My Rich Husband

My Rich Husband
Part 114


__ADS_3

George langsung merebahkan tubuh Davis ke brankar, dibantu oleh perawat yang berjaga malam di rumah sakit. Langsung menuju unit gawat darurat untuk segera dilakukan penanganan.


“Dokter, tolong suami saya dok,” pinta Diora pada pria berjas putih yang baru saja datang.


“Saya akan melakukan yang terbaik nyonya,” balas Dokter itu lalu segera masuk ke UGD.


Tinggallah Diora, Gabby, dan George menunggu di luar.


“Suamiku pasti akan selamat kan?” Rasa cemas yang begitu besar membuat Diora tak berhenti menangis.


Gabby mengusap lembut punggung Diora. “Tenanglah, dia pasti akan selamat, suamimu itu pria yang kuat, pasti bisa melewati ini semua,” ujarnya menenangkan.


“A-aku takut jika harus kehilangannya.” Diora memeluk tubuh sahabatnya, menangis di pundak yang selalu menjadi sandarannya selama ini hingga kaos yang dipakai oleh Gabby basah.


“Bagaimana ceritanya bisa terjadi seperti ini?” Pria dengan sorot mata yang begitu dingin itu mulai membuka suara.


Masih dalam rengkuhan Gabby, Diora mulai menceritakan semuanya yang terjadi ketika makan malam.


“Jadi kau memasak dengan kaldu seafood?” geram George berbicara dengan intonasi tinggi.


Diora menjawab dengan anggukan kecil.

__ADS_1


“Arghhh ... pantas saja! Apa kau tak tau jika dia alergi seafood?”


Diora menggelengkan kepalanya.


“Shit! Bahkan dia bisa mati jika memakan seafood,” geramnya menonjok dengan kuat dinding yang begitu tebal hingga tangannya berdarah.


“Dia tak mengatakan apapun ketika aku menanyakan tentang alergi,” timpal Diora.


George membuang nafasnya kasar lalu menatap dengan sorot mata tajam. “Tentu saja dia tak mengatakan apapun, dia menghargai apapun yang kau masak! Dia rela mengabaikan keselamatannya demi menghargaimu.”


Ternyata kau sudah merubah obsesimu menjadi cinta yang begitu besar. Bahkan lebih besar dari rasa cintamu pada Gwen dulu. Gumam George dalam hati. Ia mengingat kembali ketika pertama kali Gwen membuatkan Davis masakan seafood, sahabatnya itu langsung menolak dan mengatakan langsung bahwa dirinya alergi.


Diora terdiam, ia merasa bersalah dengan peristiwa yang menimpa suaminya. Jika saja ia tahu lebih banyak tentang Davis, pasti tak akan terjadi seperti saat ini. Ia merasa sangat egois karena tak pernah mencoba mengenal lebih dalam. Di lubuk hatinya, ia merasa sangat dicintai dan akan mencintai suaminya sebesar itu pula.


Sedangkan di kartel Cosa Nostra. Lordeus tengah melihat perkembangan terapi Natalie. Ia begitu senang ketika cinta pertamanya itu sedikit mulai mau berkomunikasi dengan terapisnya.


Lord perlahan masuk ke dalam ruangan dimana Natalie berada. Ruangan yang sangat besar dan mewah, jauh berbeda dari tempat Natalie dikurung oleh keluarga dengan gangguan jiwa psikopat itu.


Ditatapnya tubuh yang sangat kurus sedang terlelap, mendekatinya dan duduk disampingnya.


“Maafkan aku, karena keegoisanku membuatmu jadi menderita hingga seperti ini.” Lord mengusap lembut rambut yang tak pernah disisir itu. Meskipun tubuh Natalie bau anyir karena tak pernah mau dimandikan, tapi pria itu tak risi sedikitpun. Mengecup bibir yang terlihat begitu pucat.

__ADS_1


“Siapa kau!” tuding Natalie, ia membuka matanya ketika merasakan ada seseorang tengah menciumnya. “Pergi kau! Jangan sakiti aku!” Wanita itu begitu histeris.


“Ini aku, Lord, kau ingat?” Lord memegang kedua tangan Natalie yang terus memukuli dirinya.


Namun Natalie tetap memberontak dan menarik tangannya. “Mundur! Jika tidak, aku akan mati sekarang juga!” Ia meletakkan kedua tangannya di leher dan siap mencekik diri sendiri.


Dengan sangat terpaksa, Lord menyuntikkan obat penenang. Ia langsung keluar untuk menemui psikiater yang berjaga untuk merawat Natalie.


“Kenapa dia begitu histeris melihatku?” tanya Lord.


“Maaf tuan, nyonya Natalie belum sepenuhnya sembuh, beliau masih sangat trauma dengan seorang pria,” jelasnya.


“Sembuhkan dia secepatnya!” titah Lord langsung pergi begitu saja.


Lord kembali ke ruangannya. Tak berselang lama, Gio pun mengetuk pintu.


“Masuk!”


Pria bertubuh tinggi itu memberikan hormat.


“Apa yang ingin kau laporkan?”

__ADS_1


“Keluarga Dawson telah sampai di Finlandia, mereka menginap disini.” Gio memberikan sebuah amplop coklat berisi foto pengintaiannya beserta alamat tempat penginapan.


“Amati terus pergerakannya!”


__ADS_2