
“Aaaa ....” Diora berteriak sembari menutup matanya tat kala Davis keluar dari kamar mandi.
Pria itu hanya menggunakan handuk yang menutupi daerah pinggangnya hingga lutut. Memperlihatkan tubuh kekarnya beserta enam kotakan yang tercetak jelas di perut Davis. Sangat sexy, macho, dan menggugah selera kaum wanita. Namun tidak dengan Diora, ia merasa belum siap melihat pemandangan yang membuat otak sucinya liar.
“Kau fikir ini hutan! ... tak perlu kau berteriak seperti itu,” seloroh Davis. Berjalan dengan santainya, seolah tak ada sesuatu yang salah.
Davis mengambil papperbag berisi pakaian yang kemarin dibelinya pada butik Valentine Gauthier. Ia hendak berganti pakaian, namun ia urungkan ketika Diora memberikan julukan baru untuknya.
“Kau seperti tarzan, makanya aku berteriak,” timpal Diora masih enggan membuka matanya. “Tolong pakai bajumu,” pintanya.
Davis menyunggingkan senyumnya, ia berencana ingin mengerjai Diora lagi. Rasanya ia sangat senang ketika melihat wajah kesal wanita itu.
“Buka matamu,” titah Davis. Ia sudah berada di depan Diora saat ini, tepat di hadapan wanita itu.
__ADS_1
“Tidak mau ... pakai dulu bajumu,” tolak Diora sembari menggelengkan kepala.
“Aku sudah memakai baju, buka matamu ... dan lekaslah mandi sebelum ku tinggal kau disini,” kilah Davis sudah bersiap dengan aksinya mengerjai Diora.
“Kau pasti berbohong,” elak Diora masih tak percaya.
“Buka matamu, baru kau bisa mengatakan aku berbohong atau tidak,” timpal Davis tak sabar mengerjai.
Diora pun langsung membuka matanya. Ketika Diora membuka matanya, Davis membuka dan melemparkan asal handuk yang melilit di pinggangnya hingga memperlihatkan dirinya hanya menggunakan dalaman saja.
Davis tertawa terbahak-bahak dengan reaksi Diora. Ini adalah kali pertamanya bisa tertawa sebahagia itu. “Ekspresinya lucu sekali,” tuturnya disela tawanya.
Davis pun tersenyum terus mengingat wajah kesal Diora. Ia merasa hidupnya saat ini lebih berwarna setelah bertemu wanita itu. Lebih tepatnya, setelah memaksakan diri agar Diora masuk ke dalam hidupnya.
__ADS_1
...........
Diora menggerutu di dalam kamar mandi, mengumpati Davis terus menerus. Bisa gila rasanya ketika membayangkan dirinya akan menikah dan menjalani hidup dengan pria seperti Davis.
Bahkan Diora lupa jika ia tak membawa pakaian ganti. Begitu terkejut dan kesalnya dia hingga melupakan barang penting itu. Bisa dikerjai lagi dirinya jika keluar hanya menggunakan bathrobe yang disediakan di dalam kamar mandi.
Selesai mandi, Diora langsung menggunakan bathrobe, namun enggan untuk langsung keluar kamar mandi. Ia ingin memastikan apakah Davis berada di dalam kamar atau tidak.
“Tuan ...,” panggil Diora. Kepalanya menyembul dari balik pintu, namun badannya tetap berada di dalam. Ia bingung harus memanggil Davis dengan sebutan apa, ia mengikuti saja apa yang sering ia baca di novel.
“Hmmm,” sahut Davis yang mendengar dirinya dipanggil. “Ada apa?” tanyanya, meletakkan kopi panas yang baru diantarkan oleh pelayan hotel.
“Aku lupa membawa pakaianku, bisa minta tolong bawakan kemari,” pinta Diora dengan nada memohon.
__ADS_1
“Ambillah sendiri, aku bukan pelayanmu,” tolak Davis. Ia menengok ke arah pintu kamar mandi dan menahan tawanya ketika melihat posisi Diora yang memperlihatkan kepalanya saja.
“Tapi kau kan calon suamiku,” timpal Diora. “Atau kau keluar dulu sebentar, aku akan mengambil sendiri pakaianku jika kau keluar,” imbuhnya mengiba.