
Diora menggelengkan kepala sembari berucap, “tidak, kau tak perlu membantuku menanggung hutangku.”
Diora sudah terikat dengan perjanjian semalam yang ia tanda tangani dengan sadar. Sehingga ia tetap harus melanjutkan pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya datang secepat ini. Target dia menikah adalah setelah lulus dari pendidikannya di perguruan tinggi, namun ternyata takdir berkata lain.
“Aku tau kau tidak mencintainya ... kau tak perlu memaksakan diri untuk menikah dengan pria yang tak kau cintai.” Gabby menggenggam erat tangan Diora, mencoba meyakinkan wanita itu agar mau membatalkan pernikahannya.
“Aku akan segera mencintainya seiring berjalannya waktu.” Diora meyakinkan dengan memberikan senyuman manisnya, menandakan bahwa dirinya benar-benar akan melakukan hal itu. “Bukankah cinta akan datang karena kita terbiasa? Terbiasa melihatnya, terbiasa mendengar suaranya, terbiasa mengurusnya, terbiasa hidup dengannya, terbiasa memikirkannya ... jadi, cepat atau lambat aku pasti akan mencintainya,” lanjutnya.
Secara tidak langsung, Diora memang sudah terbiasa dengan Davis yang selalu membuatnya kesal. Hidupnya jadi sedikit tak membosankan karena hanya berjalan mulus sesuai kehendaknya. Kini hidupnya lebih terasa berliku.
“Apakah pria itu yang datang secara tiba-tiba di Ravintola?” tanya Gabby memastikan. Namun dirinya sudah yakin betul, mengingat pria itu pernah mengatakan bahwa dirinya adalah calon suami sahabatnya.
“Ya.” Diora menganggukkan kepalanya.
“Lebih baik kau batalkan saja pernikahanmu, aku tak ingin kau tersiksa jika terpaksa menikahinya, apa lagi ku lihat dia pria yang cukup mengerikan untukmu,” usul Gabby dengan wajah yang memohon.
__ADS_1
“Kau hanya belum mengenalnya saja,” terang Diora, ia menepuk pundak Gabby agar sahabatnya itu tak harus menghawatirkannya.
Gabby menghela nafasnya, sepertinya keputusan sahabatnya sudah bulat. Dirinya tak dapat merubah keputusan itu lagi.
“Jika suatu saat kau terluka, datanglah kepadaku, dan jangan pernah menutupi masalahmu sendiri,” pinta Gabby. Ia merentangkan tangannya untuk memberikan pelukan.
“Aku tidak janji,” seloroh Diora, lalu menghambur ke pelukan sahabatnya.
“Hei ... kau harus berjanji,” paksa Gabby menggoyangkan tubuh mempelai wanita itu.
“Terserah kau saja, aku hanya bisa mendoakanmu agar bahagia,” doa Gabby sungguh-sungguh.
“Tentu saja, sejak kapan aku tak bahagia? bahkan jatuh saja aku akan tertawa bukannya menangis,” seloroh Diora memberikan candaan.
“Astaga ... kau mengingatkanku ketika kau membonceng motorku dan posisi kita saat itu sedang terburu-buru, hingga aku tak sadar jika kau belum naik, malah kau duduk di aspal.” Gabby terkekeh geli mengingat kenangan lucu bersama sahabatnya satu tahun silam.
__ADS_1
“Hei ... itu bukan aku belom naik, tapi aku sudah akan naik, namun ketika pantatku belum mendarat sempurna di jok, kau malah menancap gasmu itu dengan ugal-ugalan ... sampai aku yang belum siap bertumpu dengan satu kaki jadi terjatuh,” ralat Diora ikut terkekeh.
“Dan ketika aku kembali, kau malah tertawa dikerumuni mahasiswa lain,” imbuh Gabby.
“Kau tau kenapa aku tertawa?” Diora terkekeh tat kala dirinya dikira sedikit memiliki gangguan jiwa ketika jatuh malah tertawa.
“Tidak,” Gabby menggelengkan kepalanya.
“Karena aku terlalu malu, sehingga aku tertawa untuk menutupi rasa maluku,” seloroh Diora.
“Dan sekarang kau sudah akan menjadi istri orang, pasti waktu kita bersama akan semakin berkurang.” Gabby merasakan sedih melepaskan sahabatnya untuk menikah.
Disaat sepasang sahabat baik itu asik berbincang dan bernostalgia, tiba-tiba pintu dibuka paksa hingga terbuka lebar.
Muncul seorang pria dengan setelan jas rapinya, rambutnya yang rapi, wajahnya yang tampan, dan tubuhnya yang kekar. Tatapan matanya tajam menatap Diora tanpa berkedip sama sekali.
__ADS_1
Aura dingin terpancar dari wajah pria itu, membuat ruangan yang sudah diberi penghangat ikut terasa dingin. Suasana tiba-tiba terasa mencekam dirasakan oleh calon pengantin wanita itu.