My Rich Husband

My Rich Husband
Part 39


__ADS_3

“Tumben sekali kau mau menginap di sini,” ujar Diora pada Gabby. Sahabatnya itu baru saja datang ke ruko dan mengatakan ingin menginap, itu hal yang tak biasa kecuali sedang mengerjakan proyek jasa arsitektur mereka.


“Memangnya kenapa? Tidak boleh?” celetuk Gabby, merebahkan tubuhnya di ranjang empuk berseprai abu-abu.


“Boleh saja.” Diora ikut merebahkan dirinya di samping Gabby. “Ada masalah?” tanyanya.


“Tidak ... aku hanya ingin menemanimu,” cicit Gabby memiringkan tubuhnya menghadap Diora. “Aku tak mungkin meninggalkanmu disaat kau bersedih,” imbuhnya menelisik raut wajah sahabatnya, dan melihat gurat kegelisahan dengan sangat jelas. “Ada masalah lain?” tanyanya mencoba menyelidiki.


Diora bingung akan menjawab apa, ingin sekali ia bercerita tentang hutangnya yang sangat banyak hingga diajak menikah. Namun ia tak ingin membebani sahabatnya dengan permasalahan berat itu.


“Tidak ada,” bohong Diora. Mendesah pelan, sedikit menyesal sudah berbohong.


“Jangan berbohong dan menutupi apapun dari ku. Kau sahabatku, sudah sepantasnya aku menjadi tempatmu berkeluh kesah,” cicit Gabby menatap teduh Diora. Paham betul jika ada yang ditutupi oleh Diora.


Diora memiringkan tubuhnya, menghadap ke arah Gabby. “Jika ada orang yang mengajakmu menikah karena kau berhutang dengannya tapi kau tak mencintainya, apakah kau mau?” tanyanya mencoba mencari pendapat.

__ADS_1


“Hutang macam apa hingga harus membayar dengan menjadi istri,” timpal Gabby sedikit penasaran. “Apakah kau memiliki hutang?”


“Tidak,” jawab Diora sedikit ragu. “Sudahlah, aku ingin istirahat,” elaknya tak ingin dicecar lebih banyak lagi. Lebih baik ia memendamnya sendiri saja.


Gabby yakin jika ada masalah, namun dia tak ingin bertanya lebih banyak lagi. Meskipun ia sangat penasaran. “Jika kau membutuhkan bantuanku, katakan saja. Pasti aku akan membantumu,” lirih Gabby dengan mata terpejam. “Jika kau memiliki hutang, katakan saja. Aku akan membantumu membayarnya,” imbuhnya. Menebak dari pertanyaan Diora bahwa sedang mengalami permasalahan itu.


Jika kau anak sultan, mungkin saja aku akan meminta bantuanmu. Tapi kau sama saja denganku. Mana mungkin aku membebanimu. Gumam Diora dalam hati.


...........


“Aku sedang malas keluar,” tolak Diora sembari memasukkan bumbu ke dalam penggorengan.


“Ayolah ... apa kau tidak bosan di rukomu terus?” bujuk Gabby merengek seperti anak kecil.


“Aku sedang menghemat uangku,” elak Diora. Mematikan kompor dan menata pasta spesial buatannya di piring cantik.

__ADS_1


“Memangnya jalan-jalan harus mengeluarkan uang?” timpal Gabby mencoba membujuk Diora.


“Tentu saja, pasti akan mengeluarkan uang untuk membeli makanan jika lapar setelah berjalan,” seloroh Diora, meletakkan dua piring untuk sarapan mereka. “Makan dulu,” ajaknya memberikan sendok dan garpu kepada Gabby.


“Ayolah ... temani aku, aku sangat ingin jalan-jalan. Aku akan mentraktirmu, tenang saja,” rayu Gabby. “Aku baru saja mendapatkan uang yang lumayan banyak, jadi aku ingin membagi kebahagiaan dengan mengajakmu berjalan-jalan,” imbuhnya sembari menyantap spagetti dengan saus barbeque. “Sudah lama aku tak memakan masakanmu, ternyata masih enak seperti dulu,” pujinya memberi acungan dua jempol.


“Baiklah.” Diora menyetujui lalu menyantap sarapannya dengan suka cita. “Memangnya siapa yang memberimu uang?” tanyanya penasaran.


“Seseorang yang sangat dermawan,” seloroh Gabby memberikan sedikit senyumannya.


...........


Diora dan Gabby kini berada di sebuah mall. Mall yang sama saat bertemu dengan Eliana dan teman-temannya. Meskipun Diora sedikit menolak awalnya untuk ke mall yang terkenal dengan barang-barang branded, namun dengan rengekan dan rayuan Gabby akhirnya mau juga.


“Bukankah itu Danzel? Apa kau sengaja mengajakku ke sini untuk menemukanku dengannya?” Diora bukannya tak ingin bertemu dengan mantan kekasihnya itu, tapi dia sengaja menghindar untuk menata hatinya yang kecewa.

__ADS_1


__ADS_2