
Kini tersisa Eliana yang berada di balik jeruji besi itu. Tubuh ramping itu kini menjadi semakin kurus dan tak bertenaga. Bahkan wanita itu sudah pasrah hukuman apa yang akan didapatkannya, mati sekalipun ia akan terima. Sebab untuk apa hidup jika ia sudah tak memiliki siapa-siapa lagi. Keluarga satu-satunya yang dimilikinya sudah pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Namun tetap ia menyalahkan Diora sebagai penyebab mamanya meninggal, karena ia menganggap Dioralah yang mendoakan orang tua satu-satunya itu tiada.
Eliana sedari tadi hanya menyaksikan perbincangan antara Davis dan Leoni. Ia tak ingin berkomentar apapun, hanya menginginkan gilirannya cepat datang dan lebih baik hukuman mati saja. Ia tak ingin mendapatkan hukuman penjara seperti Leoni, hanya menyiksa diri. Akan lebih baik jika langsung tiada menurutnya daripada disiksa perlahan.
“Kau tahu apa kesalahanmu?” tanya Davis seraya mengeluarkan kotak hitam berisi nikotin.
“Apapun kesalahku itu tak penting lagi, lebih baik kau bunuh saja aku sekalian.” Dengan lirih Eliana menjawabnya, tubuhnya menempel pada jeruji besi. Lemas sekali seolah tak memiliki tulang. Beruntung tangannya yang terkena tembakan sudah diobati oleh anak buah Davis sehingga tak akan infeksi.
Davis tersenyum sinis dan memantikkan korek untuk menghidupkan nikotinnya. Menyesap perlahan batang itu dan menghembuskan nafas melalui mulutnya hingga keluar kepulan asap yang menyesakkan dada.
“Mati terlalu berat untuk menghukum kesalahanmu, tapi memberikan ampunan bukanlah sifatku,” ujar Davis.
Davis berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya kembali, pria itu mengeluarkan pistol dari dalam jasnya, memutar-mutar senjata api itu dengan telunjuknya.
__ADS_1
“Aku lebih ingin menyiksamu daripada membunuhmu.” Ucapan itu berhasil membuat Eliana ketakutan.
“Tidak! Jangan menyiksaku, lebih baik kau langsung membunuhku saja!” raung Eliana menolak keras apa yang akan dilakukan Davis untuknya.
Davis berdiri dari tempat duduknya. Menyesap nikotinnya yang sudah hampir habis dan membuangnya asal. Ia berjalan mendekat ke arah Eliana, namun masih ada jarak. Sebab ia tak ingin terlalu dekat dengan wanita menjijikan di hadapannya itu.
Davis berjongkok dengan lutut kirinya menempel di lantai, sedangkan kaki kanannya hanya menekuk saja dan digunakan sebagai tumpuan tangan kanannya.
“Kau tahu kesalahanmu? Kesalahanmu adalah melanggar kesepakatan kita! Sudah aku katakan, jangan sampai kau mengatakan rencanaku kepada siapapun! Kau malah mengatakannya pada istri tercintaku, untung Diora mau memaafkanku, jika saja kau membuat hubunganku dengan istriku retak, akan ku kuliti kau hidup-hidup!” Sorot mata Davis begitu tajam menusuk tawanannya hingga Eliana beringsut tak berani menatapnya.
“Membunuhmu? Tidak, aku tak ingin istriku mencium diriku bau darah, apa lagi darahmu!” hina Davis. “Meskipun aku ingin sekali memotong lidahmu dan melubangi kerongkonganmu saat ini juga agar tak berucap sembarangan dan tak digunakan untuk membual.” Davis sangat ingat betul jika hubungan Eliana dan Diora tak baik karena ia menyaksikan perdebatan keduanya ketika di mall saat itu.
Davis berdiri meninggalkan Eliana yang terus memohon untuk segera dibunuh, namun ia tak ingin.
__ADS_1
“Siapkan helikopter sekarang juga!” titah Davis pada anak buahnya. Ia kembali duduk ke kursinya.
“Siap, tuan.” Anak buahnya segera keluar dan melaksanakan tugasnya.
Helikopter yang memang tersedia di markasnya, Davis sengaja membelinya setelah menggantikan Lord untuk mempermudah transportasi para anak buahnya.
Tak berselang lama, anak buahnya kembali masuk ke dalam dan memberitahukan kepada Davis jika semua sudah siap.
Eliana bertanya-tanya dalam benaknya, untuk apa sesungguhnya helikopter itu.
“Keluarkan wanita itu, kirim dia ke pulau terpencil di tengah laut yang tak berpenghuni, tak ada akses apapun, tak ada kapal besar ataupun kecil yang melintas, dan dikelilingi oleh hiu, agar dia berusaha untuk hidup sendiri disana, terserah dia ingin melanjutkan hidup disana atau ingin mati dengan sendirinya, yang pasti jangan sampai ada satu orang pun mengetahui pulau itu!” titah Davis menyampaikan hukumannya untuk Eliana.
“Siap, tuan.” Anak buahnya langsung menjalankan perintah itu.
__ADS_1
Davis memilih langsung beranjak pergi setelah memberikan perintah itu. Ia tak perlu menunggu dan mengantarkan Eliana ke pulau yang dimaksud olehnya. Anak buahnya pasti akan melakukan dengan baik dan tak perlu diragukan lagi.