pula suamimu kan aku bukan dia, tapi dia asisten paling bisa diandalkan.” Davis langsung menggendong tubuh polos istrinya menuju bathup untuk mandi bersama.


“Apa yang kau lakukan!” bentak Diora ketika tangan nakal suaminya mulai bermain lagi di benda kenyalnya.


“Melanjutkan yang tadi,” ujar Davis terus melancarkan aksinya.


“Kau ini, apa tak dengar ancaman asisten dinginmu itu!” Diora menghempaskan tangan kekar itu. “Dia hanya memberi kita waktu setengah jam, aku tak ingin diseret paksa keluar dengan posisi seperti ini,” protesnya. Ia yakin manusia seperti George tak pernah main-main dengan ucapannya, sama seperti suaminya yang selalu menepati perkataannya.


Davis mendesah kecewa lalu bangkit untuk mengguyur badannya di shower. “Disini aku bosnya, kenapa asistenku yang lebih ditakuti oleh istriku.”


Tiga puluh menit tepat, George sungguh kembali ke kamar utama.


“Cepat! Kalian lama sekali.” George menatap dingin pada dua orang yang baru saja keluar dari walk in closet itu.


“Apa kau tidak sedang sakit?” tanya Davis seraya memegang kening istrinya. “Tidak panas.” Ia semakin mengerutkan keningnya, mungkin karena tinggal bersama dengannya yang arogan juga bisa menularkan sifatnya itu.


Diora berjalan mendahului Davis. Ketika berpapasan dengan George, ia menggertakkan giginya dan menatap tajam pria dingin itu. Lalu melengos turun menemui sahabatnya yang sudah siap sedari tadi.


“Apa kau tak merasa dia aneh?” tanya Davis pada George. Kedua pria itu berjalan bersama.


“Mana ku tau, dia kan istrimu.” George mengedikkan bahunya.


“Kau sudah menghubungi Lord?”

__ADS_1


“Sudah siap semua.”


Tatapan tajam Diora sudah menghunus kepada dua orang yang jalannya begitu lambat seperti siput. “Cepat! Kalian lama sekali!” Ia mengulangi perkataan George sebagai sindirian, namun dengan nada kesalnya.


Bahkan Gabby pun dibuat heran dengan sahabatnya itu. “Kenapa kau jadi pemarah?” tanyanya.


“Siapa yang marah? Aku hanya kesal dengannya.” Diora menunjuk George.


“Ayo,” ajak Davis menengadahkan tangan kirinya agar Diora berpegangan padanya.


“Tidak mau, kau gandeng saja asistenmu itu, aku mau bersama Gabby saja.” Langsung menggandeng lengan sahabatnya dan berlalu mendahului untuk ke basement. Entah mengapa dirinya begitu mudah kesal hari ini, terutama dengan George.


Davis hanya menggelengkan kepalanya. “Kurasa dia terbentur sesuatu.”


Sesampainya di basement, Diora langsung mengajak masuk Gabby ke mobil Davis dan duduk di kursi belakang.


“Kenapa kau juga masuk ke sini? Gunakan mobilmu sendiri,” titah Diora pada George yang sudah ikut masuk ke dalam mobilnya.


“Dia kan yang menyupir,” jelas Davis.


“Tidak mau, aku tak mau satu mobil dengannya,” tolak Diora seraya mengibaskan tangannya.


George pun menatap Davis dan dijawab anggukan. Akhirnya mereka menggunakan mobil sendiri-sendiri. Davis dengan Diora dan George dengan Gabby. Tentu saja dengan drama yang dibuat Diora karena tak rela Gabby bersama George.

__ADS_1


__ADS_2