My Rich Husband

My Rich Husband
Part 41


__ADS_3

“Jika ingin membicarakan masalah hubungan kalian, lebih baik di restoran saja,” ajak Gabby, melihat situasi di sekitarnya semakin ramai berkerumun. “Karena aku juga lapar,” selorohnya.


“Benar tuan, saya akan memesan private room di Ravintola,” usul Steve dan dijawab anggukan oleh Danzel. Ia langsung pergi meninggalkan kerumunan. Sebelumnya, ia meminta orang-orang yang merekam tuannya untuk menghapus rekaman dan membayar mereka dengan uang tutup mulut.


“Aku pulang saja,” tolak Diora. Menghempaskan tangan kekar Danzel ketika rengkuhannya melemah.


“Tidak, kita harus selesaikan masalah kita dengan baik-baik,” tegas Danzel mencekal tangan Diora agar tak lari meninggalkannya.


Diora melirik Gabby dengan sorot mata memohon pertolongan. Namun dijawab anggukan kepala oleh Gabby, menurutnya mereka memang butuh membicarakan masalah ini dengan kepala dingin.


...........


Disinilah mereka saat ini, ruangan yang lumayan besar namun hanya berisikan empat orang saja. Ruangan yang sudah dipesan oleh Steve dengan kekuatan uang ia dapatkan dengan cepat, sebab private room restoran Ravintola tak dapat dipakai jika tak membooking jauh-jauh hari.

__ADS_1


Berbagai macam hidangan sudah tersaji di meja, mungkin sebentar lagi akan menjadi meja panas jika mereka melakukan perbincangan serius.


“Kita makan dulu,” pinta Danzel memberikan lasagna ke Diora.


“Aku tak lapar,” tolak Diora memalingkan wajahnya agar tak menatap Danzel. Hatinya bergemuruh jika menatap mata teduh pria itu.


“Makanlah, sebab patah hati juga butuh tenaga,” celetuk Gabby. Ia mencoba menyuapi Diora, sedikit memaksa agar dirinya mau makan. Tentu saja karena ia juga sangat lapar, tidak akan melewatkan makan lezat secara cuma-cuma.


“Baiklah.” Diora sedikit melirik ke arah Danzel yang berada di hadapannya, namun ia langsung menunduk menatap makanannya ketika melihat tatapan Danzel yang begitu memohon padanya.


...........


Waktu yang sama di penthouse milik Davis, pria itu sedang asik melihat desain gaun dan setelan tuxedo dari desainer ternama asal Paris. Ia memesan eksklusif untuk ia kenakan besok saat pernikahannya. Meskipun Diora belum memberikan jawaban kepadanya, namun dia tak perduli. Sebab ia sangat yakin, jika Diora tak ada pilihan lain selain menikah dengannya untuk melunasi hutang.

__ADS_1


“Dimana Diora?” tanya Davis pada George yang sudah dibuat sibuk olehnya sedari pagi. Mengerjakan dokumen pekerjaan kantor yang seharusnya selesai minggu depan, namun Davis menginginkan untuk selesai saat ini juga. Sebab minggu depan ia sangat ingin menghabiskan waktu dengan Diora setelah pernikahannya.


“Private room Ravintola,” jawab George malas, tanpa memalingkan wajahnya dari Macbook di hadapannya.


“Ravintola?” Davis mengulangi ucapan George dengan sedikit mengingat kejadian apa yang pernah ia lihat di sana. “Bukankah itu restoran dimana Diora selalu bertemu dengan Danzel?” tanyanya.


“Memang saat ini dia dengan Danzel,” ungkap George santai. Ia tahu dimana Diora, sebab ia sudah memasang alat penyadap pada ponsel Diora ketika lengah. Tentu saja saat mereka berkunjung ke ruko Diora.


Sedangkan Davis, rahangnya mulai mengeras mendengar itu. Susah payah ia memisahkan Diora dengan Danzel, ia tak akan rela Diora berbaikan dengan Danzel.


“Mau kemana kau?” tanya George menatap Davis yang sudah siap akan pergi.


“Tentu saja menyusul Diora,” jawab Davis seperti tak memiliki salah sama sekali.

__ADS_1


“Enak saja kau main pergi,” cegah George mengambil kembali kunci mobil dari tangan Davis.


__ADS_2