My Rich Husband

My Rich Husband
Part 172


__ADS_3

Sembilan bulan kemudian. Setelah malam pesta barbeque itu dan peristiwa George dan Gabby terjadi. Gabby langsung mengajukan pengunduran dirinya pada Diora. Wanita itu memilih pergi entah kemana. Sebab selama itu Gabby memutuskan hubungan dengan siapapun termasuk papanya. Wanita itu bagai ditelan bumi, bahkan keberadaannya tak diketahui oleh siapapun. Semua orang sudah mencari di apartemennya, bahkan mencari datanya ke bandara sekalipun. Namun tak ditemukan, tak ada penerbangan atas nama Gabby Gabriella.


Natalie, yang hidupnya hanya diperkirakan tersisa tiga hingga enam bulan itu mendapatkan keajaiban. Hingga saat ini wanita itu masih bernafas dan hidup bahagia dengan Lord.


Masa mengidam Diora pun tak aneh-aneh. Ia hanya ingin selalu dekat dan menempel pada suaminya saja. Bahkan hingga suaminya buang air pun ia ikut. Tak pernah sedetikpun wanita itu jauh dari suaminya.


Perutnya sudah sangat membuncit berisi empat orang anak itu pun menyulitkan Diora berjalan. Namun wanita itu tetap saja keras kepala ingin ikut bersama suaminya ke kantor. Karena semenjak Gabby mengundurkan diri, dirinya tak diijinkan lagi mengelola perusahaan. Perusahaan milik Diora dialihkan kepada George untuk mengelola.


“Aku bosan,” rengek Diora yang sudah tiga jam lamanya hanya duduk lalu rebahan di sofa saja.


“Sebentar, aku selesaikan pekerjaanku dulu.” Davis menunjuk tumpukan dokumen di mejanya.


“Aku ingin jalan-jalan saja disekitar kantormu.”


“Tak apa sendirian?” Diora menjawab dengan mengangguk. “Yasudah, hati-hati. Aku akan segera menyusul, jangan jauh-jauh.” Davis hanya melihat kepergian istrinya dan kembali membubuhi tanda tangan pada dokumen.


Baru juga satu menit istrinya keluar, pintu ruangannya sudah ada yang mengetuk.


“Masuk!”


Wajah sekretaris Davis begitu panik dengan keringat dingin yang bercucuran. “Tuan, istri anda.”

__ADS_1


“Apa! Katakan yang jelas!” Davis sangat marah sebab ia takut terjadi apa-apa dengan istrinya.


“Istri anda terpeleset di toilet dan pingsan, ada darah keluar dari area bawahnya.”


Tanpa basa-basi Davis langsung meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti sekretarisnya.


“Astaga! Apa yang kalian lakukan! Bukannya menolong malah melihatnya saja!” geram Davis yang mendapati beberapa karyawannya berkerumun. Ia segera menggendong istrinya dan berlari cepat ke mobilnya.


“Tuhan, selamatkan anak-anakku dan istriku, ku mohon.” Hati Davis sangat takut dan panik, namun ia sebisa mungkin mengontrolnya.


Pria itu menelfon Lord dan George untuk segera ke rumah sakit. Siapa tahu dia membutuhkan bantuan mereka.


Davis langsung membawa ke UGD dan dokter serta perawat langsung datang membantu.


“Tolong selamatkan anak dan istriku,” titah Davis.


“Saya akan melakukan yang terbaik, tuan, mohon tunggu di luar,” ujar sang Dokter.


Di luar ruangan, Davis begitu resah. Ia hanya bisa mondar mandir seperti setrikaan.


“Bagaimana keadaan Diora?” Lord dan Natalie yang baru saja datang bersamaan dengan George terlihat panik juga.

__ADS_1


“Belum tau, dokter masih memeriksanya.”


“Tenanglah, dia pasti akan baik-baik saja.” George menenangkan sahabatnya agar tak panik.


“Bagaimana ceritanya bisa seperti ini?” tanya Lord.


Davis pun menceritakan semuanya pada Lord. Lord melayangkan tinjunya pada wajah tampan menantunya itu.


“Menjaganya saja kau tak becus! Seharusnya kau menemaninya kemanapun!”


George melerai pertikaian keduanya. “Sudah! Apa dengan kalian berkelahi akan membuat keadaan berubah? Tidak! Kalian malah semakin memperkeruh suasana.”


Klek!


Pintu ruangan itu pun di buka dari dalam, dokter menyembul keluar.


“Bagaimana keadaan istriku?”


“Bagaimana keadaan anakku?”


Davis, Lord, dan Natalie bertanya secara bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2