
Danzel menghempaskan tangan Davis yang melingkar sempurna di pundak Diora. “Lepaskan tanganmu!” serunya.
Membuat Davis langsung mengeluarkan pistol dari saku dalam jaketnya dan mengarahkan pada kepala Danzel. “Kau menantangku?” Tatapan tajam dan mematikan Davis hunuskan.
Suasana di dalam ruangan private itu bukan lagi panas, namun mencekam. Bahkan Diora, Gabby, dan Steve dibuat tercengang dengan kedatangan pria arogan yang tiba-tiba datang dan kini mengancam keselamatan Danzel.
Steve langsung menghadang tubuh Danzel dengan tubuhnya untuk melindungi tubuh tuannya.
Sedangkan Diora, tubuhnya bergetar ketakutan. Takut jika pria yang masih ia cintai akan diregang nyawanya tepat di depannya. Ia bangkit dan menarik tangan Davis untuk membawanya keluar dari sana, menjauhkannya dari mantan kekasihnya.
Namun tak kuat, Davis tak bergerak sedikitpun. Justru kini terbalik, Dioralah yang ditarik oleh Davis hingga ia berada di dekapan Davis.
Davis ingin memperlihatkan kepada semuanya bahwa Diora hanyalah miliknya seorang. “Katakan padanya, siapa aku!” titahnya dengan nada penuh penekanan. Tanpa memalingkan pandangannya dari Danzel.
Diora nampak berfikir, siapa pria yang selalu membuatnya bisa mati berdiri kapan saja karena ketakutan. Ia tak tahu namanya, sudah beberapa kali bertemu namun tak pernah sekalipun berkenalan. “Aku tak tau namamu,” celetuknya dengan polos.
__ADS_1
Pandangan Davis kini beralih menatap tajam Diora yang ia dekap dengan erat, ia dapat merasakan tubuh Diora bergetar ketakutan. “Katakan padanya aku calon suamimu!” titahnya.
“Dia calon suamiku,” ungkap Diora dengan nada lirih sedikit ragu.
Danzel menyingkirkan tubuh Steve yang menghadangnya. “Jangan berbohong!” berangnya, menarik tangan Diora agar keluar dari dekapan Davis. Ia bisa mendengar jika Diora nampak ragu ketika mengatakan itu.
“Katakan padanya dengan lantang!” seru Davis, menarik sebelah tangan Diora namun tangan satunya tetap mengarahkan pistol pada kepala Danzel. Terjadilah tarik menarik Diora antara Davis dan Danzel. “Katakan!” ulangnya karena Diora nampak diam ketakutan dengan situasinya saat ini.
“Dia calon suamiku,” lantang Diora mengulanginya.
“Dengar itu!” Davis menarik Diora hingga genggaman tangan Danzel terlepas dari tangan Diora.
“Lakukan seperti saat perdebatan kita di jalan,” pinta Davis. Ia ingin memperlihatkan dengan jelas, bahwa Dirinya juga milik Diora seorang.
Diora menghembuskan nafasnya, lalu memeluk Davis. “Sayang, aku takut,” ucapnya lirih, bahkan hanya bisa didengar oleh Davis saja.
__ADS_1
“Lebih keras!” Davis menekan Diora agar tak ragu ketika berucap.
“Sayang, aku takut,” teriak Diora mengulangi.
Davis menurunkan pistolnya. “Dengar! Dia hanya milikku,” tuturnya penuh penekanan.
Rahang Danzel mengeras mendengarnya, bukan karena ucapan Diora. Namun karena Davis memberikan tekanan dan paksaan pada wanita yang ia cintai. Ia memegang jaket yang dikenakan Davis, memberikan tatapan tajam yang tak pernah ia keluarkan. “Kau jangan memaksanya!”
Pistol yang masih berada di tangan Davis, ia arahkan tepat pada pelipis Danzel. Diora bahkan sampai menangis ketakutan.
“Ku mohon, pergilah dari sini,” pintanya dengan isakan.
Davis pun tak tega melihat Diora dipenuhi lelehan air mata, lebih baik ia melihat wajah kesal Diora daripada melihat wajah sedihnya.
Tanpa banyak bicara, Davis pun melepas cengkraman tangan Danzel dan menyambar tas Diora yang berada di samping kursi. Lalu menggenggam erat tangan Diora dan menariknya untuk keluar.
__ADS_1
Gabby yang sedari tadi masih mencerna kejadian di depan matanya hingga ia tak dapat berucap apa-apa karena keterkejutannya. Terkejut karena ia tak pernah tahu Diora mengenal pria mengerikan seperti Davis. Ia tersadar ketika Diora sudah di ambang pintu. “Kau mau bawa Diora kemana!” teriaknya.
Diora menengok ke belakang sesaat. Memberikan senyuman kepada Gabby dengan arti bahwa ia akan baik-baik saja.