
“Apa kau bercanda, My Love? Kau ingin mengajakku bermain di dalam kereta kencana yang sempit ini?” Diora tak habis pikir dengan suaminya, bisa-bisanya mengajak bermain memperagakan adegan dari film titanic.
“Ya, kita belum pernah mencobanya, bukan? Jika dilihat dari filmnya, sepertinya begitu nikmat bermain di tempat yang sempit.” Davis mencoba meyakinkan istrinya agar mau menuruti keinginannya.
“Tapi, tubuhmu bahkan lebih besar daripada Jack Dawson (nama tokoh pria difilm titanic), mana muat kita.” Diora masih terus menyangkal. “Bahkan untuk selonjoran saja tak bisa,” imbuhnya setelah mengelilingi kereta kencana yang kecil dan hanya bisa digunakan untuk duduk saja.
“Kita belum tahu jika tak mencobanya.” Davis segera membukakan pintu dan mempersilahkan istrinya untuk masuk dahulu. “Ladies first.”
“Baiklah.” Dengan berpegangan tangan pada Davis, Diora akhirnya mau juga masuk ke dalam.
Davis menyunggingkan senyumnya seraya menutup kembali pintu.
“Karena kereta ini tak ada kudanya, mari kita menjadi kuda dan bermain kuda-kudaan.” Davis mulai melucuti kain yang membungkus dirinya hingga menyisakan satu helai di bagian bawahnya.
“Jika ini ada kudanya, pasti akan berjalan, bagaimana jika kereta ini berjalan kalau kita bermain kuda-kudaan disini?” Diora nampak ragu untuk melakukannya.
“Tidak mungkin berjalan, kereta ini sudah disangga dengan kayu, apa kau lihat difilm titanic kereta kencana mereka berjalan? Tidak, kan?” Davis terus meyakinkan seraya tangannya bermain pada benda kenyal bagian depan istrinya setelah ia meloloskan dua kain pembungkus bagian atas.
“Engh ....” Sebuah lenguhan pun lolos dari bibir Diora akibat tangan nakal suaminya yang sudah bermain dibagian sensitif bawahnya. Membuat Davis semakin bergairah ingin segera menyergah.
“Oh ... kau sudah basah, My Wife, aku akan menolongmu keluar dari penyiksaan ini.” Tangan nakal Davis begitu lihai membuat istrinya melayang melambung ke angkasa.
__ADS_1
Diora mengangguk mengiyakan, ia sudah tak tahan lagi ingin mendapatkan lebih dari sekedar jari. “Sekarang!” pintanya diiringi suara desahan.
“Aku akan menjadi Jack Dawson dan kau Rose DeWitt Bukater.” Davis segera merebahkan tubuh istrinya seraya berperang lidah. Tangannya melucuti kain terakhir yang menutup tubuh mereka hingga kini sudah polos.
Pria itu memposisikan kaki istrinya untuk terbuka lebar. Ia bermain dengan lidahnya terlebih dahulu pada bagian bawah untuk mempermudah miliknya masuk. Tangan Diora menjambak rambut kepala suaminya, kenikmatan yang tiada tara itu tak ingin cepat berlalu.
“Sekarang, My Love! Uh ....” Suara-suara erotis pun keluar.
“Sayang, anaconda segera datang.” Davis berbicara dengan sesuatu yang indah milik istrinya di bawah sana.
Jlep!
Davis mulai memompa tubuh istrinya perlahan, menikmati permainannya. Lenguhan, desahan, rintihan kenikmatan yang keluar dari mulut keduanya membuat dua insan itu semakin terbakar gairah nikmat dunia.
Davis semakin mempercepat permainannya hingga tubuh istrinya naik turun.
Dug ... dug ... dug ...
“Aduh ....” Diora mengaduh kesakitan akibat kepalanya terbentur berkali-kali membuat gairahnya menguap entah kemana. “Kita sudahi saja,” pintanya dengan wajah yang memberenggut. Sedangkan Davis masih begitu menikmatinya, bahkan sedang nikmat-nikmatnya.
“Aku sudah tak berselera, kepalaku sakit terbentur terus.” Wanita itu mengusap bagian atas kepalanya, namun suaminya tetap saja meneruskan permainannya.
__ADS_1
“Sebentar lagi.” Kedua tangan Davis diletakkan pada bagian atas kepala istrinya agar tak terbentur lagi, bibirnya membungkam Diora agar tak memintanya untuk menyudahi.
Davis semakin mempercepat ritme permainannya, bahkan lebih cepat dibandingkan ketika dia bermain di atas meja. Kereta kencana itu terguncang hebat, jika biasanya orang membuat mobil goyang, mereka membuat kereta kencana goyang. Sungguh pasangan yang aneh.
“Emh ....” Diora melepaskan pagutan suaminya ketika ia merasakan kereta kencana itu seperti berjalan. “My Love, sepertinya ini berjalan.” Ia mencoba memberitahu suaminya.
“Tidak mungkin, kayu penyangganya sangat kuat dan rodanya pun sudah diberi penyangga.” Davis mengelak dan terus mempercepat semakin cepat ritmenya. Ia tak merasakan gerakan apapun dari tempat mereka bercinta dia hanya merasakan kenikmatan saja.
“Apa penyangganya ada dibagian depan kereta?”
“Ya ... ah ... nikmat.” Davis semakin mendesah.
“Pantas saja, kereta ini berjalan ke belakang!”
“Ah ....”
Brug ...
Davis mengerang mencapai pada titik puncaknya bersamaan dengan kereta yang membentur bagian dinding kapal dan kereta kencana pun terguling ke samping.
Sedangkan Diora menjerit akibat terjatuh dari tempatnya semula membuat benih kualitas terbaik suaminya berhamburan kemana-kemana.
__ADS_1