
Diora langsung berlari menuju sofa dan menghambur ke dalam pelukan mamanya.
Ya, tamu mereka adalah Lord dan Natalie. Natalie sama saja dengan Diora merengek dan memohon untuk bertemu putrinya.
Akhirnya Lord menuruti permintaan wanita yang masih sangat ia cintai itu.
“Kenapa mama tak tinggal disini bersamaku?” rengek Diora seperti anak kecil.
“Mama kan tinggal bersama suami mama, papamu,” timpal Natalie gemas dengan putrinya yang terus bergelayut manja dengannya.
Suami?
Papa?
Apa maksudnya itu?
Sejak kapan mamanya menikah dengan papa Gabby?
Mengapa dirinya tak tahu?
Berbagai pertanyaan itu berputar-putar di kepala Diora. Ia tatap satu persatu orang disana menunggu ada penjelasan tentang itu. Namun semua terlihat tenang saja, seolah hal itu tak mengusik mereka. Atau lebih tepatnya, hal itu hanya mengusik dirinya.
__ADS_1
Padahal dalam hati Lord ia sedang memikirkan jawaban apa yang pas seandainya Diora bertanya padanya. Namun wajahnya sungguh sangat tenang.
Sedangkan wajah Davis terlihat tenang, tentu saja karena yang terancam rahasia yang akan terbongkar bukanlah dirinya. Sehingga ia diam saja tak perduli.
“Sejak kapan mama kenal dan menikah dengan papa Gabby?” Akhirnya Diora menanyakan hal itu juga setelah beberapa saat ia menunggu tak ada yang mengangkat suara satupun.
“Papa Gabby? Siapa itu?” Natalie balik bertanya dengan kening yang mengkerut karena bingung.
“Lordeus, dia papa Gabby, sahabatku,” jelas Diora.
“Apa dia juga putriku?” tanya Natalie pada Lord.
Jawaban apa itu? Semakin pusing dan bingung saja Diora.
“Uncle, eh papa.” Diora meralat panggilannya mengingat saat pernikahannya Lord memintanya memanggil dengan sebutan itu. “Bisa jelaskan maksud perkataan mamaku apa?” pintanya.
Lord menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. “Aku ingin menikahi mamamu, kami sudah saling kenal sejak di universitas,” jelasnya setelah mendapatkan alasan yang menurutnya cocok.
“Apa kedatangan papa kesini karena itu? Meminta ijinku?”
“Ya, apakah kau merestui kami?”
__ADS_1
“Itu terserah mamaku, jika dia mau maka aku tak akan menolaknya.” Diora memandang wajah mamanya. “Bagaimana? Mama mau menikah dengan papa Gabby?” tanyanya pada Natalie.
“Bukankah kita sudah suami istri? Katamu kita ini suami istri.” Natalie menjadi bingung sekarang dengan situasinya saat ini.
“Berarti mamamu mau, dengan jawabannya seperti itu.” Davis menengahi agar tak berputar-putar pertanyaan mereka. “Dan mama sebentar lagi akan menjadi istri Lord setelah menikah, seperti itu maksudnya,” imbuhnya memberi penjelasan pada Natalie.
Natalie hanya mengangguk seolah mengerti, padahal dirinya masih sedikit linglung karena belum sembuh total.
Lord menatap Davis, akhirnya menantunya itu membuka suara dan menolongnya disaat dirinya kebingungan harus mengatakan apa.
Diora mengangguk mengerti. “Aku merestuinya, bagaimana dengan Gabby? Apa dia setuju?”
Lord terdiam, benar juga apa yang ditanyakan oleh Diora. Mengapa dia lupa dengan putrinya satu itu. Hidupnya selalu saja memikirkan Diora dan menuntut Gabby untuk menjaga Diora. Meskipun Gabby tampak tangguh di luar, namun semua tak ada yang tahu apa sebenarnya isi hati wanita itu.
“Dia pasti setuju,” jawab Lord.
Lagi-lagi Diora mengangguk, ia juga bahagia akan memiliki ikatan keluarga dengan Gabby. Selain menjadi sahabat, mereka akan menjadi kakak adik juga.
Davis memberikan kode kepada Lord. Ia ingin bicara empat mata. Dijawab anggukan oleh Lord pertanda mengerti.
“Aku ingin ke balkon sebentar,” ijin Davis. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan dahulu.
__ADS_1
“Aku juga, kalian habiskanlah waktu bersama.” Lord ikut menyusul Davis.
Natalie dan Diora hanya menatap punggung dua lelaki itu hingga menghilang tertutup dengan pintu kayu yang besar. Mereka melanjutkan bermesra-mesraan layaknya ibu dan anak yang lama tak bertemu. Mereka tak ingin mengetahui apa yang akan dibicarakan oleh Davis dan Lord.