
George, Gabby, dan psikiater kini telah sampai di Bali. George tak dapat memenuhi permintaan Davis yang memintanya sepuluh jam harus sudah sampai. Sebab itu tidak mungkin, bahkan menggunakan pesawat tempur sekalipun Finlandia-Indonesia tak secepat itu.
“Kenapa kau membawaku kesini?” Gabby nampak bingung dengan bandara yang baginya begitu asing. Ia sengaja dibius oleh George agar selama perjalanan tak terlalu banyak bicara.
“Diam dan menurutlah!” titah George menatap tajam Gabby. Membuat wanita itu mendengus sebal dan melenggangkan kakinya mendahului George.
Baru kali ini ada seorang pria yang berani dengan Gabby, bahkan sudah mengetahui siapa orang tuanya pun tetap berani. Namun sayang seribu sayang, wanita itu anti dengan yang namanya cinta. Baginya, cinta hanya merepotkan saja. Lagi pula, dirinya bisa melindungi diri sendiri dan bisa memenuhi segala kebutuhannya sendiri. Jadi ia tak ada berfikiran untuk bergelut dengan yang namanya cinta.
Mobil Alphard berwarna hitam telah menunggu kedatangan mereka di pintu keluar.
“Masuk!” George membukakan pintu untuk Gabby.
Gabby hanya melihat sekilas dan memberikan tatapan tak suka kepada George. Ia langsung menghempaskan dirinya di kursi nyaman mobil itu. Mengambil earphonenya untuk menyumpal telinga dan mendengarkan lagu-lagu rohani dengan sangat kencang.
__ADS_1
Psikiater itu duduk di bangku depan menemani sang supir. Sedangkan George duduk di samping Gabby yang enggan menatapnya.
Empat puluh menit perjalanan mereka lalui dari Ngurah Rai International Airport ke villa di pinggir pantai Canggu.
“Hei bangun!” George menendang kaki Gabby yang masih memejamkan matanya. Wanita itu tak sungguh-sungguh tidur, ia hanya malas saja berada di dekat George.
“Kau kasar sekali dengan wanita!” Gabby menginjak dengan kuat kaki George, hingga pria itu mengaduh kesakitan.
Gabby melenggang keluar mobil tanpa bertanya sedikitpun dengan George. Kakinya langsung menuju ke pantai, namun langkahnya terhenti tat kala George menarik tangannya dengan paksa.
Kini mereka berada di depan pintu kamar Davis dan Diora. George mengetuk pintuk kayu yang terukir indah itu. Menunggu sang penyewa kamar membukanya. Ia tak mungkin lancang langsung membuka dan menyelonong masuk seperti saat Davis belum menikah. Bisa saja saat ini sedang ada pergumulan panas di dalam.
“Kenapa kau lama sekali? Sudah lebih dari sepuluh jam waktu yang ku berikan!” berang Davis di ambang pintu.
__ADS_1
“Ck! Tidak tau terima kasih,” decak George malas.
“Dimana Diora?” sergah Gabby tak sabaran. Ia mengedarkan pandangan matanya mencari sahabatnya. Dan terhenti ketika matanya melihat wajah pucat Diora yang masih tak sadarkan diri.
“Apa yang kau lakukan dengannya!” teriak Gabby. Ia langsung menarik baju Davis, tangannya sudah terkepal hendak melayangkan tinjunya.
“Dasar wanita kasar,” hina George menghadang tangan Gabby yang sudah berada di depan wajah tampan Davis.
“Minggir kau! Aku tak ada urusan denganmu!” Gabby mendorong kuat tubuh Geroge yang menghalanginya. “Kau apakan dia ha!” Gabby mendelik, menggambarkan dirinya sangat marah dengan Davis yang tak becus menjaga sahabatnya.
“Aku menyuruhmu kesini bukan untuk berteriak padaku!” balas Davis tak kalah garangnya. “Apa kau tau bagaimana caranya membuat sahabatmu itu siuman?” tanyanya.
“Kenapa bisa dia tak siuman?”
__ADS_1
“Apa kau tak tau jika sahabatmu itu memiliki fobia terhadap sinar matahari?”
Gabby terdiam, ia menggeleng pelan. Sungguh dirinya tak tahu dengan fakta itu. Diora tak pernah bercerita dengannya tentang fobia. Memang penampilan sahabatnya terlihat aneh ketika musim panas, tapi ia tak pernah bertanya dan tak pernah keberatan jika Diora berpakaian terututup saat matahari terik.